Orient Shield 26, AS-Jepang-Australia Perkuat Kerjasama Militer di Asia Pasifik
Tulisan dari Mayda Arianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Latihan militer Orient Shield 26 yang melibatkan Amerika Serikat, Jepang, dan Australia telah berakhir di Hokkaido pada 24 September 2026. Latihan ini melibatkan sekitar 3.700 personel dari ketiga negara, ini menjadi salah satu Latihan terbesar dalam sejarah Orient Shield yang kurang lebih satu pekan.
Kegiatan ini tidak hanya melatih bagaimana melakukan pertempuran, tetapi juga menguji bagaimana pasukan mampu berkoordinasi dengan baik, berbagi informasi, serta menjalankan operasi secara Bersama. Hadirnya Australia kedua kalinya menunjukkan perluasan kerja sama pertahanan diriga negara Kawasan Indo-Pasifik.
Latihan Militer dengan Skala yang Semakin Besar
Awalnya Orient Shield adalah latihan Amerika Serikat dan Jepang berlangsung sejak 1980-an. Tetapi, seiring perkembangannya, latihan ini semakin kompleks dan mulai melibatkan Australia sebagai salah satu mitra. Orient Shield 26, ketiga negara menggabungkan latihan lapangan, operasi maneuver, latihan tembak langsung, hingga dukungan logistik.
Yang menjadi perhatian dalam Orient Shield 26 ini adalah pelaksanaan operasi lintas udara, yang mana ini adalah pertama kali dalam sejarah. 260 tentara Amerika Serikat melakukan penerjunan dari lima pesawat Super Hercules Bersama Jepang. Tidak hanya itu, latihan penembakan menggunakan HIMARS dan Multiple Launch Rocket System juga dilakukan oleh pasukan tentara Amerika dan Jepang pada latihan Orient Shield 26 ini.
Dampak bagi Stabilitas Asia Pasifik
Dilihat dari sisi pertahanan, latihan gabungan seperti ini mampu meningkatkan interoperabilitas yang mampu mendorong pasukan dari negara lain untuk mampu bekerja lebih efektif dalam menghadapi situasi keamanan Bersama. Amerika Serikat sendiri penyebut latihan ini sebagai upaya yang dilakukan untuk memperkuat kesiapan dan hubungan pertahanan dengan Jepang sebagai mitra di wilayah Kawasan Asia.
Namun, kerja sama pelatihan ini juga terdapat kontra. Kehadiran Amerika Serikat dan Australia yang bekerjasama dengan Jepang menimbulkan pandangan lain sebagai upaya Jepang meningkatkan penguatan negaranya. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kewaspadaan negara lain, terlebih di tengah tinggi persaingan kekuatan besar di Kawasan.
Dilansir dari Reuters, terdapat respon dari Rusia dengan adanya latihan gabungan ini. Moskow menyampaikan keberatan keberatan dengan adanya latihan gabungan ini yang menyoroti rencana keterlibatan system rudal jarak menengah Amerika Serikat. Rusia menilai bahwasannya aktivitas tersebut dapat menimbulkan dampak terhadap keamanan negara-negara di dunia, terutama wilayah Timur.
Orient Shield 26 memperlihatkan kerja sama pertahanan di Asia Pasifik semakin berkembang dari sekedar kerja sama bilateral Kawasan, mulai adanya kerja sama dengan negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia. Tetapi di sisi lain, peningkatan interoperabilitas dapat memperkuat kemampuan negara-negara peserta dalam menghadapi berbagai ancaman. Di sisi lain, meningkatnya aktivitas militer juga perlu diimbangi dengan komunikasi dan diplomasi agar tidak memperbesar ketegangan kawasan.
Catatan Penulis
Orient Shield 26 menunjukkan bagaimana dinamika keamanan Asia Pasifik semakin dipengaruhi oleh kerjasama militer antar negara. Latihan Bersama ini penting dalam meningkatkan kesiapan pertahanan, namun mampu menimbulkan persepsi ancaman bagi negara lain. Sehingga, stabilitas Kawasan tidak cukup jika hanya dibangun dengan kekuatan militer, tetapi juga perlu komunikasi, transparansi, dan mekanisme diplomasi agar tidak adanya persaingan keamanan yang berisiko menjadi konflik terbuka.

