Konten dari Pengguna

Kos-kosan Angker: Siera yang Malang

Mbah Ngesot

Mbah Ngesot

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mbah Ngesot tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi

Perkataan bapak itu diikuti dengan keheningan panjang dari kami semua, termasuk orang-orang kosan tadi. Mereka benar-benar terlihat menutupi semua cerita ini. Mungkin ini semua karena ia tidak ingin kos-kosannya tidak laku lagi atau apa, apapun itu bukan urusanku. Saat ini aku hanya ingin pulang dan melupakan apa yang baru saja aku lihat.

Aku sengaja diam dan tidak menceritakan apapun sepanjang perjalanan. Jika mengingat kejadian itu, hatiku langsung hancur dan air mata langsung jatuh. Kenapa ada manusia sejahat dan sekejam itu di dunia ini. Tiba-tiba, bau itu mengikutiku di perjalanan. Bau yang tidak asing. Bau bangkai yang sangat menusuk di selingi dengan bau anyir yang sangat amis.

“Eh, bau apaan ya? Ko gak ilang-ilang dari tadi? Busuk banget,” ternyata bukan aku saja yang menciumnya. Tomo juga.

Sesampainya di rumah, mandi dan segera bersiap untuk tidur, aku merasa kerongkonganku kering sekali. Menuju ke dapur, aku langsung terpatung. Ada anak kecil menyeramkan di sana, dia berambut pendek, dengan wajah biru pucat dan urat-urat sangat terlihat jelas di wajahnya, bola matanya hitam legam dan ia memeluk guling. Terlihat ada darah menetes dari hidung dan matanya.

“Nama ku, Siera.” Begitu dia memperkenalkan diri, namun mulutnya tidak terbuka, entah dari mana asal suara itu. aku langsung segera bertanya, “A mau kamu, kenapa kamu ikutin aku ke rumah?”

Anak itu hanya diam dan tidak menjawab apapun, kemudian menghilang seperti asap berwarna hitam, dan dalam seper sekian detik langsung memberikanku semacam ‘penglihatan’ versi dirinya saat ia dibunuh.

Ia belum tidur. Ia melihat dari sela-sela pintu yang tidak tertutup rapat bagaimana darah kedua orang tua yang disayanginya mengalir deras di lantai. Ia hanya pura-pura tidur, ketakutan dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Iya, dia adalah anak perempuan yang terakhir dibunuh di keluarga itu. Dan sampai detik ini, Siera masih ada di rumahku, kadang-kadang menampakan sosoknya kepada adikku seperti mengajak main, namun entah kenapa setiap aku tanya apa tujuan dia sebenarnya, ia tidak pernah mau menjawab. Ia sepertinya hanya ingin bermain dan berteman. Selain itu, tangisan pedih yang bisa aku terima, dan tangisan menyayat hati itu terjadi di setiap Senin malam.

ilustrasi

Makin lama aku makin terbiasa, Siera senang menggambar. Lebih tepatnya, senang melihatku menggambar sesuatu untuknya. Aku pernah menggambar sesuatu yang membuatnya sangat senang hingga ia tidak terlihat lagi sosok menyeramkannya dan menunjukan sosok aslinya, anak perempuan yang sangat imut, ia berumur sekitar 9 atau 10 tahun. Ia selalu diam, tidak pernah mengucap sepatah katapun atau menjawab apapun yang aku tanyakan. namun aku bisa merasakan guratan kesedihan yang teramat dalam jiwanya.

Sejak awal aku memang tidak pernah mencari tau tentang kebenaran beritanya, namun saat Siera sudah sering datang kerumahku, aku langsung penasaran dengan isi beritanya. Dan benar saja, ternyata berita itu sempat heboh berbulan-bulan di kota B, dengan tajuk pembunuhan keluarga N. Berita yang aku baca pada bulan Juli 2019 ini, si pembunuh akhirnya divonis mati oleh pengadilan.

Sampai sekarang Siera masih suka menampakan dirinya di rumahku, aku sendiri tidak memiliki niat untuk mengusirnya. Sejujurnya aku menaruh rasa kasihan kepadanya oleh karena itu aku membiarkan saja dia bergentayangan di rumahku, tapi mungkin nanti kalau Siera sudah mulai mengganggu aku terpaksa harus mengusirnya. Semoga ia tidak membuat ulah macam-macam.

Senang membaca kisah horor seperti ini, klik tombol subscribe di bawah untuk mendapatkan notifikasi setiap ada kisah horor terbaru dari Mbah Ngesot.

collection embed figure