kumparan
search-gray
Entertainment22 Mei 2020 12:38

Ilmu Begal: Ikutlah denganku (Part 9)

Konten kiriman user
part 9 square(5).jpg
Ilmu Begal. Foto: Masayu/kumparan
Malam merangkak naik. Ombak laut sesekali membasahi rambut Abe. Ia dikubur seleher di pinggir pantai. Kedua matanya tertutup, ia ingin fokus dan tidak mau terusik oleh apa pun. Di sekeliling Abe ada banyak ceker ayam busuk yang sengaja diletakkan di sana sebagai salah satu syarat.
ADVERTISEMENT
Sebelum dikubur, Abe melucuti semua pakaiannya. Ki Bamantara juga memandikannya terlebih dahulu di pantai keramat. Syarat pertama ini terdengar sangat mudah, apa pun yang terjadi pada Abe, dia dilarang berteriak.
Tengah malam, bulan mengambang sempurna di langit. Cahayanya menyinari Abe yang sedang konsentrasi di pinggir pantai. Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki mendekat, Abe menyadari itu. Pelan-pelan, ia membuka matanya. Seorang lelaki yang hanya mengenakan celana dalam menghampiri Abe.
Abe tahu siapa lelaki itu, dia Satria. Yang kemarin malam berkelahi dengan Gilang. Lelaki itu mengeluarkan liur, napasnya terdengar jelas seperti napas hewan. Abe menelan ludahnya sendiri, ia tegang. Bagaimana tidak, ia sudah melihat jelas keganasan Satria semalam dan sekarang lelaki itu malah mendekatinya.
ADVERTISEMENT
Satria jongkok di depan kepala Abe. Air liurnya menetes ke atas kepala Abe. Kedua telinga Abe disentuhnya perlahan, Satria juga memandangi telinga kanan Abe. Wajah Abe mulai ketakutan, tapi ia tidak boleh berteriak. Tanpa diduga-duga, Satria menggigit telinga kanan Abe sampai berdarah. Abe memejamkan mata, wajahnya merah, suaranya tertahan. Ia menggoyangkan kepalanya, mencoba untuk menyingkirkan Satria.
Namun, lelaki itu tidak mau pergi. Ia malah semakin kuat menggigit daun telinganya Abe. Air mata Abe mulai keluar saking sakitnya, namun ia tetap menahan keinginannya untuk berteriak. Telinga kanan Abe akhirnya putus, wajahnya merah semua, ia melihat ke arah Satria yang sedang lahap mengunyah telinga kanannya.
Setelah menelan daun telinga Abe, lelaki itu pergi dari hadapan Abe sambil melolong seperti seekor anjing. Abe masih mengerutkan wajahnya, menahan sakit. Darah mengucur dari telinga kanan, penderitaan Abe semakin bertambah saat ombak laut membasahi lukanya, membuatnya menjadi semakin perih saja.
ADVERTISEMENT
***
Keesokan harinya, Abe masih bertahan di pantai sambil memejamkan mata. Ia tidak tidur, melainkan sedang berkonsentrasi, luka di telinga sudah tidak dirasa. Pikirannya hanya tertuju pada ilmu begal dan seorang perempuan idamannya. Ia yakin pasti bisa menguasai ilmu begal itu.
“Bagus....” Ki Bamantara berdiri di hadapan kepala Abe.
Perlahan Abe mendongak ke atas.
“Syarat pertama sudah kau lalui,” Ki Bamantara jongkok di hadapan Abe, ia menyentuh telinga kanan yang buntung itu.
Seketika saja daun telinga Abe utuh kembali. Ia membantu Abe untuk keluar dari dalam pasir.
“Terima kasih, Ki,” Abe tertunduk, ia senang daun telinganya kembali normal.
Ikutlah denganku,” Ki Bamantara berjalan menuju sebuah gua di pinggir pantai, sambil sesekali menghisap rokok lintingnya.
ADVERTISEMENT
Abe mengikuti dari belakang dengan keadaan telanjang bulat. Mereka tiba di sebuah gua, di mulut gua itu terdapat sarang laba-laba yang menjuntai, menandakan kalau gua itu sudah lama tidak terjamah manusia.
“Masuklah...,” Ki Bamantara menunjuk lubang gua.
Abe menurut saja, ia menyingkirkan sarang laba-laba yang menghalangi jalannya. Setelah berada di dalam gua, Abe menanyakan apa yang harus ia lakukan.
Ki Bamantara mengambil sebuah tombak yang tergeletak di dekat mulut gua. Ia lalu melemparkan tombak itu ke arah Abe.
“Apa ini, Ki?” Abe heran.
“Di dalam ada harimau, kau bunuh harimau itu,” Ki Bamantara menghisap kembali rokok lintingnya.
Jelas saja Abe terkejut mendengar perkataan gurunya. Bagaimana mungkin ia harus melawan seekor harimau di dalam gua itu.
ADVERTISEMENT
“Tapi, Ki?”
“Sudah kubilang taruhannya nyawa,” potong Ki Bamantara, ia tertawa sambil beranjak meninggalkan Abe.
Dari dalam gua terdengar raungan harimau mendekat perlahan. Jantung Abe berdetak cepat, ia bahkan dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri. Ragu-ragu Abe meraih tombak yang tergeletak tidak jauh dari hadapannya.
Harimau jantan yang ukurannya cukup besar muncul dari balik kegelapan gua. Sorot matanya tajam menatap Abe, mulutnya menyeringai ganas menampakkan gigi taringnya yang tajam dan besar. Pelan-pelan harimau itu semakin mendekat pada Abe yang bersiaga memegang tombak sambil melangkah mundur. Tidak ada jalan lain bagi Abe, ia harus melawan harimau itu.
Nantikan cerita Ilmu Begal selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white