Bukan Sekadar Scroll: Gen Z dan Kesadaran Politik di Media Sosial

Mahasiswi Ilmu Komunukasi, Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Maya Cristy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial saat ini bukan hanya tempat untuk mencari hiburan. Bagi Gen Z, berbagai informasi sosial dan politik juga semakin mudah ditemukan melalui TikTok, Instagram, YouTube, hingga X. Bahkan, isu politik bisa muncul di FYP ketika seseorang sebenarnya hanya sedang mencari konten hiburan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa cara Gen Z mengenal politik telah berubah. Politik tidak lagi hanya dibicarakan melalui televisi, surat kabar, atau forum formal, tetapi juga hadir dalam bentuk video pendek, infografis, komentar, dan konten viral.
Berdasarkan Sensus penduduk 2020, Gen Z berjumlah sekitar 74,93 juta jiwa atau 27,94 persen dari penduduk Indonesia.
Politik yang Muncul di FYP
Media sosial membuat informasi terasa lebih dekat. Sebuah pernyataan pejabat, kebijakan pemerintah, atau isu sosial dapat menjadi pembicaraan hanya dalam waktu singkat.
Survei Katadata Insight Center (KIC) pada 2023 terhadap anak muda berusia 17-42 tahun menunjukkan bahwa 80,4 persen responden memperoleh informasi mengenai dinamika politik dari akun media sosial berita daring. Sebanyak 17,4 persen juga menyukai konten politik dalam bentuk video pendek.
Sementara itu, APJII mencatat jumlah internet Indonesia pada 2024 mencapai 221,56 juta orang. Gen Z menjadi kelompok usia dengan kontribusi internet terbesar, yaitu 34,40 persen.
Namun, sering melihat konten politik bukan berarti memahami politik.
Dari Scroll Menjadi Memahami
Video pendek memang membuat informasi mudah diterima, tetapi informasi yang singkat juga bisa kehilangan konteks. Potongan pertanyaan seorang tokoh, misalnya, dapat terlihat berbeda ketika bagian sebelum atau sesudahnya tidak ditampilkan.
Karena itu, Gen Z perlu membiasakan diri untuk tidak langsung percaya hanya karena satu informasi viral. Sebelum membagikan sebuah konten, penting untuk melihat sumbernya, mengecek tanggal informasi, memahami konteks, dan membandingkannya dengan sumber lain.
Hal ini semakin penting karena setiap pengguna memiliki pengalaman FYP yang berbeda. Algoritma media sosial dapat menampilkan konten berdasarkan aktivitas dan ketertarikan pengguna. Akibatnya, seseorang lebih sering melihat pandangan yang serupa dengan apa yang sebelumnya ia tonton atau sukai.
FYP akhirnya bukan gambaran keseluruhan realitas, melainkan hasil dari bagaimana seseorang berinteraksi dengan platform.
Gen Z Bukan Sekadar Penonton
Di sisi lain, media sosial memberikan ruang bagi Gen Z untuk ikut menyampaikan pendapat. Mereka berkomentar, membuat konten, membagikan informasi, maupun ikut membagikan isu publik.
Artinya, partisipapasi publik anak muda tidak selalu harus dilakukan melalui ruang formal. Aktivitas di ruang digital juga dapat menjadi bagian dari keterlibatan dalam kehidupan politik.
Tapi, viralnya sebuah isu tidak selalu menunjukkan bahwa masyarakat telah memahami persoalan tersebut. Jumlah tayangan dan komentar tidak otomatis menunjukkan kedalaman pemahaman.
Karena itu, menjadi aktif di media sosial harus diimbangi dengan sikap kritis. Gen Z tidak harus mengetahui semua isu politik, tetapi dapat memulai dengan kebiasaan sederhana: mencari sumber, memeriksa informasi, dan tidak terburu-buru menyebarkan suatu isu yang belum jelas.
Pada akhirnya, menjadi Gen Z melek politik tidak hanya tentang seberapa banyak isu yang muncul di FYP. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah melihatnya.
Scroll boleh. Ikut berdiskusi juga boleh. Tetapi sebelum ikut menyebarkan atau mempercayai sebuah informasi, ada baiknya berhenti sebentar dan bertanya: informasi ini benar, konteksnya apa, dan sumbernya darimana?
Karena, di tengah derasnya informasi digital, kesadaran politik bukan hanya ikut bersuara, tetapi juga memahami sebelum berbicara.
