Konten dari Pengguna

Manusia: Makhluk yang Tergesa-gesa

M. Bahrul Ulum

M. Bahrul Ulum

Blogger, Storyteller.

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M. Bahrul Ulum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seserang yang lari terburu-buru (Sumber: Freepik.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seserang yang lari terburu-buru (Sumber: Freepik.com)

Di zaman yang serba cepat ini, seakan-akan menuntut manusia untuk bergerak lebih cepat pula. Mencapai segala sesuatu dengan cepat dan mendapatkannya secara instan. Tidak peduli jalan apa yang akan ia tempuh, yang terpenting ia segera meraihnya.

Seseorang seringkali membandingkan dirinya dengan orang lain, sehingga ia berusaha agar tidak tertinggal. Sebisa mungkin ia menjadi yang lebih cepat, lebih dahulu dalam mencapai atau mendapatkan suatu hal. Tetapi ketika ia telah mencapai puncak ternyata ia masih akan melihat orang lain yang ada di depanya.

Bagaikan seorang pengendara di jalan raya yang berusaha untuk menyalip kendaraan-kendaraan lain yang ada di depannya, namun setelah ia menyalip puluhan kendaraan, ia masih akan tetap melihat banyak kendaraan lain yang ada di hadapannya. Hal tersebut merupakan sebuah paradoks kehidupan yang dialami oleh mereka yang selalu tergesa-gesa.

Padahal tergesa-gesaan merupakan suatu hal yang justru menghancurkan manusia itu sendiri. Karena terkadang ketergesa-gesaan tersebut muncul bukan karena keinginannya agar lebih maju dan berkembang, melainkan karena ia gagal dalam menemukan makna dari sebuah proses.

Kegagalan dalam menemukan makna dari sebuah proses

Manusia adalah makhluk yang tidak bisa dipisahkan dari sebuah proses. Kita pastinya pernah mengalami proses dalam mencapai sesuatu. Misalnya sekolah, kita pernah berada dalam proses menempuh pendidikan di tingkat SD, SMP atau SMA. Seringkali saat menjalani proses-proses tersebut kita ingin segera menyelesaikannya dan segera untuk naik ke jenjang berikutnya.

Ketika di bangku SD ingin segera lulus dan masuk SMP. Setelah masuk di SMP ingin segera lulus dan masuk ke SMA. Setelah masuk SMA ingin segera lulus kemudian bekerja atau melanjutkan ke perguruan tinggi, ingin segera menikah, segera punya momongan dan seterusnya. Hal tersebut terjadi karena kita tidak menemukan makna dari proses yang kita jalani.

Padahal jika kita mampu menemukan makna dalam proses yang kita lakukan, kita akan jauh lebih bisa menikmati dan memanfaatkan suatu momentum. Alih-alih berharap waktu berjalan lebih cepat agar dapat segera selesai, kita justru akan berharap agar waktu tidak cepat berlalu, agar lebih banyak mendapatkan banyak pembelajaran dari proses tersebut.

Berbicara soal makna bisa berupa banyak hal, tergantung dari bagaimana seseorang memberikan makna dari proses tersebut. misalnya dalam suatu proses menempuh pendidikan di perguruan tinggi dari pada terus berpikir kapan lulus, bukankah lebih bermakna jika kita berpikir bagaimana dalam waktu yang kurang lebih empat tahun tersebut kita bisa belajar banyak hal.

Seperti apa yang harus kita pelajari, skill apa yang harus kita asah dan kekurangan-kekurangan apa yang harus kita benahi. Dengan pemikiran yang demikian, berarti kita telah menemukan sebuah makna dalam proses yang kita jalani. Maknanya adalah kita harus bersungguh-sungguh dalam menjalani proses tersebut. Agar ketika lulus dari perguruan tinggi kita benar-benar telah siap untuk menghadapi berbagai tantangan dan dapat memberikan kontribusi dalam kehidupan.

Memang terkadang manusia itu tidak menyadari betapa bernilainya suatu keadaan, hingga pada akhirnya keadaan itu berubah menjadi sebuah kenangan. Tatkala telah menjadi kenangan, barulah keadaan itu terasa sangat berharga dan tak dapat kembali diulang.

Belajar dari alam semesta yang tidak pernah tergesa-gesa

Sebagai seorang manusia yang menjadi bagian dari alam semesta, pernahkah kita belajar dari alam yang tidak pernah tergesa-gesa dalam menjalani kodratnya?. Rotasi bumi pada porosnya yang sesuai dengan waktunya, sehingga timbulah siang dan malam yang sesuai dengan waktunya. Revolusi bulan dalam mengelilingi bumi yang sesuai dengan waktunya.

Demikian juga aliran air sungai dari hilir yang tidak pernah tergesa-gesa untuk segera mencapai hulu. Kesemuanya itu tidak pernah bersaing untuk menjadi yang lebih cepat dari yang lain. rotasi bumi tidak pernah tergesa-gesa lebih cepat dari revolusi bulan. Aliran sungai yang tidak tergesa-gesa untuk lebih cepat dari rotasi bumi. Mereka bergerak sesuai dengan waktunya masing-masing.

Maka dari itu sudah selayaknya kita belajar dari alam yang tidak pernah tergesa-gesa dalam menjalani prosesnya. Tidak perlu bersaing untuk menjadi lebih cepat dari orang lain, karena setiap manusia memiliki waktunya masing-masing.

Tidak perlu terus membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing.Terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin dan hari esok menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ini, hingga kita mencapai versi terbaik dari diri sendiri.***