kumparan
search-gray
Entertainment26 Mei 2020 13:09

Pocong Tetangga: Penangkal Pocong (Part 3)

Konten kiriman user
smoke-1031060_1280.jpg
Ilustrasi. Foto: Pixabay
Pagi sekali, Amprung sudah ada di pasar Kliwon. Pengunjung pasar sudah ramai, para pedagang sibuk melayani pembeli. Termasuk Sardi yang merupakan penjual ayam potong. Di tengah kesibukannya, Amprung datang menghampiri Sardi.
ADVERTISEMENT
“Tolong aku, Di.”
“Apa lagi, Prung?” tanya Sardi sambil sibuk memotong ayam.
“Aku dikejar-kejar pocong.”
Sardi malah tertawa mendengarnya.
“Pocong? Zaman sekarang mana ada pocong, Prung. Kau mengada-ada saja.”
“Ini serius, semalam aku didatangi pocong. Ini semua salahku, Di.”
“Salah apa kau?” Sardi sambil sibuk mengkilo ayam potong dan membungkusnya.
“Aku mencuri uang sedekah jenazah,” bisiknya pelan di telinga Sardi.
“Hah? Sudah gila kau?” Sardi menebaskan goloknya di atas tatakan kayu lalu menoleh ke Amprung.
“Jenazah siapa?” lanjut Sardi.
Tentanggaku, Di.”
Sardi menggelengkan kepala, ia mencabut kembali goloknya.
“Kau harus mengembalikannya, Prung.”
“Uangnya banyak sekali dan aku tidak sanggup mengembalikannya, Di. Kau tahu tidak tempat dukun sakti di dekat sini.”
ADVERTISEMENT
“Ada di kampung Cilengkong. Mbah Goto namanya, dia dukun yang sakti. Kau ke sana saja, siapa tahu dia bisa bantu.”
Amprung mengangguk. Sardi dengan baik hati mau membantu Amprung. Ia memberikan bahkan uang dua ratus ribu untuk Amprung agar bisa membayar dukun itu.
Pagi itu juga, Amprung pergi ke kampung Cilengkong dengan naik ojek. Jalan menuju kampung itu rusak, berkerikil, ada banyak lubang di tengah jalan yang digenangi air hujan. Setelah sekitar dua puluh menit perjalanan, akhirnya Amprung tiba di kampung Cilengkong.
Rumah Mbah Goto terbilang bagus, catnya berwarna putih, pagar rumahnya dicat warna hijau, di depan pagar itu ada spanduk bertuliskan ‘Tabib Pengobatan Alternatif’ selain dukun ternyata Mbah juga seorang tabib yang biasa mengobati penyakit kiriman alias santet.
ADVERTISEMENT
“Ini benar rumahnya Mbah Goto?” tanya Amprung pada tukang ojek.
“Iya benar, saya pernah ke sini sekali,” jawabnya.
Amprung membayar ongkos ojek lalu melangkah menuju gerbang rumah Mbah Goto.
“Permisi,” Amprung mengetuk kunci gerbang, menimbulkan bunyi nyaring.
Dari dalam rumah muncul seorang wanita yang umurnya sekitar tiga puluh tahunan, ia mengenakan daster, rambutnya diikat ke belakang. Sambil tersenyum ia menghampiri Amprung.
“Iya, Mas. Ada keperluan apa, ya?” tanya wanita itu sambil membukakan pintu gerbang.
“Saya mau bertemu dengan Mbah Goto. Apa beliau ada di rumah?”
“Ada Mas. Silakan masuk.”
Amprung dibawa masuk ke dalam rumah. Ia sempat terkagum-kagum melihat isi rumah Mbah Goto, banyak koleksi patung yang terbuat dari kayu.
ADVERTISEMENT
“Mbah ada tamu,” wanita itu mengetuk pintu kamar Mbah Goto.
“Suruh masuk saja,” terdengar suara lelaki tua dari dalam kamar.
“Silakan Mas. Masuk saja ke kamar Mbah.”
Dengan sopan Amprung masuk ke dalam kamar Mbah Goto. Di sana ia melihat Mbah Goto sedang santai di atas sofa sambil menonton TV, kakinya diselonjorkan ke meja, ia menoleh pada Amprung.
“Silakan duduk,” Mbah Goto menurunkan kakinya, ia bergeser memberi tempat untuk Amprung.
“Terima kasih Mbah. Saya Amprung, saya mau minta pertolongan Mbah.”
Mbah Goto masih memperhatikan layar TV yang menayangkan film kartun lawas, sesekali ia tertawa. Amprung mulai ragu kalau Mbah Goto ini dukun sakti.
“Masalahnya apa?” tanya Mbah Goto, ia kembali menaikkan kakinya ke atas meja.
ADVERTISEMENT
“Dikejar-kejar pocong, Mbah.”
Mbah Goto malah tertawa terbahak-bahak, ia sekarang menoleh ke arah Amprung. Tanpa diminta, Amprung menceritakan apa yang sudah ia perbuat sehingga pocong itu mengejarnya. Mbah Goto mengangguk-angguk tapi dia malah fokus kembali ke TV.
“Pocong itu minta uangnya kembali, tapi kau tidak mampu.”
“Iya Mbah. Tolong bantu saya biar pocong itu pergi.”
Mbah Goto mematikan TV, ia mengembuskan napas berat dan perlahan bangkit.
Ia mengambil sebuah botol cembung dari dalam lemari.
“Kalau pocong itu datang lagi ke rumahmu. Kamu buka tutup botol ini. Nanti dia akan terkurung di dalam botol.”
Amprung tersenyum, “Terus kalau udah terkurung nanti botolnya saya apakan Mbah?”
“Kau simpan baik-baik jangan sampai pecah. Pocong itu nantinya bisa mendatangkan keberuntungan juga.”
ADVERTISEMENT
“Wah serius, Mbah?”
“Iya. Nih ambil.”
Amprung meraih botol cembung itu. Tapi tiba-tiba ekspresi wajahnya datar kembali, ia belum menanyakan harga botol itu.
“Berapa ya Mbah harganya?”
“Gratis. Ambil saja. Aku tahu kamu orang susah,” Mbah Goto tertawa, ia menyalakan TV lagi dan lanjut menonton kartun.
Amprung berkali-kali mengucapkan terima kasih kemudian pamit dari hadapan Mbah Goto.
***
Malamnya, saat anak Amprung sudah tidur, ia dan istrinya bersiap di jendela rumah. Mereka mengintip dari balik jendela, mencari keberadaan pocong. Tepat pukul 12 malam, terlihat asap kental menyembur di depan rumah mereka. Saat asap hilang, terlihat pocong berdiri di sana.
Uangku...,” lirih pocong itu.
Amprung memberanikan diri, ia membuka pintu rumah lalu menyodorkan botol itu ke arah pocong. Seketika saja pocong itu berubah kembali menjadi gumpalan asap lalu masuk tersedot ke dalam botol.
ADVERTISEMENT
Mampus kau!” Amprung tertawa.
Nantikan cerita Pocong Tetangga selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white