Sate Martawi Cilacap, Sajian Lezat dengan Potongan Daging Jumbo

Mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Al Irsyad Cilacap
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Maylla Hafidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika berbicara tentang keanekaragaman kuliner Nusantara, sate selalu menempati posisi istimewa di hati masyarakat Indonesia. Setiap daerah memiliki varian sate dengan kekhasan tersendiri, mulai dari bumbu, jenis daging, hingga cara penyajiannya. Namun, di antara sekian banyak jenis sate di tanah air, Sate Martawi dari Cilacap memiliki daya tarik yang tak bisa diabaikan. Sate ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang tradisi, teknik, dan identitas kuliner khas masyarakat pesisir selatan Jawa Tengah.
Sate Martawi dikenal dengan ciri khas potongan dagingnya yang besar dan cara penyajiannya yang unik. Jika sate ayam pada umumnya menggunakan satu tusuk bambu, maka Sate Martawi justru memakai dua tusuk sekaligus untuk setiap potongan dagingnya. Penggunaan dua tusuk ini bukan tanpa alasan. Ketika dibakar, dua tusuk tersebut dapat diregangkan sehingga daging ayam bisa matang merata hingga ke bagian dalam. Teknik ini menghasilkan tekstur daging yang empuk, tidak gosong di luar namun matang sempurna di dalam. Selain itu, dua tusuk juga membantu menopang potongan daging yang berukuran jumbo agar tidak mudah patah saat dibakar di atas bara api.
Kelezatan Sate Martawi juga terletak pada bumbu dan cara penyajiannya yang khas. Berbeda dari sate Madura yang disajikan dengan bumbu kacang kental di atasnya, Sate Martawi justru menyajikan bumbu kacangnya secara terpisah. Hal ini membuat cita rasa sate tetap terasa alami dan memungkinkan penikmatnya untuk mengatur sendiri seberapa banyak bumbu yang ingin dinikmati. Bumbu kacang khas Cilacap ini terbuat dari kacang goreng yang dihaluskan, kemudian dicampur dengan kecap manis, air matang, dan sedikit perasan jeruk nipis untuk memberi sentuhan segar. Uniknya, bumbu kacang ini tidak diberi tambahan cabai atau bawang, sehingga cita rasa gurih dan manisnya lebih menonjol, menampilkan kesederhanaan yang autentik.
Biasanya, Sate Martawi disajikan bersama lontong atau nasi putih hangat. Kombinasi daging ayam bakar yang gurih dengan aroma asap yang khas dan kelembutan lontong membuat perpaduan rasa yang sulit ditolak. Saat pertama kali menggigit potongan dagingnya, sensasi empuk dengan cita rasa rempah yang meresap sempurna langsung terasa di lidah. Tidak heran, banyak pengunjung yang rela datang jauh-jauh hanya untuk mencicipi sate ini.
Salah satu hal menarik dari Sate Martawi adalah asal-usul dan sejarahnya yang melekat erat dengan nama keluarga Martawi di Cilacap. Konon, resep asli sate ini berasal dari generasi awal keluarga tersebut, yang kemudian diwariskan turun-temurun. Hingga kini, sebagian besar penjual Sate Martawi di Cilacap masih merupakan keturunan atau kerabat dari keluarga Martawi. Mereka tetap mempertahankan cita rasa dan resep asli agar tidak berubah meskipun zaman terus berganti. Konsistensi inilah yang membuat Sate Martawi tetap menjadi ikon kuliner legendaris di Cilacap.
Jika Anda ingin mencicipi kelezatan Sate Martawi langsung di tempat asalnya, beberapa lokasi yang bisa dikunjungi antara lain Jalan S. Parman, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Rinjani, dan Jalan Flores di Cilacap. Masing-masing warung memiliki ciri khas tersendiri dalam penyajian, namun soal rasa tidak jauh berbeda karena semuanya masih menggunakan resep asli keluarga Martawi. Harga satu porsi Sate Martawi berkisar antara Rp25.000 hingga Rp30.000 untuk sepuluh tusuk sate merupakan harga yang sepadan dengan cita rasa dan ukuran potongan daging yang besar.
Banyak pengunjung mengakui bahwa pengalaman menikmati Sate Martawi memberikan kesan tersendiri. Salah satu penikmatnya, William Andika, mengatakan bahwa sate ini unik karena cara memasaknya berbeda. Daging dibakar tanpa arang, sehingga tidak ada bagian yang gosong, sementara bumbunya disajikan terpisah untuk menjaga cita rasa alami daging. Ia mengakui bahwa harganya memang tidak murah, tetapi menurutnya sebanding dengan kelezatan yang didapatkan. “Wajib dicoba kalau berkunjung ke Cilacap,” ujarnya.
Selain kelezatan rasa, Sate Martawi juga mencerminkan filosofi masyarakat Cilacap yang menghargai kesederhanaan dan keaslian. Cara penyajiannya yang tidak rumit namun penuh cita rasa menunjukkan bahwa kelezatan sejati seringkali lahir dari resep yang sederhana namun dikerjakan dengan sepenuh hati. Di tengah maraknya inovasi kuliner modern, Sate Martawi tetap bertahan dengan keaslian rasa dan teknik tradisionalnya sebuah bukti bahwa warisan kuliner lokal masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Tidak hanya menjadi kebanggaan warga Cilacap, Sate Martawi juga menjadi daya tarik wisata kuliner bagi para pendatang. Banyak wisatawan yang menjadikan sate ini sebagai daftar wajib cicip saat berkunjung ke kota yang dikenal sebagai pintu gerbang Jawa Tengah bagian selatan tersebut. Keunikan potongan dagingnya yang besar, perpaduan bumbu kacang yang lembut, serta teknik pembakaran khas membuat Sate Martawi pantas disebut sebagai salah satu kuliner terbaik yang lahir dari tanah Cilacap.
Bagi siapa pun yang mencari pengalaman kuliner autentik, mencicipi Sate Martawi bukan sekadar urusan rasa, melainkan perjalanan menikmati kisah panjang tradisi dan cita rasa lokal yang masih lestari hingga kini. Di setiap tusukan sate, tersimpan dedikasi dan cinta terhadap budaya kuliner Indonesia yang patut dilestarikan. Jadi, ketika langkah Anda sampai di Cilacap, pastikan hidangan legendaris ini menjadi bagian dari perjalanan rasa Anda, karena satu gigitan Sate Martawi bisa membuat siapapun jatuh cinta pada kelezatan kuliner Nusantara sejati.
