kumparan
KONTEN PENGGUNA
18 Januari 2020 20:15

Lingsir Wengi Tembang 2: Sendiri di Hutan (Part 12)

lingsirwengitembang2 sendiri di hutan.jpg
Ilustrasi cerita horo sendiri di hutanr. (Foto: Argy Pradypta/kumparan)
Ngartasih berlari sekuat tenanga sambil memegangi perutnya yang semakin membesar. Ia memakai daster cokelat. Tangan kanannya menjinjing petromaks. Sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan kalau tidak ada yang mengejarnya. Dia harus berlari sejauh mungkin dari dasa Balangandang agar anak dalam kandungannya bisa selamat. Sendalnya yang terbuat dari karet ban warna hitam membuat punggung kakinya lecet, segera ia lepas sendal itu dan berlari kembali.
ADVERTISEMENT
Kedua kakinya menerjang-nerjang daun kering yang menggumpal di sepanjang jalan. Dari kejauhan, ia melihat cahaya obor berayun-ayun di antara ranting-ranting pepohonan. Wajahnya semakin ketakutan. Kakinya sudah tidak sanggup lagi berlari. Ngartasih berhenti, ia melihat ada sebuah gubuk kecil di sebelah kanannya.
Dengan tegopoh-gopoh, ia masuk ke dalam gubuk itu. Petromaks dimatikan. Napasnya terengah-engah, Ngartasih mengintip dari celah bilik gubuk. Cahaya obor semakin mendekat. Lalu muncullah para lelaki penduduk desa Balangandang. Mereka celingukan mencari keberadaan Ngartasih.
“Semua berpencar di sini!” kata salah seorang lelaki yang membawa obor.
“Tunggu!” pinta temannya. Ia melihat gubuk persembunyian Ngartasih.
Perlahan mereka mendekat ke gubuk. Seorang lelaki berbadan kurus menendang pintunya. Tapi, ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Ngartasih sudah melarikan diri. Akhirnya mereka menyerah dan tidak melanjutkan pencarian.
ADVERTISEMENT
***
Di desa Balangandang, warga kebingungan bagaimana caranya membunuh Ki Bamantara. Tidak ada satu benda pun yang mampu melukai kulit lelaki sakti itu. Golok yang disabetkan ke lehernya tidak dapat melukainya sedikit pun. Sudah puluhan kali juga balok kayu dihantamkan ke kepalanya. Tapi, Ki Bamantara malah tertawa-tawa. Lehernya juga sudah digantung di atas pohon, tapi tidak kunjung mati.
“Bawa ke laut, ikat kaki dan tangannya. Rantaikan beban di kakinya lalu tenggelamkan dia,” usul seorang warga.
“Setuju! Naik perahuku saja. Kita bawa Ki Bamantara ke tengah laut.”
Mereka merantaikan besi di kaki Ki Bamantara sebagai beban agar bisa tenggelam di tengah laut. Tiga lelaki naik ke atas perahu. Dengan tersungkur-sungkur Ki Bamantara diseret paksa naik ke perahu. Didayungnya perlahan perahu itu ke tengah laut.
ADVERTISEMENT
Setelah di rasa jauh dari pantai, mereka mencemburkan dan menenggelamkan Ki Bamantara. Tubuh Ki Bamantara bergerak-gerak mencoba untuk melepas rantai di kaki dan tangannya. Tapi, usahanya sia-sia. Tubuhnya melemah. Ia tenggelam dan mati di dasar lautan. Tiga lelaki di atas perahu tertawa puas melihat tubuh Ki Bamantara tenggelam. Kali ini mereka aman dari teror dukun biadab itu.
***
Beberapa hari kemudian, Ngartasih masih bertahan di hutan. Ia berharap suaminya datang menjemput. Namun, sampai saat ini suaminya belum juga muncul. Gubuk yang kecil beralaskan tanah itu menjadi tempatnya berteduh. Sehari-hari ia hanya memakan buah kecapi yang jatuh dari pohonnya. Bahkan, ia juga memakan cangkang buah tersebut.
Sementara untuk minum, ia harus berjalan dua kilometer ke arah barat. Di sana ada mata air yang selalu mengalir. Ditatanya dedaunan sebagai alas untuk tidur. Sementara petromaks miliknya sudah kehabisan bahan bakar. Jadi, setiap malam ia di tengah kegelapan. Tidak ada cahaya yang bisa menerangi gubuknya. Ia sepi sendiri di hutan.
ADVERTISEMENT
___
Nantikan cerita Lingsir Wengi Tembang 2 selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan