Mahasiswa KKN UIN Walisongo Pantau Pembangunan Talud Desa Rowoboni Cegah Longsor
Tulisan dari Maya Yuhanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyubiru – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 39 dari UIN Walisongo Semarang bersama perangkat Desa Rowoboni melakukan observasi lapangan di Dusun Sentul, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, pada akhir Juli 2025. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan pembangunan talud penahan tanah yang rampung tahun ini sudah sesuai perencanaan dan siap menjalankan fungsinya mencegah risiko longsor.
Talud yang dibangun memiliki volume panjang 13,5 meter, lebar 0,6 meter, dan tinggi 3,5 meter. Pekerjaan ini merupakan bagian dari kegiatan pembangunan/rehabilitasi talud/sender jalan yang diusulkan pemerintah desa pada 2024 dan direalisasikan pada 2025. Proyek senilai Rp50 juta ini dibiayai dari Bantuan Keuangan Provinsi Jawa Tengah 2025 dan dilaksanakan oleh Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Rowoboni. Perangkat Desa Rowoboni, Suryo Suseno, menjelaskan bahwa pembangunan talud ini bukan merupakan penanganan darurat, melainkan langkah antisipatif.
“Lokasi ini belum mengenai rumah warga, jadi sifatnya pencegahan. Kalau sudah mengancam atau merusak rumah, barulah masuk kategori darurat dan harus segera ditangani dengan dana darurat desa,” jelasnya.
Menurut Suryo Suseno, talud ini dibangun di titik yang rawan pergeseran tanah, terutama saat musim hujan. Lereng di Dusun Sentul memiliki kemiringan yang cukup curam sehingga rawan longsor bila tidak diperkuat. “Dengan adanya talud ini, tanah menjadi lebih stabil, akses jalan lebih aman, dan lahan warga di sekitar terjaga,” imbuhnya.
Warga sekitar mengaku senang dengan rampungnya talud tersebut. Menurut mereka, pembangunan ini membuat lingkungan menjadi lebih aman dan mengurangi kekhawatiran saat hujan deras. “Sebelum ada talud, kalau hujan lebat tanah sering longsor sedikit demi sedikit. Sekarang sudah kelihatan lebih kuat dan rapi,” kata seorang warga Dusun Sentul. Warga lain menambahkan bahwa kehadiran mahasiswa KKN juga memberi manfaat. “Anak-anak KKN ikut lihat, foto-foto, tanya-tanya soal pembangunan. Jadi orang desa juga merasa diperhatikan,” ujarnya.
Salah satu mahasiswa KKN Posko 39 UIN Walisongo, menyebut kegiatan observasi ini sebagai bagian dari pembelajaran lapangan yang berharga. “Kami jadi tahu langsung bagaimana desa mengelola anggaran untuk pembangunan infrastruktur, sekaligus melihat hasilnya di lapangan,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan juga oleh salah satu mahasiswa KKN. Menurutnya, talud ini bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga bentuk kepedulian desa terhadap keselamatan warganya. “Kalau kita lihat, pengerjaannya rapi dan lokasinya memang strategis untuk mencegah longsor. Ini langkah yang bagus,” katanya.
Pembangunan talud di Dusun Sentul berawal dari usulan pemerintah desa pada 2024. Setelah melalui proses verifikasi, pemerintah provinsi menyetujui bantuan keuangan untuk merealisasikannya pada 2025. Proses pembangunan dilakukan dengan melibatkan TPK Desa Rowoboni dan warga sekitar. Partisipasi warga ini dinilai penting agar mereka memiliki rasa memiliki dan menjaga keberlangsungan talud di masa mendatang. “Kalau warga ikut terlibat, mereka akan lebih peduli merawatnya. Apalagi talud ini manfaatnya langsung dirasakan,” kata Suryo. Talud penahan tanah seperti ini menjadi salah satu upaya penting dalam membangun ketahanan desa terhadap bencana alam. Selain mencegah longsor, keberadaan talud juga menjaga kualitas jalan desa agar tetap aman dilalui kendaraan dan pejalan kaki.
Kawasan Banyubiru sendiri dikenal memiliki banyak area berbukit dengan struktur tanah yang labil. Karena itu, pembangunan infrastruktur seperti talud menjadi prioritas untuk mengurangi risiko kerusakan akibat hujan deras atau erosi. Warga Dusun Sentul berharap pembangunan infrastruktur seperti ini terus dilakukan di titik-titik rawan longsor lainnya. Mereka juga berharap pemerintah desa dan provinsi dapat mengalokasikan anggaran secara rutin untuk perbaikan maupun rehabilitasi talud yang sudah ada.
Mahasiswa KKN Posko 39 pun mengaku akan menyampaikan hasil observasi mereka sebagai bagian dari laporan program kerja. “Kami ingin dokumentasi ini bisa menjadi referensi untuk desa maupun pihak lain yang membutuhkan,” ujar Maya. Dengan rampungnya pembangunan talud ini, Dusun Sentul diharapkan memiliki perlindungan lebih baik dari risiko bencana, sekaligus menjadi contoh bagaimana perencanaan, kerja sama, dan penggunaan anggaran yang tepat dapat menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

