Konten dari Pengguna

Menyongsong 2024: Ekonomi China dalam Fokus

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maura Paska tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Keadaan Negara China (Pexels.com/Jason Hu)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Keadaan Negara China (Pexels.com/Jason Hu)

Memasuki tahun 2024, China tengah menghadapi tantangan ekonomi yang kompleks dengan pertumbuhan yang melambat dan sektor properti yang terguncang. Laporan terbaru dari Biro Statistik Nasional China menunjukkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% pada tahun 2023, angka yang meski memenuhi target pemerintah, masih menyimpan kekhawatiran mendalam tentang fundamental ekonomi negara tersebut.

Krisis Properti yang Berkelanjutan

Sektor properti China yang menyumbang sekitar 25-305 dari pDB negara tersebut, masih belum pulih dari pukulan telak kasus Evergrande Group. Pengembang properti raksasa ini mencatatkan utang lebih dari USD 300 miliar, memicu gelombang kepanikan di pasar properti China. Data dari China Real Estate Information Corp menunjukkan penjualan properti di 100 kota besar China mengalami penurunan 29,4% pada kuartal keempat 2023 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Langkah Stimulus Pemerintah

Menghadapi tekanan ekonomi ini, pemerintah China telah mengambil sejumlah langkah agresif. Bank Rakyat China (PBOC) telah memangkas suku bunga pinjaman acuan (LPR) 1 tahun sebesar 10 basis poin menjadi 3,45% pada Desember 2023. Rasio Cadangan Wajib (RRR) bank juga dipotong sebesar 50 basis poin, membebaskan sekitar 1 triliun yuan (USD 139 miliar) untuk pinjaman.

Dampak pada Pasar Tenaga Kerja

Tingkat pengangguran kaum muda di China mencapai rekor tertinggi 21,3% pada Juni 2023, mendorong pemerintah menghentikan publikasi data tersebut. Survei independen dari Zhaopin, platform pencarian kerja terkemuka China, mengungkapkan bahwa rata-rata gaji yang ditawarkan untuk lulusan baru turun 6,3% pada 2023 dibandingkan tahun sebelumnya.

Ancaman Deflasi

China menghadapi risiko deflasi yang signifikan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatat deflasi 0,3% pada November 2023, penurunan terbesar sejak Februari 2023. Fenomena ini mencerminkan lemahnya permintaan konsumen domestik dan kepercayaan bisnis yang rendah.

Prospek ke Depan

Meski menghadapi berbagai tantangan, beberapa indikator menunjukkan tanda-tanda positif. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur China naik ke 49,7 pada Desember 2023, menunjukkan perbaikan meski masih di bawah ambang ekspansi 50. Para ekonom dari lembaga seperti World Bank dan IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China akan berada di kisaran 4,5-4,8% pada 2024, lebih rendah dari target pemerintah yang diperkirakan sekitar 5%.

Tantangan ekonomi yang dihadapi China bukan hanya masalah jangka pendek, tetapi memerlukan reformasi struktural yang mendalam. Keberhasilan transisi ekonomi China dari model berbasis investasi properti ke pertumbuhan yang lebih berkelanjutan akan sangat mempengaruhi tidak hanya masa depan ekonomi domestik, tetapi juga ekonomi global mengingat peran China sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia.

Maura Paska Proborini

Mahasiswi Ekonomi, Universitas Sanata Dharma