Konten dari Pengguna

Pengembangan Bahasa Isyarat untuk Berkomunikasi dengan Tunarungu

Maullina Saharani

Maullina Saharani

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maullina Saharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa Isyarat dengan Kode Tangan

Bagi orang-orang penyandang disabilitas (tunarungu) bahasa isyarat merupakan salah satu bahasa utama dan bentuk komunikasi paling penting bagi mereka. Namun, tidak semua orang mengerti penggunaan bahasa isyarat, dan tidak semua lingkungan menyediakan aksesibilitas bagi orang dengan disabilitas pendengara. Untuk mempermudah dalam berkomunikasi dan mengenal bahasa isyarat khususnya Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) diperlukan deteksi terhadap kode tangan dalam bahasa isyarat. Dalam mengenali objek tangan, penting bagi kita mendeteksi konfigurasi bentuk tangan mencerminkan huruf alphabet pada Bisindo. Maka dari itu proses klasifikasi objek kode tangan merupakan proses paling penting pengenalan bahasa isyarat.

https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=BISINDO&btnG=#d=gs_qabs&t=1745941382253&u=%23p%3Dv280BaiitfgJ

https://i.pinimg.com/736x/05/76/af/0576af7ac58a9b7fa3f25241fe933237.jpg

Terjemahan otomatis bentuk tangan menjadi karakter abjad A-Z dapat dilakukan dengan bantuan teknologi informasi. Bahasa isyarat melibatkan penggunaan bagian atas tubuh seperti gerakan tangan, ekspresi, membaca pergerakan bibir, anggukkan kepala, dan postur tubuh untuk menyebarkan informasi. Dengan metode machine learning kita dapat mengembangkan model sistem bahasa isyarat yang memastikan teknologi pengenalan gerakan dapat mendeteksi gerakan tubuh dan tangan secara akurat dan cepat. Kita perlu melakukan beberapa metode pengembangan sistem bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan penyandang disabilitas, yaitu:

  1. Melakukan studi kebutuhan pengguna untuk memahami kebutuhan dan keinginan pengguna sistem bahasa isyarat. Hal ini dapat dilakukan melalui survei atau wawancara langsung dengan pengguna.

  2. Menggunakan analisis bahasa isyarat dengan bahasa tubuh dan ekspresi wajah untuk membantu dalam membangun sistem bahasa isyarat yang efektif dan mudah dimengerti.

  3. Merancang algoritma yang dapat mengonversi bahasa lisan atau tulisan menjadi bahsa isyarat yang dipahami oleh pengguna.

  4. Menguji dan mengevaluasi sistem bahasa isyarat yang telah dikembangkan dengan melibatkan pengguna dan mengumpulkan umpan balik untuk meningkatkan kualitas sistem.

  5. Mengintegrasikan sistem bahasa isyarat dengan teknologi yang sudah ada.

  6. Memberikan pelatihan dan edukasi kepada pengguna dan masyarakat umum mengenai penggunaan sistem bahasa isyarat yang telah dikembangkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat dan pentingnya dari sistem bahasa isyarat.

  7. Pengembangan sistem bahasa isyarat yang dapat digunakan di berbagai wilayah dan budaya dengan mengembangkan kamus bahasa isyarat yang lengkap dan memperkuat kolaborasi organisasi dan kelompok masyarakat seluruh dunia.

https://jits.unmuhbabel.ac.id/index.php/jits/article/view/21/8

Artificial Intelligence (AI)

Artifical Intelligence atau biasa disebut AI merupakan salah satu bidang ilmu komputer yang mempelajari kecerdasan buatan, AI telah membuka jalur bagi penyandang disabilitas. Salah satu contoh penggunaan AI adalah pengenalan gambar atau objek. Teknologi pengenalan gambar dapat digunakan untuk mengenali gerakan tangan dan dapat mengartikulasikan bahasa isyarat yang sesuai.

Bahasa isyarat memiliki variasi yang signifikan antar negara, bahkan dalam satu negara bisa terdapat dialek atau variasi regional. Oleh karena itu, pengembangan sistem ini memerlukan data yang bervariasi dan representatif guna meningkatkan akurasi pengenalan gerakan. Pendekatan kolaboratif dengan melibatkan komunitas tunarungu akan memastikan bahwa sistem tersebut benar-benar relevan, mudah digunakan, dan memenuhi kebutuhan pengguna. Sistem ini melibatkan pengenalan bahasa isyarat, baik melalui kamera atau pun sensor gerakan yang mampu mendeteksi gerakan tangan dan tubuh. Dengan menggunakan teknologi pengenalan citra atau pengenalan pola, sistem dapat mengidentifikasi gerakan tangan dan menerjemahkannya menjadi teks atau suara yang dapat dimengerti oleh individu yang tidak dapat berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Sistem ini dilengkapi dengan antarmuka pengguna yang intuitif dan mudah digunakan. Antarmuka ini dapat berupa aplikasi ponsel atau perangkat khusus yang memungkinkan pengguna memilih kata-kata atau frasa dari daftar yang disediakan. Pengguna dapat mengirim pesan teks atau suara untuk berkomunikasi dengan orang lain. Melalui algoritma yang terus diperbarui dan dilatih dengan data bahasa isyarat yang lebih banyak dapat meningkatkan akurasi pengenalan gerakan dan memahami bahasa isyarat yang lebih kompleks.

Kesimpulan

Pada sistem pengembangan bahasa isyarat dapat memberikan manfaat yang signifikan dalam meningkatkan aksesibilitas komunikasi dan kemandirian individu tunarungu. Dengan penggunaan teknologi pengenalan gerakan dapat membantu menerjemahkan bahasa isyarat menjadi teks maupun suara yang memungkinkan komunikasi lebih efektif antar individu tunarungu dengan orang-orang di sekitarnya.

https://jits.unmuhbabel.ac.id/index.php/jits/article/view/21/8