Entertainment
·
13 Januari 2020 18:58

Lingsir Wengi Tembang 2: Teja (Part 4)

Konten ini diproduksi oleh Mbah Ngesot
Lingsir Wengi Tembang 2: Teja (Part 4) (119479)
Teja. Foto: Argy Pradypta/kumparan
Sebenarnya, tidak semua orang di Desa Balangandang patuh pada Ki Bamantara. Ada seorang lelaki berumur 36 tahun yang menyimpan dendam sangat dalam pada Ki Bamantara, ia adalah Teja.
ADVERTISEMENT
Ya, lelaki itu sangat dendam pada Ki Bamantara lantaran istrinya mati kena teluh. Masalahnya sepele hanya karena tidak hadir dalam pertunjukan tari sinden. Besoknya, istri Teja muntah beling. Dan mati dalam keadaan mata melotot.
Semenjak kematian istrinya, Teja merobohkan rumah panggungnya dan membuat gubuk kecil di ujung Desa Balangandang dekat dengan hutan. Di gubuknya itulah diam-diam ia mempelajari ilmu hitam untuk membalas dendam.
Tapi rupanya, ilmu-ilmu yang ia pelajari rupanya tidak mempan pada Ki Bamantara, lelaki itu terlalu sakti. Walau memendam dendam, Teja tetap menghadiri pertunjukan tari sinden setiap minggunya. Ia harus bertahan hidup agar bisa membunuh Ki Bamantara.
Tengah malam, Teja belum tidur. Ia duduk di tepi ranjang bambu, tidak ada kasur di atas ranjang itu hanya ada tikar yang terbuat dari daun pandan. Gubuknya hanya satu ruangan berlantaikan tanah degan atap ijuk dan dinding bilik. Lampu canting di gantungkan pada dinding, mengeluarkan asap halus yang menghasilkan aroma minyak tanah.
ADVERTISEMENT
Teja mengusap rambutnya yang hitam berselang putih karena sudah tumbuh uban. Setiap malam, ia mengoleskan minyak jalantah ke rambutnya, hal itu dipercaya dapat menyahatkan kulit kepala dan rambut. Sedangkan di luar, hujan turun dengan begitu deras. Lolong anjing dari kejauhan terdengar sayup, mungkin mereka kedinginan.
Di saat itu pula, Teja mendengar langkah seseorang melintasi rumahnya. Buru-buru ia mengintip dari celah dinding bilik. Ternyata, orang yang melintas itu adalah Ki Bamantara. Kedua mata Teja mengintai dengan seksama, ia melihat Ki Bamantara membawa petromaks masuk ke hutan. Sontak, Teja meraih topi berbentuk bundar yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Ia membuntuti Ki Bamantara dengan hati-hati.
Sesekali, ia bersembunyi di balik pepohonan. Ia juga mencoba untuk tidak terlalu jauh dari Ki Bamantara agar tidak kehilangan cahaya petromak. Teja terus mengikuti lelaki itu masuk ke dalam hutan, melewati akar-akar pohon yang besar, semak-semak yang rimbun dan basah, hingga akhirnya Ki Bamantara berhenti di sebuah makam.
ADVERTISEMENT
Batu nisan makam itu dibungkus dengan kain kafan yang sudah kumal. Di sana Ki Bamantara duduk sila, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. Itu kembang tujuh warna, kemudian menaburkan kembang itu di atas tanah kuburan. Teja terheran-heran, kenapa di tengah hutan seperti ini ada kuburan? Ia bersembunyi di balik batu besar sambil mengintip aktivitas Ki Bamantara.
Anehnya saat mata Teja mengedip, tiba-tiba saja Ki Bamantara menghilang. Ia terkejut, menyorotkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan Ki Bamantara. Tapi tetap hilang. Tetap tidak ada. Hanya ada petromaks yang terbungkus plastik di samping kuburan itu. Dan, saat Teja memalingkan badannya untuk pergi, ia mendapati Ki Bamantara berdiri di hadapannya sambil tersenyum mengerikan.
ADVERTISEMENT
Nantikan cerita Lingsir Wengi Tembang 2 selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white