Konten dari Pengguna

Vlog dan Youtube, Budaya Favorit Khalayak di Era Industri 4.0

Maulidya Putri Aji

Maulidya Putri Aji

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulidya Putri Aji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yotube sebagai media sosial terbesar kedua setelah facebook.
zoom-in-whitePerbesar
Yotube sebagai media sosial terbesar kedua setelah facebook.

Maka hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar perkembangan teknologi dan komunikasi ada pada Youtube. Tak salah karena menonton youtube menjadi salah satu aktivitas andalan seseorang untuk mengisi waktu luangnya atau sekedar untuk hiburan semata. Pernyataan ini bisa menyimpulkan bahwa menonton Youtube sudah menjadi budaya terbaru, budaya populer di era industri 4.0 ini.

Merujuk pada pengertian budaya popoler oleh Raymond Williams, Ia berkata bahwa budaya populer adalah cara hidup tertentu atau lifestyle sekelompok orang pada periode tertentu. Maka menonton Youtube dapat dikatakan sebagai budaya populer karena hal ini dilakukan oleh mayoritas orang di era industri 4.0 yang kental akan kecanggihan teknologi dan internetnya.

Hampir seluruh masyarakat pengguna media sosial pastinya pernah menggunakan Youtube, entah hanya sebagai penonton atau sebagai yang ditonton. Hal ini bisa dibedah dengan istilah kajian khalayak. Khalayak dalam kajian media terbagi menjadi dua, yaitu khalayak pasif dan aktif.

Khalayak pasif yaitu khalayak yang hanya berdiam menerima atau mengkonsumsi media yang ada. Dan pada istilah Youtube bisa disebut viewer. Ia yang hanya bereaksi dari apa yang ia lihat dan dengar melalui Youtube tersebut. Sedangkan, khalayak aktif menurut Hadi adalah sekelompok orang yang terbentuk atas atas isu tertentu dan aktif mengambil bagian dalam diskusi atas isu–isu terkemuka (Hadi, 2008:2). Hal ini bisa kita ambil bahwa khalayak aktif dalam Youtube adalah creator.

Aktivitas menonton dan ditonton pada Youtube ini merupakan sebuah aktivitas komunikasi. Dimana jika kita memandang pendapat Wilbur Schramm, pada aktivitas ini terdapat interaksi decoding dan encoding. Dimana para creator memberikan pesan dan viewer menangkap pesan sesuai latar belakang atau frame of reference masing-masing. Yang akhirnya menimbulkan feedback yang berbeda-beda sesuai pribadi masing-masing yang biasa kita sebut comment. Maka dari sinilah bisa difahami bahwa pastinya komentar khalayak akan meberikan banyak macam warna, terkadang ada yang positif maupun negatif sesuai pandangan masing-masing.

Bukan hanya creator sebagai khalayak aktif dan viewer sebagai khalayak pasif, kajian khalayak pula bisa diterapkan pada viewer atau masyarakat media sosial nya. Dimana pastinya terdapat khalayak atau warganet yang aktif dan juga pasif. Dimana khalayak pasif adalah warganet yang hanya benar-benar menikmati sajian Youtube. Ia yang hanya menonton sebagai hiburan. Sama sekali tidak terlibat pada video, tidak menyatu dengan video yang ia tonton, sehingga tidak ada timbal balik atau pesan yang dapat diterapkan dalam kehidupan.

Sedangkan menurut buku Teori Komunikasi, khalayak aktif adalah ia yang menggunakan teori uses and gratification. Dimana khalayak memperhatikan uses atau penggunaan dari Youtube tersebut demi pemenuhan atau gratification kebutuhan pribadinya. Ia yang aktif adalah yang memiliki tujuan yang beragam setiap kali menonton Youtube, ia yang memperhatikan setiap konten yang disuguhkan, kemudian memilih konten yang sesuai dengan tujuannya pada saat itu.

Disamping secara garis besar menonton youtube sebagai budaya populer, vlogging atau nge-vlog adalah salah satu aktivitas yang paling mempengaruhi naiknya Youtube di era 4.0 ini.

Sejak tahun 2000 kegiatan vlogging ini sudah ada, akan tetapi belum naik seperti akhir-akhir ini. Semuanya berkembang sekitar setelah tahun 2014 dimana tahun pusat kenaikan presentase Youtube ini.

Vlog yaitu aktivitas penyampaian blog melalui video. Isinya bisa dengan opini, kegiatan sehari-hari, ataupun cerita-cerita sebuah kejadian. Aktivitas vlog ini tentunya memiliki ideologi tersendiri sehingga bisa menguatkan Youtube sebagai budaya populer. Ideologi yang digunakan adalah ideologi narsisme, yaitu rasa kebanggaan berlebihan serta orientasi berlebih terhadap apa yang dimiliki seseorang. (Vankin, 2007)

Di era digital ini, tentunya aktivitas vlog ini memang sangat cocok denag atmosfir keadaan yang ada. Para warganet cenderung hidup di dunia maya, berlomba-lomba memperlihatkan bagaimana hidupnya, salah satunya dengan vlog ini. Bukan hanya media resmi yang kontribusi pada era digital ini, malahan dengan sifat media yang sangat terbuka seperti saat ini, siapapun bisa menjadi creator pemaju media digital.

Namun, seperti yang sudah disinggung diatas, dengan keterbukaan digital ini maka akan semakin berbagai macam khalayak yang merespon, dan bisa membangun karakter budaya populer seperti yang dikatakan oleh para grup feminis. Mereka yang mengatakan budaya populer ini bisa menjadi sebuah kenikmatan dan juga kejahatan.

Kegiatan vlog sebagai budaya populer dapat dikatan kenikmatan ketika seseorang dapat menjadi khalayak yang aktif yang mengetahui tujuan penggunanya maupun yang terlibat dengan aktif dalam konten tersebut. Sebaliknya, vlog ini dapat pula menjadi kejahatan karena setiap orang berlomba-lomba untuk terlihat di dunia maya, sampai banyak kejadian yang merelakan segalanya hanya karena kegengsian dalam dunia maya. Dan respon khalayak untuk kegiatan ini pastinya semua tergantung dari latar belakang masing-masing sesuai tujuannya menggunakan media.

Maka dengan kita mengetahui Youtube dan vlog ini sebagai budaya populer, juga posisi khalayaknya dalam interaksi komunikasi, maka kita seharusnya lebih memahami bagaimana seharusnya menjadi warganet dan khalayak yang baik di era digital ini. Menjadikan budaya populer ini sebagai suatu hal yang positif bukan suatu yang negatif.