Entertainment
·
18 Mei 2020 12:29

Ilmu Begal: Perburuan (Part 5)

Konten ini diproduksi oleh
Ilmu Begal: Perburuan (Part 5) (45364)
Ilmu Begal. Foto: Masayu Antarnusa
Abe memang tidak suka berbasa-basi, ia jatuh cinta pada Mirna dan langsung mendatangi rumahnya. Abe bermaksud ingin menikahi Mirna. Namun tidak semudah itu meluluhkan hati Mirna, sudah banyak orang yang datang ke rumah gadis itu, tapi semuanya tidak sanggup memenuhi mahar yang dipinta.
ADVERTISEMENT
“Aku bisa saja menikah denganmu, tapi aku minta mahar 30 ekor kerbau.
Abe terkejut mendengar syarat mahar yang dipinta Mirna, namun tanpa pikir panjang lagi Abe malah menyanggupinya. Ia meminta waktu satu bulan untuk mendapatkan 30 ekor kerbau. Abe berjanji akan memenuhi apa yang dipinta wanita itu.
Ya, jelas saja Abe mengandalkan kemampuan begalnya. Satu-satunya cara untuk memenuhi syarat itu adalah dengan mencuri kerbau. Abe tahu, itu bukanlah hal yang mudah, tapi ia yakin bisa mendapatkan 30 kerbau itu dalam sebulan.
Tidak mungkin Abe beraksi sendiri, ia sudah membujuk beberapa rekannya dan tidak satu pun ada yang mau bekerja sama dengan Abe. Urusan mencuri kerbau memang lebih sulit ketimbang membegal motor di jalanan. Sudah banyak kasusnya para pencuri kerbau yang mati dibacok warga.
ADVERTISEMENT
Ayolah Obi, bantu gua. Kita bagi dua hasilnya. Curi dua setiap kandang, satu kerbau buat lu dan satunya buat gua.”
Suatu malam Abe mengunjungi rumah temannya yang juga seorang begal.
“Berat bos. Maling kerbau gampang ketangkep, bisa tewas kita. Kenapa nggak begal motor aja sih?” Obi menyuguhkan kopi pada Abe.
“Gua butuh kerbau buat lamar si Mirna.”
“Ya kan lu bisa jual motornya terus beli kerbau.”
“Dia minta 30 ekor.”
Bangsat banyak banget. Nggak, lu nggak akan bisa dapetin kerbau sebanyak itu. Si Mirna itu jelas nolak lu dengan ngasih syarat yang berat. Cari cewek lain aja.” Obi menyalakan rokok. Ia hanya mengenakan kaus singlet sehingga tato macan di dadanya terlihat.
ADVERTISEMENT
“Nggak bisa. Gua cinta sama dia. Ayolah bantu gua.”
Obi menengadah seperti sedang berpikir lalu mengepulkan asap rokok.
“Gua bisa bantu lu sekali saja. Seterusnya lu urus sendiri.”
“Ya sudah nggak apa-apa,” kata Abe.
“Udah ada target?” tanya Obi.
“Udah Bi. Besok malam kita berangkat.”
***
Abe menyewa mobil truk, mereka berdua berangkat ke sebuah perkampungan yang jauh dari tempat tinggal Abe. Ia tahu ada orang yang punya banyak kerbau di kampung tersebut, kebetulan kandangnya berada di tengah perkebunan kelapa sawit.
Setibanya di sana, Abe memparkirkan mobilnya di pinggir jalan. Mereka berdua masuk ke perkebunan sawit sambil membawa senter sebagai penerang. Dari kejauhan, sayu-sayup terdengar suara lenguh kerbau.
ADVERTISEMENT
“Nah di sana kandangnya,” Abe menunjuk ke arah barat.
Mereka berdua membawa golok dan tali tampar untuk mengikat kerbau di bak mobil. Setelah berjalan beberapa menit, terlihat api unggun menyala di depan kandang kerbau. Pintu kandang didobrak menggunakan golok, Abe menyorotkan senter ke arah komplotan kerbau.
“Ambil yang besar,” desis Obi yang menjaga dari luar kandang.
Abe mengikatkan tali pada kedua leher kerbau berbadan jumbo. Ia melemparkan ujung tali itu ke arah Obi kemudian ditarik perlahan. Sekitar tiga puluh meter dari kandang kerbau, seorang lelaki berteriak sambil mengacungkan golok ke arah mereka berdua.
Bangsat kau maling!”
Itu pemilik kerbau, setiap melam dia memang selalu memeriksa kandangnya. Hal itu tidak diperhitungkan Abe sebelumnya.
ADVERTISEMENT
“Abe, bawa kerbau ini ke mobil, biar gua yang ngadepin dia,” suruh Obi.
Dengan ragu-ragu, Abe menyeret kerbau itu. Ia mengkhawatirkan temannya, tapi ide Obi itu ada benarnya; lebih baik kerbaunya dibawa ke mobil dulu.
Obi berlari ke arah lelaki pemilik kerbau. Ia menyabetkan golok itu ke wajahnya, tapi meleset. Si pemilik kerbau kini berada di belakang Obi, giliran dia yang menghantamkan goloknya tepat di punggung Obi. Darah muncrat, Obi tersungkur. Sebelum si pemilik kerbau menghajarnya kembali, Obi lebih dulu melempar golok ke wajah lelaki itu. Namun, lagi-lagi golok itu meleset dan hanya mengenai pundaknya saja.
“Mati kau!” teriak pemilik kerbau, sambil menghantamkan golok ke tubuh Obi.
ADVERTISEMENT
Obi berhasil menghindar, ia bangkit dan berlari menjauh dari sana. Si pemilik kerbau menoleh ke arah jalan, tapi mobil truk yang mengangkut kerbau sudah pergi. Ia kemudian lari mengejar Obi yang kabur ke arah perkampungan.
“Maling!” teriak si pemilik kerbau.
Sialnya, Obi malah masuk ke perkampungan. Ia disergap oleh puluhan warga yang terbangun karena teriakan maling. Obi dipukuli dan ditelanjangi seperti binatang.
“Jangan dibunuh!” kata si pemilik kerbau.
“Kita tanya di mana temannya yang satu lagi.”
Obi yang sudah babak belur malah tertawa meremehkan.
Cuih!” ia malah meludah ke muka si pemilik kerbau.
“Sampai gua mati pun nggak bakal gua kasih tahu!” lanjut Obi.
ADVERTISEMENT
Jelas saja kelakuan Obi memantik amarah warga. Ia kembali dipukuli, salah seorang warga mengambil batu besar dan membantingnya ke kepala Obi hingga pecah. Tubuh Obi lunglai, darah keluar dari hidung dan mulutnya. Ia mati dengan keadaan mata melotot.
Nantikan cerita Ilmu Begal selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini: