Entertainment
·
23 Mei 2020 16:36

Ilmu Begal: Menjelang Malam (Part 10)

Konten ini diproduksi oleh
Ilmu Begal: Menjelang Malam (Part 10) (38823)
Ilmu Begal. Foto: Masayu Antarnusa/kumparan
Harimau melompat ke arah Abe. Kukunya yang tajam mencengkeram tubuh lelaki itu. Cakarannya berhasil melukai dada Abe. Untung saja ia masih bisa lepas dari cengkeraman harimau itu. Namun, Abe semakin terpojok. Tidak ada lagi celah untuk bergerak. Ia mengarahkan moncong tombak ke wajah harimau.
ADVERTISEMENT
Sebelum harimau berhasil mencengekram kembali tubuhnya, sebuah tombak berhasil Abe tancapkan di leher hewan itu. Harimau tersebut tergolek dan perlahan mati. Napas Abe terengah-engah. Luka di bagian dadanya cukup parah.
“Hebat kau!” Ki Bamantara kembali muncul di mulut gua.
Ia melangkah mendekat lalu mengusap dada Abe. Ajaibnya, luka itu kembali sembuh.
“Apa syarat yang satu lagi, Ki?”
“Melawan Satria,” jawab Ki Bamantara.
Satria tiba-tiba muncul dari belakang Ki Bamantara. Ia menyeringai mengerikan. Air liurnya berlepotan seolah ingin segera menghabisi Abe. Bukannya takut, Abe juga malah tersenyum tipis.
Kebetulan sekali kalau harus berkelahi dengan Satria. Sebab, Abe menyimpan dendam kepada lelaki itu. Semalam Satria sudah menyiksanya. Kini giliran Abe yang akan menghabisinya.
ADVERTISEMENT
Ki Bamantara memabawa mereka kembali ke pantai. Di sana ada sebuah garis melingkar di atas pasir sebagai penanda arena bertarung. Ki Bamantara duduk bersila di pinggir garis. Ia menyalakan rokok lintingannya.
Abe berdiri di dalam lingkaran, begitupun dengan Satria. Mereka menunggu aba-aba dari Ki Bamantara untuk bertarung.
“Ingat... harus ada salah satu yang mati di pertarungan ini,” Kata Ki Bamantara. Ia tersenyum.
Abe mengangguk.
“Silakan mulai!” minta Ki Bamantara.
Tanpa ancang-ancang, Satria langsung menubruk tubuh Abe. Mereka terguling di atas pasir. Satria menduduki tubuh Abe. Bertubi-tubi Satria melayangkan pukulan ke wajah Abe. Dalam posisi seperti itu, Abe masih mencoba untuk bertahan. Ia berusaha lepas dari kuncian Satria.
ADVERTISEMENT
“Bangsat!” teriak Abe. Satria mencoba menggigit kembali kuping kanannya.
Dengkul Abe berhasil menendang kemaluan Satria. Itu membuat cengkeramannya kendor. Abe pun berhasil bangkit. Sebuah tendangan menghantam kepala Satria. Ia terjengkang beberapa langkah ke belakang.
Satria sekarang dalam posisi telungkup. Abe naik ke punggung lelaki itu lalu menghajar kepalanya dari belakang. Satria berusaha melindungi kepalanya dari hantaman Abe. Leher Satria lalu di cekik dari belakang menggunakan pergelangan tangan. Abe berusaha mematahkan leher lawannya.
Sayangnya, cekikan itu terlalu lemah. Satria berhasil melepaskan diri. Kali ini mereka sama-sama bangkit. Keduanya bertarung dengan saling melayangkan tunju ke wajah. Abe dan Satria sudah bonyok, tapi salah satu dari mereka harus ada yang mati.
ADVERTISEMENT
Dengan sisa tenaga yang ada, Satria menubruk kembali tubuh Abe. Ia berhasil menjatuhkannya ke pasir. Kali ini, Satria berusaha untuk mencongkel mata lawannya. Abe berusaha menghindar, namun telunjuk Satria berhasil mencolok mata kanan.
Jelas, Abe berteriak kesakitan. Ia mengamuk membuat tubuh Satria terpental. Giliran Abe yang berada di atas perut lawannya. Ia juga mengincar bola mata Satria dan berhasil munusuknya berkali-kali dengan jempol. Darah mengucur, kedua mata Satria buta.
Abe tertawa terbahak-bahak. Wajahnya penuh cipratan darah. Dijenggutnya rambut Satria. Sekali lagi, Abe mencoba mematahkan leher lawannya. Kali ini Abe berhasil, bunyi tulang leher yang patah terdengar jelas di antara suara deru ombak. Satria tersungkur tewas di atas pasir.
ADVERTISEMENT
Abe yang masih bertelanjang menyeka darah di dahinya. Dadanya turun-naik. Ia memperhatikan Satria yang tewas di hadapannya. Ki Bamantara lalu bangkit, rokoknya sudah habis. Abe menoleh ke arah gurunya.
“Kau sudah menguasai ilmu begal. Sekarang pulanglah sebelum menjelang malam. Kalau sampai malam kau masih ada di desa Balangandang, kau tidak akan selamat,” kata Ki Bamantara.
“Bagaimana aku tahu kalau aku sudah mengusai ilmu itu, Ki?”
Ki Bamantara mendekat. Ia mengeluarkan sebuah pisau dari kantongnya lalu menusukkannya ke perut Abe. Ajaibnya, pisau itu malah patah. Tubuh Abe tidak terluka sedikit pun.
“Silakan coba lari,” suruh Ki Bamantara.
Hebatnya, kini Abe bisa berlari dengan sangat cepat. Bahkan, bayangannya pun tidak terlihat. Butiran pasir berhamburan saat tubuh Abe melintas. Ia kembali ke hadapan Ki Bamantara lalu berlutut di hadapan gurunya.
ADVERTISEMENT
“Terima kasih, Ki. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu,” kepala Abe menunduk.
Namun, Abe tidak mendengar apa pun. Ia menengadahkan kepalanya. Ki Bamantara menghilang entah ke mana. Abe bangkit. Ia harus pergi sebelum malam tiba.
***
Abe berhasil keluar dari desa Balangandang. Sebelum kembali ke Lampung, ia mencuri pakaian yang dijemur di salah satu halaman rumah warga dekat pelabuhan. Ia juga membegal beberapa orang dan merampas uangnya untuk ongkos pulang.
Malang betul nasib Abe. Setibanya di Lampung, sebelum ia merampok kerbau untuk memenuhi syarat yang diminta Mirna, ia malah mendengar kabar kalau Mirna sudah dinikahi lelaki lain.
“Bangsat!” Abe berdecak kesal.
“Jadi, apa rencana kau, Be?” tanya Lala.
ADVERTISEMENT
“Aku mau bunuh mereka.”
“Sudah gila kau, Be. Mereka masih warga desa kita.”
“Aku tidak peduli,” jelas Abe.
Malam itu mereka duduk di beranda rumah Abe. Namun, tiba-tiba terdengar suara letupam pistol. Ternyata, rumah Abe kembali dikepung polisi.
“Abe! Letakkan kedua tangan kau di belakang kepala dan tiarap!”
Lala sudah tiarap duluan. Tapi Abe malah tersenyum tipis. Ia menghampiri komplotan polisi itu. AKBP Ferdi melepaskan timah panas ke arah kaki kanan Abe. Sayangnya, peluru itu tidak mempan. Semua anggota polisi terkejut. Mereka mundur satu langkah saat Abe mendekat.
“Sudah kuduga,” desis Ferdi.
Ferdi kemudian mengeluarkan jimat dari dompetnya. Di dalam jimat itu ada butiran peluru berwarna emas. Ia memasukkan peluru itu ke dalam pistolnya lalu kembali membidik Abe. Kali ini ia langsung membidik dada kirinya.
ADVERTISEMENT
Peluru itu berhasil melukai Abe. Sayangnya, bidikan itu melenceng beberapa sentir dari target. Ferdi tidak berhasil menembak jantung Abe.
“Jaring!” teriak Ferdi.
Salah seorang anggotanya membawa tembakan jaring dan mengarahkannya pada Abe. Sayangnya ketika jaring itu ditembakkan, Abe berhasil lari. Tubuhnya tidak terlihat lagi. Ia kabur ke arah perkebunan karet.
Tidak terasa, saking kencangnya berlari, ia tiba di sebuah goa yang lubangnya tertutup batu. Abe melihat ada sedikit celah untuk masuk ke dalam gua itu. Dengan susah payah ia akhirnya berhasil masuk. Ia ingin bersembunyi dari kejaran para polisi itu. Abe heran kenapa masih ada peluru yang berhasil menembus dadanya.
Napas Abe terengah-engah. Di dalam goa, ia tidak bisa melihat apa pun. Tidak ada cahaya di sana. Namun, tiba-tiba Abe mendengar suara seorang perempuan melantunkan tembang. Suara itu terdengar lirih, naun begitu jelas.
ADVERTISEMENT
Lingsir wengi sliramu tumeking sirno,
Ojo tangi nggonmu guling,
Awas jo ngetoro,
Aku lagi bang wingo-wingo,
Jin setan kang tak utusi,
Dadiyo sebarang,
Wojo lelayu sebet.
Abe tidak mengerti apa yang dinyanyikan perempuan itu.
“Woy! Ada orang di sini?” tanya Abe sambil memegangi dadanya yang terluka.
Tidak lama kemudian, ada sesuatu yang mencengkeram lehernya. Abe berteriak kesakitan. Ia seperti sedang disiksa oleh seseorang. Entah apa yang terjadi dengannya. Yang jelas dari celah lubang goa mengalir darah kental lalu menggelinding dua bola mata.
Teriakan Abe tidak terdengar lagi. Sesaat kemudian, malah muncul suara tawa seorang perempuan di dalam goa. Melengking, jelas sekali itu suara Nurimah.
SELESAI
___
Nantikan cerita horor selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini: