Konten dari Pengguna

Realitas Tuhan dan Karma Bekerja Sesuai Cetak Biru Pikiran

Maximillian Kenas Tarmidi

Maximillian Kenas Tarmidi

A Noble Polymath. Seorang Polimatik Mulia. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maximillian Kenas Tarmidi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda memandang gedung pencakar langit di Jakarta dan bertanya dari mana asalnya? Secara fisik ia terbuat dari beton baja dan kaca. Namun jauh sebelum semen diaduk atau paku dipukul gedung itu sudah ada dalam bentuk lain yaitu sebuah pikiran.

Seorang arsitek membayangkan bentuknya dalam imajinasi. Seorang desainer interior memvisualisasikan kenyamanan ruangannya sebelum ada dinding yang berdiri. Mereka menuangkan imajinasi itu ke dalam cetak biru atau blueprint lalu menyerahkannya kepada kontraktor. Kontraktor kemudian bekerja mengubah yang tidak terlihat menjadi terlihat dan mengubah ide menjadi realitas fisik.

Tanpa cetak biru kontraktor tidak akan membangun apa pun. Tanpa imajinasi arsitek kota ini hanyalah tumpukan material yang kacau.

Sekarang izinkan saya mengajukan sebuah pandangan tentang spiritualitas. Hukum Karma dan cara kerja Tuhan bisa jadi beroperasi dengan mekanisme yang sama persis.

Sebagai seorang pemikir yang gemar mengamati struktur bahasa maupun realitas saya melihat pola yang menarik. Kita sering menganggap Karma sebagai hukuman dari luar atau Tuhan sebagai hakim yang jauh. Namun sebenarnya mereka dapat dilihat sebagai Kontraktor Agung yang menunggu cetak biru dari kita.

Cetak Biru Mental Menentukan Realitas

Banyak orang berpikir bahwa Sir Isaac Newton menciptakan gravitasi padahal Newton hanya menemukan hukum yang menjelaskan fenomena tersebut. Namun dalam konteks spiritualitas dan psikologi situasinya mungkin terbalik.

Mari kita gunakan logika arsitek tadi.

Bayangkan alam semesta ini adalah kontraktor bangunan yang sangat patuh namun pasif. Ia memiliki segala sumber daya untuk membangun kebahagiaan atau penderitaan tetapi ia membutuhkan instruksi. Instruksi itu adalah Keyakinan Anda.

Jika Anda memegang teguh keyakinan bahwa siapa menabur kebaikan akan menuai kebaikan maka Anda sedang menggambar cetak biru keadilan di benak Anda. Anda fokus padanya dan memikirkannya terus menerus. Sebab Anda memiliki desain tersebut alam semesta mulai menyusun kejadian hidup Anda sesuai dengan desain itu. Anda menjadi lebih peka terhadap peluang baik dan realitas sosial merespons Anda dengan kebaikan.

Sebaliknya jika Anda tidak percaya pada Karma atau jika Anda berpikir dunia ini acak dan jahat maka Anda tidak menyerahkan cetak biru apa pun kepada semesta. Hasilnya hidup Anda menjadi bangunan liar yang berantakan tanpa struktur dan penuh kekacauan.

Roda Semesta yang Berputar Sebab Pikiran Kita

Gagasan ini memiliki akar yang dalam pada filsafat Timur khususnya Buddhisme.

Dalam kitab Dhammapada ayat pertama dibuka dengan pernyataan bahwa pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu. Pikiran adalah pemimpin dan pikiranlah pembentuknya.

Sang Buddha mengajarkan tentang Roda Samsara atau siklus sebab akibat yang terus berputar. Apa yang membuat roda itu berputar bukan mesin raksasa di langit melainkan keinginan dan aktivitas mental kita sendiri.

Sama seperti arsitek yang terus menerus merevisi gambar bangunannya kita terus menerus memproyeksikan keinginan dan ketakutan kita ke alam semesta. Selama kita terus berpikir dan menginginkan maka roda itu terus berputar dan kontraktor terus membangun.

Ini menjelaskan mengapa Hukum Karma dan keajaiban Tuhan seolah hanya bekerja bagi mereka yang benar-benar percaya. Bukan sebab Tuhan pilih kasih tetapi sebab hanya orang yang percaya yang menyerahkan cetak biru untuk dikerjakan. Bagaimana kontraktor bisa membangun istana untuk Anda jika Anda bahkan tidak percaya bahwa istana itu mungkin ada?

Kesepakatan Kolektif Membangun Realitas

Kritikus mungkin berkata bahwa Tuhan itu objektif dan bukan subjektif.

Mari kita lihat uang sebagai analogi. Uang kertas tidak memiliki nilai intrinsik selain sebagai kertas biasa. Namun kertas itu bisa membeli beras dan membayar rumah sakit sebab kita semua sepakat secara kolektif untuk mempercayai nilainya.

Jika besok seluruh masyarakat berhenti percaya pada nilai mata uang maka uang itu kembali menjadi kertas biasa.

Demikian pula dengan hukum moral atau karma. Ia menjadi hukum yang kuat sebab kita sebagai masyarakat menyepakati keberadaannya. Kita membangun kota keyakinan di mana aturan mainnya adalah kebaikan dibalas kebaikan. Keyakinan kolektif inilah yang menjaga struktur moral alam semesta tetap tegak.

Ilustrasi pikiran adalah pelopor. Dok: AI

Dalam tulisan saya sebelumnya tentang manfaat belajar bahasa asing saya membahas bagaimana mempelajari bahasa baru membentuk struktur otak kita. Kali ini saya mengajak Anda melihat bahwa keyakinan membentuk struktur realitas kita.

Tuhan dan Karma bukanlah penjara yang mengurung kita melainkan sistem yang responsif terhadap input kita.

Jika hidup Anda terasa seperti bangunan yang mau roboh jangan marahi kontraktornya. Jangan menyalahkan Tuhan atau nasib tetapi periksalah meja gambar di dalam pikiran Anda.

Gambar apa yang sedang Anda buat di sana? Apakah itu gambar ketakutan atau gambar harapan? Sebab suka atau tidak alam semesta sedang bersiap meletakkan batu bata sesuai dengan gambar yang Anda pegang saat ini.