Sebagai Olahraga, Bisakah Silat Mengikuti Jejak Karate di MMA?

Sarjana Antropologi Sosial dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro. Berusaha mengenal dan memahami Indonesia melalui budayanya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari M Daffa Apriza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau melihat sejarah karate dan Silat, dua bela diri ini awalnya berguna untuk bertempur saat perang. Hanya saja ketika sudah masuk di ranah olahraga modern seperti MMA, sejauh ini hanya atlet karate saja yang pernah berprestasi di sini.
Semenjak Khabib Nurmagomedov mengalahkan Conor McGregor di tahun 2018, mixed martial arts (MMA) menjadi olahraga yang semakin tenar di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri promotor, atlet, hingga sasana MMA semakin menjamur semenjak orang-orang Indonesia mulai mengenal dan mengikuti Khabib.
MMA alias bela diri campuran pada dasarnya adalah campuran dua atau lebih bela diri. Umumnya MMA dapat berlangsung dengan baku hantam (striking) atau gulat (wrestling). Kelebihan utama dari MMA adalah semua bela diri bisa mengikuti olahraga ini asalkan mampu menyesuaikan dengan aturan MMA.
Melihat MMA yang semakin populer, olahraga ini sebenarnya bisa jadi ajang untuk memamerkan Silat sebagai bela diri asli Indonesia. Sama seperti Sambo dari Russia (yang jadi dasar MMA buat Khabib), Silat dapat semakin terkenal di luar negeri jika bela diri ini sering menang di MMA. Daripada citra silat di dalam negeri terus-terusan negatif, MMA bisa membuktikan kalau pesilat juga bisa mengharumkan nama bangsa.
Sayangnya sampai sekarang belum ada (atau mungkin minim) upaya dari berbagai perguruan Silat di Indonesia untuk menyesuaikan Silat dengan MMA. Padahal sebenarnya bela diri tradisional ini bisa saja sukses di MMA jika mau mengikuti rekam jejak karate di MMA.
Secara umum dua-duanya adalah bela diri tradisional yang awalnya berfungsi untuk perang. Gerakan terlarang di MMA seperti colok mata dan nendang kemaluan tentu lazim karena awalnya karate dan Silat tujuannya bukan untuk olahraga. Bedanya adalah karate pelan-pelan mau dan mampu beradaptasi dengan MMA.
Buktinya adalah seorang atlet MMA di Ultimate Fighting Championship (UFC) yang pernah menjadi juara dengan dasar karate. Bahkan setelah tidak lagi menjadi juara, dia tetap menjadi petarung top di UFC selama bertahun-tahun dengan mengandalkan bela diri ini.
MMA Mendorong Karate untuk Berinovasi
Lyoto Carvalho Machida, akrab dengan julukan The Dragon (Sang Naga), dapat menjadi pelajaran ke orang-orang yang terlalu kukuh menjaga bela diri supaya tetap tradisional. Alih-alih taklid buta memeragakan karate, Machida justru mengutak-atik bela diri ini supaya manjur di arena MMA.
Hasilnya? Machida sukses jadi juara UFC di kelas light heavyweight (92,98 kg) dan menjadi pertarung tenar di sana selama beberapa tahun.
Di sebuah wawancara bersama Jesse Enkamp, seorang YouTuber dan karateka, Machida menjelaskan kalau karate tradisional tidak akan mampu berguna di bawah aturan MMA. Supaya bisa menjadi juara MMA, Machida mengaku kalau dia perlu memahami dan menyesuaikan gaya karate miliknya dengan aturan MMA.
Dia menjelaskan kalau ajaran karate seperti kata akan sulit berfungsi ketika seorang karateka sudah masuk ke dalam ring MMA. Ini karena kata adalah serangkaian gerakan karate yang mengikuti skenario khusus. Kecuali di gulat dengan skrip seperti World Wrestling Entertainment (WWE), nggak mungkin dia akan meminta lawannya untuk melakukan serangan yang dia mau.
Misal karateka itu menyuruh lawannya hanya untuk menendang supaya dia bisa menggunakan kata berupa serangan balik khusus untuk tendangan. Atlet dari MMA berasal dari latar belakang bela diri yang beragam. Bisa ada yang lebih suka menggunakan tinju, memilih untuk adu gulat, atau bahkan mencampur keduanya.
Menghadapi berbagai bela diri mengharuskan Machida untuk siap menyesuaikan karate miliknya sesuai dengan bela diri lawannya. Tentu penyesuaian ini tidak berujung pada colok mata atau tindakan sabung ayam lainnya. Machida mengakui kalau karate pada awalnya berguna untuk perang, namun Machida menyesuaikan bela dirinya sesuai dengan aturan MMA yang berlaku.
Hasilnya adalah berbagai momen ikonik yang menunjukkan kalau karate bisa bersaing di bawah aturan MMA. Misalnya adalah pertarungan antara Machida dengan seorang pegulat dan petinju bernama Randy Couture. Dengan tetap mengikuti aturan MMA, karate milik Machida berhasil mendominasi dan menumbangkan Couture lewat sebuah tendangan yang simpel namun mematikan.
Posisi Silat di Olahraga Seperti MMA
Sebagai sesama bela diri yang efektif di masa perang, hanya karate yang berhasil tampil gemilang di kancah MMA internasional. Sayangnya Silat masih terjebak dengan tradisi masa lalu yang membuat bela diri ini tidak bisa berkembang.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sisi tradisional dari sebuah bela diri. Machida mengakui bahwa kata pada karate masih bisa bertahan sebagai bagian kesenian karate lewat lomba peragaan kata di berbagai acara karate internasional.
Kembali kepada Silat, bela diri ini secara kesenian sebenarnya sudah bagus dan bahkan mendapatkan pengakuan dari berbagai khalayak internasional. Sisi yang masih kurang adalah kesiapan bela diri ini untuk berlaga di bawah aturan MMA.
Selama masih ada upaya untuk mengagungkan masa lalu Silat yang khusus untuk perang, bela diri ini akan sulit bersaing di MMA yang orientasinya adalah olahraga. Tulisan ini tidak bertujuan untuk merendahkan silat.
Justru harapannya adalah tradisi ini mampu menyesuaikan dengan olahraga modern supaya para putra-putri Indonesia semakin memiliki kesempatan mengharumkan nama bangsa.
