Entertainment
·
18 Maret 2020 17:05

Anak Kemenyan: Pembantaian (Part 5)

Konten ini diproduksi oleh Mbah Ngesot
Anak Kemenyan: Pembantaian (Part 5) (212250)
Anak kemenyan. Foto: Masayu/kumparan
Saat mereka masuk ke kamar Ranting untuk memeriksa kembali, kuntilanak itu sudah tidak ada. Segera Nova menggendong bayinya, ia tidak mau lagi Ranting dipisahkan dari kamarnya. Sampai Ranting tumbuh menjadi anak yang cantik, ia tetap tidur bersama kedua orangtuanya. Mereka tidak tahu kalau setiap malam, saat mereka tertidur nyenyak, kuntilanak itu selalu datang menghampiri Ranting.
ADVERTISEMENT
Namun, kebahagiaan Rian dan Nova tidak berlangsung lama. Saat Ranting berusia tepat enam tahun, malam itu empat komplotan rampok berhasil membunuh dua orang warga yang sedang ronda. Tujuan mereka tentu rumah Rian karena dari semua warga di sana, keluarga Rianlah yang terlihat paling kaya.
Empat komplotan itu memanjat pagar rumah Rian, mereka berhasil membobol pintu rumah. Perlahan mereka juga berhasil membobol pintu kamar Rian. Tanpa banyak basa-basi lagi, mereka menghantam kepala Rian dengan sebuah palu, Rian pun terkapar tak berdaya. Dan sebelum Nova berteriak, mereka sudah mencekik lehernya, tubuhnya meronta-ronta kehilangan napas dan tewas dengan keadaan mata melotot.
Ranting terbangun, salah satu dari mereka langsung menggendong anak itu dan melakban mulutnya. Kedua tangan Ranting diikat. Teman-temannya yang lain menggeledah penjuru kamar, mencari barang berharga apa pun yang bisa dibawa. Uang perhiasan, dan handphone berhasil dirampas.
ADVERTISEMENT
"Anak ini kita apakan?" tanya orang yang menggendong Ranting. Anak itu meronta-ronta, matanya berair.
"Bunuh saja," kata salah seorang dari mereka.
Rian ternyata masih sadarkan diri, dengan sisa tenaga yang ia punya, ia mengangkat wajahnya ke arah lelaki yang sedang menggendong Ranting.
"Kumohon jangan bunuh dia...," parau suara itu keluar dari mulut Rian.
"Halah banyak bacot!" lelaki yang menggenggam palu menghantam kepala Rian bertubi-tubi hingga batok kepalanya pecah, darahnya tercecer kemana-mana. Dia tewas mengenaskan.
"Siapa yang berani bunuh anak ini?" tanya lelaki yang menggendong Ranting.
"Letakkan anak itu di lantai," suruh salah seorang dari mereka.
Entah apa yang terjadi, keesokan paginya keempat rampok itu terkapar mati. Isi perutnya terburai, darah memenuhi lantai. Ranting berdiri di atas tubuh perampok itu, wajahnya merah oleh bercak darah. Warga heboh mendapati Ranting selamat dari pembunuhan, mereka juga heran siapa yang membunuh para perampok itu dengan cara yang sangat sadis.
ADVERTISEMENT
***
Setelah kedua orang tuanya meninggal, untuk sementara waktu, Ranting tinggal bersama Pak Sunaryo, seorang ketua RT. Ia sudah coba menghubungi pihak keluarganya Ranting, tapi tidak ada yang mau mengurus anak itu, mereka malah memperebutkan harta Rian yang padahal seharusnya jadi hak Ranting.
Rumah orangtua Ranting dijual tanpa sepengetahuan Pak Sunaryo. Mereka enggan mengurus Ranting karena tahu kalau Ranting lahir secara tidak wajar, dari batang pohon kemenyan. Dan itu menakutkan bagi mereka.
Di sisi lain, keluarga Pak Sunaryo tidak sanggup lagi kalau harus mengurus Ranting sampai dewasa karena ia juga punya enam anak yang harus diurus dan dibiayai. Setelah tiga bulan tinggal bersama keluarga Pak Sunaryo, Ranting dibawa ke kantor kelurahan.
ADVERTISEMENT
"Bawa ke panti asuhan saja, Pak. Di sana kehidupan Ranting pasti terjamin," kata staff di kantor itu.
"Wah betul juga. Panti asuhan mana yang bisa menerima Ranting? Apakah ada biayanya?"
"Ke Bening Kasih aja. Saya kenal dengan kepala yayasannya. Gratis kok, pak."
Hari itu juga Ranting berkemas, ia diantar Pak Sunaryo ke panti asuhan. Tas besar berisi pakaian Ranting digendong Pak Sunaryo, sementara Ranting sendiri hanya menjinjing sebuah boneka kelinci warna putih kesayangannya. Mereka naik angkot menuju panti asuhan. Perlahan angkot menjauh, Ranting dari belakang kaca angkot memperhatikan rumahnya yang sudah dimiliki orang lain. Air mata menetes hangat membasahi pipi Ranting.
Nantikan cerita Anak Kemenyan selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white