kumparan
KONTEN PENGGUNA
16 Januari 2020 18:35

Lingsir Wengi Tembang 2: Penyiksaan (Part 10)

lingsirwengitembang2 penyiksaan.jpg
Penyiksaan. Foto: Argy Pradypta/kumparan
Satu minggu setelah Teja ditumbalkan pada Nyi Roro Kidul, Ngartasih bermimpi didatangi Sartika__manusia kesayangan Nyi Roro Kidul. Dalam mimpi itu, Sartika mengatakan kalau Nyi Roro Kidul menginginkan anak dalam kandungan Ngartasih. Oleh sebab itu di pagi hari, Ngartasih menangis tersedu-sedu di depan tungku perapian. Tidak tega hatinya menumbalkan anak yang selama ini ia nanti-nantikan kehadirannya.
ADVERTISEMENT
Ki Bamantara mendekatinya, ia belum tahu perihal mimpi Ngartasih.
“Ada apa Ngartasih?”
“Anak kita Ki. Anak kita mau diambil Nyi Roro Kidul.”
Mendengar pernyataan istrinya, sontak saja Ki Bamantara terkejut bukan main. Keningnya berkerut, ia mondar-mandir tidak karuan di dapur; bingung apa yang harus dilakukan. Mimpi istrinya benar-benar seperti balok yang menghantam kaca, hatinya pecah berkeping-keping. Ia tidak mungkin merelakan anaknya digondol Nyi Roro Kidul, itu hal paling konyol yang pernah ia bayangkan. Setelah bertahun-tahun hidupnya dihabiskan untuk menantikan seorang anak, tapi setelah akhirnya Ngartasih hamil malah akan diambil Nyi Roro Kidul.
Ki Bamantara lantas pergi ke pantai, dibakarnya kemenyan sambil komat-kamit memanggil Nyi Roro Kidul. Yang datang malah Sartika, perempuan itu berjalan dengan anggun di atas air.
ADVERTISEMENT
“Nyi Roro Kidul mau anakmu atau kau harus menukarnya dengan lima puluh anak anak kecil yang akan dijadikan penghibur keraton,” kata Sartika dengan nada dingin.
“Baik, akan aku usahakan.”
“Tanamkan ini di halaman belakang rumah tumbalmu,” lanjut Sartika sambil menyodorkan sekantung biji kotoran kambing.
Maka malam itu juga, Ki Bamantara menanamkan butir demi butir biji kotoran kambing itu di rumah-rumah warga. Ia benar-benar tidak peduli apa pun yang terjadi asalkan anaknya selamat. Setiap rumah yang penghuninya punya anak kecil pasti ia tanamkan sebiji kotoran kambing di halaman belakangnya. Tidak ada yang mengetahui aksi Ki Bamantara ini karena warga Balangandang tertidur pulas malam itu.
Keesokan paginya, anak-anak mereka hilang secara misterius. Ini adalah kehilangan terbesar sepanjang sejarah Balangandang, lima puluh anak dalam semalam raib digondol pasukan Nyi Roro Kidul. Warga kebingungan dan mengamuk, siapa lagi di Balangandang yang patut mereka curigai selain Ki Bamantara. Setelah hilangnya Teja, mereka benar-benar yakin kalau anak-anak mereka juga hilang gara-gara Ki Bamantara.
ADVERTISEMENT
“Kita perang sajalah. Aku sudah tidak sanggup hidup seperti ini!” Ujar salah satu warga memprovokasi.
“BETUL!” Sorak puluhan warga yang sudah siap membawa parang, bambu, panah, pisau, balok, dan benda lainnya yang bisa menghabisi Ki Bamantara.
“Aku ndak takut mati. Ndak takut kena teluh demi anakku, aku harus memenggal kepala Ki Bamantara,” timpal warga lainnya.
“YA BETUL! KITA SIKSA SI BAMANTARA TERKUTUK ITU!”
Nantikan cerita Lingsir Wengi Tembang 2 selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan