kumparan
KONTEN PENGGUNA
14 Februari 2020 17:43

Sekolah Angker: Ada yang Merasuki Fika (Part 2)

2 square.jpg
Sekolah Angker. Foto/masayu
Gina tidak mengerti kenapa tubuh wanita yang ia temui di lantai tiga seketika menghilang. Jelas-jelas ia melihatnya loncat dan terkapar di halaman belakang sekolah. Belum lagi terpecahkan hal ganjil tersebut di benaknya, saat hendak pulang ia melihat Fika di halaman depan sekolah sedang melakukan gerakan senam. Tatap matanya kosong, seperti ada yang mengendalikan.
ADVERTISEMENT
"Fika?"
Dia tidak menjawab malah tetap melakukan senam. Gina mengguncangkan tubuh temannya.
"Fik sadar, Fik!"
Tubuh Fika seketika ambruk, Gina panik dan berlari mencari bantuan. Untung saja ada dua orang lelaki yang tak lain adalah pemilik angkringan pinggir jalan, mereka membawa Fika ke rumah sakit.
***
Seorang guru Matematika sedang menerangkan materi. Fika duduk di bangku baris ketiga paling kiri. Setelah kejadian beberapa hari lalu, Fika merasa ada yang aneh dalam dirinya. Ia tidak lagi bisa fokus belajar, sering berhalusinasi. Seperti yang ia alami sekarang, ruang kelasnya tiba-tiba berubah, papan tulis di hadapannya terlihat usang dan masih menggunakan kapur. Dinding kelasnya retak juga kotor, meja-meja di sekelilingnya kosong. Kemana murid yang lain? Ia sendiri di ruangan itu. Seorang lelaki tua yang mengenakan celana training dan jaket olah raga menerobos masuk ke dalam kelas. Ia membawa rantang nasi lalu memakan sisa makanan di dalam rantang itu dengan lahap, seperti sudah beberapa hari belum makan.
ADVERTISEMENT
Fika mendekatinya perlahan dan ragu-ragu. Lelaki tua yang sedang makan di hadapannya tiba-tiba saja menangis. Fika bingung siapa dia dan kenapa terlihat sangat menyedihkan. Saat Fika hendak menyentuh pundaknya tiba-tiba Gina menyadarkan halusinasinya.
"Fika!"
Ia tergeragap.
"Lu halusinasi lagi, ya?"
Dada Fika turun naik napasnya terengah-engah. Keringat memenuhi wajahnya.
"Nggak, Gin," jawab Fika singkat kemudian bergegas keluar kelas. Ini waktunya jam istirahat.
Gina menyadari kalau Fika akhir-akhir ini berbeda. Temannya itu seperti tidak lagi bersemangat menjalani aktivitas di sekolah. Ia sering minta dibawa ke UKS saat jam olahraga. Ia juga sering telat dan melewatkan upacara Senin. Gina yakin hal ini ada kaitannya dengan kejadian beberapa hari lalu. Segera Gina pergi keluar kelas untuk mencari Fika. Ia pergi ke kantin, tapi tidak ada. Di halaman belakang pun tidak ada, biasanya Fika melamun di sana. Dan saat Gina pergi ke toilet, ia terkejut melihat Fika tewas gantung diri di sana.
ADVERTISEMENT
Sontak saja Gina berteriak mengundang kerumunan siswa lain. Pak Gimin, seorang kepala sekolah, datang dengan terburu-buru membelah kerumunan siswa. Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Lagi-lagi ada siswa yang bunuh diri. Setidaknya dua tahun sekali, ada saja siswa yang mati bunuh diri di sekolah itu. Dan tidak jelas apa alasan mereka bunuh diri karena tidak ada satu pun yang meninggalkan pesan wasiat.
***
Sepuluh Tahun Lalu
Sebuah becak berhenti di depan gerbang sekolah SMA . Seorang gadis berwajah oriental berambut sebahu turun dari becak tersebut. Ia adalah siswa pindahan dari Jogja dan hari ini adalah hari pertama masuk ke sekolah barunya. Sekilas ia memperhatikan bangunan sekolah berlantai tiga di hadapannya. Ia terkagum karena bangunannya bagus. Saat hendak memasuki gerbang, seorang satpam menyapanya dengan ramah.
ADVERTISEMENT
"Kamu telat?"
"Saya murid baru, Pak. Pindahan dari Jogja."
"Oalah, wong Jogja. Siapa namanya? Biar saya catat dulu."
"Velicia Tjhia," kata perempuan itu sambil tersenyum menampakkan lesung pipi di sebelah kiri.
"Veli...cia. Djhi... gimana ya tulisannya?" Tanya satpam tersebut.
"Tulis Veli aja nggak apa-apa, Pak?"
"Oh siap. Saya Asep satpam sekolah ini. Kamu tunggu di sini saja dulu. Mereka sedang upacara Senin. Setelah selesai nanti saya antar ke ruang kepala sekolah, ya."
Veli mengangguk. Ia duduk di atas kursi panjang yang terbuat dari kayu di depan pos satpam lalu membuka tasnya, mengeluarkan kotak makanan berisi beberapa biskuit cokelat.
"Bapak mau?"
"Wah, boleh. Duh Nak Veli udah cantik baik pula," puji Asep.
ADVERTISEMENT
"Oya, jangan panggil bapak. Panggil saja saya Asep. Saya masih muda kok."
Veli mengangguk, memang Asep ini masih muda baru berumur dua puluh tahun. Ia tidak melanjutkan sekolahnya dan hanya lulus SMP.
Sambil makan biskuit cokelat, Veli dengan sabar menunggu upacara selesai.
Nantikan cerita Sekolah Angker selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan