Konten dari Pengguna

Iran vs Israel-USA: Ancaman baru bagi negara Afrika? Konflik Iran vs Israel

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mayda Arianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Negara-negara di kawasan Afrika rentan untuk mengalami krisis pangan. Sumber: GettyImages
zoom-in-whitePerbesar
Negara-negara di kawasan Afrika rentan untuk mengalami krisis pangan. Sumber: GettyImages

Konflik Iran vs Israel-AS yang terjadi sejak 28 Februari 2026 telah menjadi sorotan publik karena dampak yang ditumbulkan cukup mengkhawatirkan banyak negara, termasuk negara-negara di kawasan Afrika. Serangan-serangan yang lakukan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran, juga serangan balik dari Iran, berpotensi memicu efek domino terhadap stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan di berbagai wilayah dunia.

Keadaan semakin memburuk ketika Iran maupun Israel dan Amerika menargetkan infrastruktur energi, termasuk ladang gas dan jalur distribusi minyak sebagai startegi perang. Misalnya penutupan selat Hormuz yang merupakan bentuk balasan Iran akibat serangan yang diberikan oleh Israel dan Amerika Serikat. Dampaknya, rantai pasokan minyak internasional terganggu sehingga di beberapa negara harga minyak melambung tinggi.

Ancaman Krisis Pangan di Afrika

Konflik ini mulai terasa nyata bagi Afrika melalui jalur krisis pangan yang dipengaruhi oleh terganggunya distribusi pupuk global. Menurut United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), sekitar 1,33 juta ton pupuk diekspor setiap bulan melalui Selat Hormuz. Selat Hormuz yang di tutup oleh Iran memicu kelangkaan pupuk yang ada di Afrika sehingga harga berpotensi menurunkan hasil panen komoditas penting seperti jagung, gandum, dan padi.

Meskipun saat ini selat Hormuz kembali dibuka untuk pelayaran internasional, kecuali kapal Amerika dan Israel serta aliansinya, tetapi, harga pupuk sudah naik sejak perang Iran vs Israel-AS terjadi sebulan lalu. Bagi Afrika, kenaikan ini amat sangat serius karena tingginya ketergantungan pada impor pupuk. Tinggi harga pupuk berpengaruh terhadap keputusan petani.

Selat Hormuz jadi jalur perdagangan internasional karena ketaknya yang startegis. Sumber: Gettyimages

Joseph Glauber dari International Food Policy Research Institute menjelaskan bahwa petani cenderung beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit pupuk atau bahkan mengurangi penggunaan pupuk secara keseluruhan untuk menekan biaya. Dalam konteks Afrika yang sejak awal memiliki tingkat penggunaan pupuk rendah, kondisi ini berpotensi menurunkan produktivitas pertanian secara signifikan.

Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan kapasitas produksi dari negara-negara produsen pupuk lain seperti Rusia, China, Amerika Serikat, dan Maroko. Produksi tambahan sulit dilakukan dalam waktu singkat, sementara biaya produksi, terutama untuk pupuk berbasis nitrogen, sangat dipengaruhi oleh harga gas alam yang tinggi. Akibatnya, negara-negara Afrika yang bergantung pada impor akan menghadapi tekanan ganda: keterbatasan pasokan dan lonjakan harga, yang pada akhirnya meningkatkan risiko krisis pangan dan kelaparan.

Penurunan produksi pangan ini yang memicu kenaikan harga bahan makanan di tingkat domestik. Masyarakat yang daya belinya terbatas, kenaikan harga bahan makan semakin meningkatkan kerawanan dan berisiko memperbanyak jumlah penduduk yang mengalami kelaparan. Situasi ini sangat berisiko, terutama bagi negara-negara yang sudah sejak awal mengalami krisis pangan.

Selain itu, gangguan pada jalur logistik global juga memperburuk kondisi. Distribusi pangan dan bantuan kemanusiaan menjadi lebih lambat dan mahal, sehingga mempersempit akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar. Jika konflik terus berlanjut, Afrika berpotensi menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak oleh krisis pangan global.

Afrika dalam Pusaran Dinamika Geopolitik Baru

Selain sisi ekonomi, konflik ini juga membawa implikasi geopolitik yang signifikan bagi Afrika. Amerika yang berfokus pada Timur Tengah, membuka strategi baru bagi negara kekuatan besar lainnya, seperti China dan Rusia untuk meningkatkan pengaruhnya di kawasan Afrika.

Peningkatan kehadiran kekuatan besar ini dapat terlihat melalui investasi, kerja sama infrastruktur, hingga hubungan militer. Hal ini memberikan peluang besar bagi negara-negara Afrika untuk mendapatkan dukungan pembangunan. Tetapi, ketergantungan terhadap kekuatan eksternal juga dapat mengurangi kemandirian dalam pengambilan kebijakan.

Selain itu, Afrika juga berpotensi menjadi arena persaingan negara-negara kekutan besar. Dalam situasi seperti ini, negara-negara Afrika harus mampu menavigasi kepentingan yang saling bertabrakan agar tidak terjebak dalam konflik kepentingan global. Kemampuan menjaga keseimbangan diplomasi menjadi kunci penting untuk mempertahankan stabilitas kawasan.

Catatan Penulis

Konflik Iran vs Israel-AS bukan hanya konflik regional, tetapi memiliki implikasi global yang luas. Bagi Afrika, ancaman yang muncul memang tidak bersifat militer langsung, namun dampaknya sangat nyata melalui krisis pangan dan dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Dengan tingkat kerentanan yang masih tinggi, negara-negara Afrika menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak secara tidak langsung. Oleh karena itu, konflik ini dapat dilihat sebagai ancaman baru yang serius terhadap stabilitas dan pembangunan Afrika di masa depan.