Entertainment
·
17 Mei 2020 16:52

Ilmu Begal: Si Cantik Mirna (Part 4)

Konten ini diproduksi oleh
Ilmu Begal: Si Cantik Mirna (Part 4) (43724)
Ilmu Begal. Foto: Masayu Antarnusa
Nurimah mendongak ke atas dahan pohon dalam keadaan masih bingung. Apakah suaminya hidup kembali? Namun, saat Nurimah akan memanggil Jamal untuk kedua kalinya, lelaki itu malah terbang menembus dahan-dahan pohon yang rindang lalu hilang begitu saja.
ADVERTISEMENT
“Kau rindu suamimu?” suara nenek-nenek mengagetkan Nurimah, ia membalikkan badan.
Sekitar dua meter dari tempat Nurimah berdiri, ada seorang nenek yang punggungnya bungkuk. Nenek itu mengenakan kebaya lusuh dan sarung kain batik yang motifnya pudar. Tangan kanannya menggenggam tongkat untuk menopang tubuh. Nurimah melangkah mundur, ia ketakutan. Yang dia tahu, di perkebunan ini hanya dia yang bermukim. Nurimah tidak pernah melihat nenek itu sebelumnya.
“Si... siapa kamu?” Nurimah bersandar pada batang pohon.
Nenek itu malah terkekeh, giginya yang sudah hitam semua terlihat jelas disinari cahaya lampu canting.
“Aku Mbok Maryati. Penghuni perkebunan ini.”
“Penghuni?” Nurimah semakin bingung.
“Anakmu itu digondol jurig!”
“Darimana kamu tahu?”
ADVERTISEMENT
“Sudah kubilang aku penghuni perkebunan ini,” Mbok Maryati melangkah perlahan mendekati Nurimah.
Tanpa mempedulikan ucapan nenek itu, Nurimah lari ke rumahnya. Ia mengunci pintu belakang. Napasnya terengah-engah, perlahan ia mengintip kembali nenek itu dari celah pintu. Anehnya, nenek tersebut hilang entah kemana.
“Kau rindu suamimu?” tiba-tiba Mbok Maryati sudah ada di belakang Nurimah.
Jelas saja Nurimah berteriak kaget sekaligus ketakutan.
“Aku mohon jangan ganggu aku,” Nurimah tertunduk sambil merapatkan kedua telapak tangan, memohon.
“Aku tidak berniat menggaggumu, aku malah mau membantumu.”
“Aku tidak butuh bantuanmu, Nek.”
“Anakmu masih hidup, Nurimah."
Nurimah terkejut, ia menatap nenek itu dengan serius.
“Masih hidup? Lalu di mana anak saya sekarang?”
ADVERTISEMENT
Nenek itu malah terkekeh lagi, kali ini ia mendekati Nurimah.
“Ikut denganku kalau kamu mau melihat anakmu.”
Nurimah menurut saja, ia penasaran apakah ucapan Mbok Maryati itu benar kalau anaknya masih hidup. Mbok Maryati kemudian melangkah menuju pintu depan, Nurimah meraih lampu canting yang digantungkan pada dinding bilik dan korek api, ia lalu mengikuti nenek tua itu.
Mereka berdua berjalan memasuki perkebunan karet yang gelap. Hanya cahaya lampu canting Nurimah yang menjadi penerang. Mereka lalu melewati sungai kecil yang dalamnya hanya sebetis Nurimah.
“Kita mau ke mana, Mbok?” Nurimah penasaran.
“Ikuti saja. Sebentar lagi kita sampai,” ia berkata tanpa menoleh pada Nurimah.
Satu jam berlalu, tapi mereka belum juga sampai. Kedua kaki Nurimah rasanya tidak sanggup lagi melangkah. Ia ingin berhenti sejenak untuk istirahat.
ADVERTISEMENT
“Mbok boleh kita berhenti dulu?”
“Jangan soalnya ada yang mengikuti kita dari belakang,” kata Mbok Maryati sambil terus berjalan.
“Dan jangan menoleh ke belakang!” Mbok Maryati membentak.
Dari tadi sebenarnya Nurimah mendengar suara langkah kaki dari belakangnya, tapi dia tidak berani untuk menoleh.
Dengan tergesa ia melangkah menyeimbangi Mbok Maryati. Kali ini, Nurimah sudah melewati perbatasan kebun karet dan masuk ke dalam hutan. Beberapa kali ia harus menyalakan lampu cantingnya yang sering padam tertiup angin.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah gua. Tampaknya gua itu tidak pernah terjamah oleh manusia. Tumbuhan liar menjuntai menutupi lubang gua, di sekelilingnya rumput liar tumbuh dengan subur.
ADVERTISEMENT
Mbok Maryati menyingkirkan rerumputan yang menghalangi mulut gua. Mereka masuk perlahan, betapa terkejutnya Nurimah saat melihat wujud jurig dengan jelas. Wujudnya seperti kuntilanak, makhluk itu sedang berdiri di atas batu sambil menggendong bayinya Nurimah. Bayi itu terlihat bergerak-gerak, ia benar-benar masih hidup.
Nurimah mendekat, “Anakku?”
Baru saja beberapa langkah, ia mendengar sebuah batu yang bergeser menutupi lubang gua. Nurimah panik, ia berteriak minta tolong. Menoleh ke sekelilingnya, tapi Mbok Maryati menghilang entah ke mana. Sosok jurig itu melayang perlahan, mendekati Nurimah sambil membawa jabang bayi. Nurimah terperangkap di dalam gua dan tidak bisa keluar.
***
Sementara itu di lain waktu, Abe berkabung atas kematian kakaknya. Jasad Iwan diantar ke rumah dalam keadaan mengenaskan, wajahnya gosong, tubuhnya hanya menyisakan tulang dan daging yang meleleh. Semua keluarga Iwan berkumpul, mereka menangis melihat nasib Iwan yang mati dengan mengenaskan seperti itu.
ADVERTISEMENT
Saat itu banyak orang yang melayat ke rumah Abe, tapi di anatara orang-orang itu ada seorang wanita yang menarik perhatian Abe. Dia adalah Mirna seorang gadis tetangga kampungnya Abe. Baru kali ini dia melihat gadis itu, ia sangat cantik membuat Abe jatuh cinta pada pandangan pertama.
___
Nantikan cerita Ilmu Begal selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini: