Kemampuan Berkomunikasi Sebagai Investasi Karier Generasi Muda
Tulisan dari Maya Syafitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kemampuan Berkomunikasi Sebagai Investasi Karier Generasi Muda
Dulu saya percaya bahwa menguasai materi sudah cukup untuk tampil baik di depan orang banyak. Keyakinan itu goyah saat saya berkesempatan menyampaikan materi dalam kegiatan PKM. Saya sudah menyiapkan isinya, tetapi karena gugup, saya berbicara terburu-buru dari awal sampai akhir.
Setelah selesai, saya sadar ada yang kurang. Materi yang sudah disiapkan dengan baik bisa kehilangan maknanya kalau disampaikan dengan tergesa-gesa.
[Maya Syafitri] saat menyampaikan materi dalam kegiatan PKM. Sumber foto: dokumentasi pribadi.
ANGKA YANG PERLU KITA WASPADAI
Sekarang saya di semester 7 dan sebentar lagi masuk dunia kerja. Data yang saya temukan membuat pengalaman itu terasa lebih serius. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengangguran usia 15 sampai 24 tahun mencapai 16,36 persen pada Februari 2026, tertinggi dibanding kelompok usia lain. Pada Mei 2026, ada sekitar 1,03 juta lulusan D4 sampai S3 yang menganggur, atau 14,31 persen dari seluruh penganggur. Porsinya naik dari 12,37 persen pada November 2025. Artinya, gelar saja belum cukup.
APA YANG DICARI PERUSAHAAN?
Survei Job Outlook 2026 dari National Association of Colleges and Employers (NACE) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa perekrut mencari lulusan baru dengan kemampuan kerja sama tim, pemecahan masalah, dan komunikasi. Sebanyak 70 persen perusahaan responden kini memakai skills-based hiring, naik dari 65 persen tahun sebelumnya. NACE juga menemukan bahwa perekrut kurang puas dengan kemampuan komunikasi lulusan baru. Perusahaan ingin melihat contoh nyata, bukan sekadar daftar keahlian di CV. Di sinilah public speaking berperan, karena kemampuan bercerita dengan jelas mengubah klaim di CV menjadi bukti.
Laporan World Economic Forum 2025 memperkuat hal ini. Sebanyak 61 persen perusahaan menilai kepemimpinan dan pengaruh sosial sebagai keterampilan inti, naik 22 poin persentase dari laporan 2023. Kedua survei ini memang berskala global dan Amerika Serikat, tetapi arah trennya jelas.
Di era kecerdasan buatan, hal ini justru makin penting. NACE melaporkan bahwa kemampuan memakai AI makin menjadi ekspektasi bagi lulusan baru, tetapi komunikasi tetap termasuk kemampuan inti yang dicari. Kalau semua orang memakai alat yang sama, yang membedakan adalah siapa yang mampu menjelaskan dan meyakinkan.
MENGAPA KOMUNIKASI DISEBUT INVESTASI?
Menurut saya, kemampuan berkomunikasi pantas disebut investasi. Ia butuh modal berupa waktu dan keberanian untuk canggung di depan orang. Hasilnya tidak instan, tetapi terus bertumbuh seperti bunga majemuk setiap kali kita berlatih.
Pengalaman di PKM mengajarkan saya satu hal. Menguasai materi belum tentu cukup, karena cara menyampaikannya ikut menentukan apakah pesan kita sampai. Sebagai mahasiswa keuangan, saya belajar menghitung nilai sekarang dan menganalisis rasio. Namun analisis sebagus apa pun tidak berguna kalau gagal dijelaskan kepada atasan atau klien yang bukan orang keuangan. Orang yang bisa mengubah angka menjadi cerita yang jelas biasanya lebih dipercaya.
MULAI DARI HAL SEDERHANA
Caranya tidak harus rumit. Manfaatkan presentasi dan diskusi kelas sebagai latihan gratis, dan latih mengatur tempo bicara supaya tidak terburu-buru seperti yang pernah saya alami. Biasakan menulis, karena data NACE edisi 2025 menunjukkan komunikasi tertulis dicari 77,1 persen perusahaan dan komunikasi lisan 69,3 persen.
Lalu coba jelaskan konsep keuangan kepada teman beda jurusan. Kalau mereka paham, berarti kita benar-benar menguasainya. Rasa gugup memang tidak hilang begitu saja. Bedanya, sekarang saya menganggapnya sebagai biaya awal sebuah investasi.
Jadi mulailah dari sekarang. Semakin awal kita berinvestasi, semakin besar hasilnya.
SUMBER DATA: Badan Pusat Statistik, Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2026 (rilis 5 Mei 2026) dan Sakernas Mei 2026 (rilis 5 Agustus 2026). National Association of Colleges and Employers, Job Outlook 2025 dan Job Outlook 2026 beserta Spring Update. World Economic Forum, The Future of Jobs Report 2025.

