kumparan
24 Apr 2019 19:01 WIB

Jurnalisme C&R, Jurnalisme Ilham Bintang

Tabloid Cek & Ricek Foto: Dok Cek & Ricek
SETIAP kali ada media cetak yang berhenti terbit, dada saya merasa sesak. Ulu hati terasa nyeri dan perut menjadi mulas. 'Tsunami' informasi dalam gelombang media sosial di era digital ini betul-betul sulit dibendung dan ditaklukkan, menyapu dan meluluhlantakkan media tradisional atau konvensional.
ADVERTISEMENT
Senja kala media cetak terbentang di cakrawala. Cahaya menguning dan memerah tampak di pelupuk mata. Semua menunggu waktu untuk menggelap dan berubah menjadi malam.
Saya baru membaca tampilan postingan dari H. Ilham Bintang--jurnalis senior yang saya hormati--bahwa tabloid Cek&Ricek (C&R), yang dilahirkan dan dibesarkan olehnya, berhenti terbit. Bersalin rupa menjadi media online.
Setelah 21 tahun menjadi bagian keluarga penggemar berita artis dan selebritas, C&R mengakhiri penerbitan cetaknya menyusul tayangan infotainment-nya. Selanjutnya, C&R beralih ke dunia maya. Sama seperti yang menimpa sejumlah media lain.
Saya pernah melahirkan media cetak (tabloid dan majalah) dan saya juga pernah menyaksikan 'kematiannya', penerbitan terakhirnya. Dan saya masih merasakan emosi itu; jangan tanyakan lagi. Kebanggaan sebagai jurnalis dengan media tempat saya mengabdi selama ini seperti terbang tersedot ke langit. Kaki terasa lemas dan tak berpijak di bumi lagi.
ADVERTISEMENT
.................
Daging kita satu
arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu
berdarah padaku
-Sutardji Calzoum Bachri.
SAYA pernah ikut berkantor di kawasan Kavling DKI - Meruya, Jakarta Barat, dan sedang menggarap tayangan infotainment Buletin Sinetron, ketika di gedung yang sama, tabloid C&R sedang dalam proses kelahirannya pada tahun 1998.
Saya masih terkenang akan ketegangan dan kegembiraan yang terpancar di wajah H. Ilham Bintang, selaku penggaggas dan pendirinya. Saat itu, dia menjadi bos saya di Buletin Sinetron, program infotainment pertama di televisi swasta Indonesia.
"Rasanya kayak nungguin anak lahir!" katanya, dengan memperlihatkan mimik nervous. Senewen.
Saya kira Bang Ilham--demikian saya memanggilnya--mengungkapkan perumpamaan yang tepat. Anak biologis dan anak ideologis--karya (jurnalistik)--sama-sama dinantikan dengan segenap kecemasan dan ketegangan yang mendebarkan.
ADVERTISEMENT
Segala daya upaya dilakukan dengan kehati-hatian agar anak lahir sempurna.
Ilham Bintang adalah sosok yang unik. Dia dibesarkan oleh harian Angkatan Bersenjata sebagai koran rezim pemerintah, yang mapan, tapi dalam keseharian saya kenal sebagai jurnalis yang kritis, skeptis, dan menerapkan kaidah ketat serta taat asas dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.
Sering kali, dalam obrolan serius--maupun ringan di antara waktu mengopi--di gedung Dewan Film, Jl. Menteng Raya 62, Jakarta Pusat, dia mengeluhkan kerja wartawan bidang hiburan yang asal-asalan. Dia mengeluhkannya, baik sebagai sesama jurnalis, Ketua PWI Seksi Film, maupun sebagai Kepala Humas Pantap FFI .
Pada dekade 1970-1980, media hiburan adalah media yang longgar aturannya. Wartawan menulis reportase dan profil sebagai karya jurnalistik dan 'mengarang bebas' nyaris tak jelas batasnya. Halaman hiburan, kebudayaan, halaman artis umumnya dikerjakan oleh reporter ‘buangan’ yang gagal di desk ekonomi dan politik, olahraga atau halaman lainnya.
ADVERTISEMENT
Akibatnya, narasumber kerap mengeluh--atau senang--karena terangkat sedemikian rupa--setelah sama sama ditulis tidak sesuai fakta. Yang mengeluh karena dirugikan, yang senang karena diuntungkan.
Tabloid C&R menegaskan kejelasan dan batas itu, menghapuskan stigma itu. Semua sumber yang ditulis diwawancarai, semua isu yang beredar dikonfirmasi kepada sumber utama dan paling dekat. Dan penulisannya memenuhi kaidah jurnalistik yang baik dan benar. Sesuai KEJ--Kode Etik Jurnalistik. Ada fakta dan data. Check and Recheck. Ada konfirmasi dan ada penyeimbang. Cover both side. Balance.

Lewat tabloid C&R, Ilham menegakkan produk jurnalistik yang taat asas, media cetak tabloid dan program infotainment yang bisa dipertanggungjawabkan isinya. Dia menerapkan jurnalisme check and recheck, yang tidak hanya menghibur, tapi juga mendidik dan mencerahkan.

ADVERTISEMENT
Jika pada era dekade 1980-1990 selain ada ‘Jurnalisme Kasih Sayang’ yang ditawarkan Arswendo Atmowiloto, maka di sisi lain juga ada ‘Jurnalisme Cek&Ricek’ yang diperkenalkan oleh H. Ilham Bintang.
Jurnalisme yang dianut C&R menolak memuja-muja artis, tapi juga mengharamkan main ‘hantam kromo’.
Dan kemudian yang mengejutkan. Kehadiran bayi C&R di tahun 1998 itu segera menggegerkan dan disambut masyarakat dengan antusias.
SAYA TERKENANG dan dibuat terkejut ketika tabloid C&R pada masa-masa edisi awal menampilkan laporan Dede Yusuf yang dikaitkan dengan keluarga Suharto. Hal yang tabu di masa itu. Dan ditampilkan dengan narasumber yang paling valid.
Ceritanya, nama Dede Yusuf disebut-sebut sebagai anak Suharto dan menjadi gosip sambil lalu, jadi bahan bisik-bisik di kalangan ibu ibu. Lewat C&R, faktanya menjadi terang benderang. Ternyata, bukan.
ADVERTISEMENT
Baik keluarga Cendana maupun Dede Yusuf menjadi lega, karena semua urusan jadi jelas.
Laporan utama Dede Yusuf berlanjut ke laporan hangat yang lain. Dan gol demi gol dari isu dan laporan yang dilempar ke pasar menghebohkan publik. Tiras C&R meroket. Dukungan tayangan infotainment--dengan nama yang sama--yang lebih dulu meluncur di RCTI (1997) menjadi paket yang lengkap.
H. Ilham Bintang meraup untung besar sebagai pengusaha pers, sebab program C&R beranak-pinak, di tengah booming tayangan infotainment pada masanya. Dia keluar dari zona nyaman dan mundur dari koran AB (1976 -1998) menjadi pengusaha pers di pasar bebas, dengan menerapkan kaidah jurnalistik cek dan ricek.
Dari redaktur di harian 'Angkatan Bersenjata' yang termanjakan oleh perlindungan rezim penguasa, tapi miskin materi, menjadi 'taipan' infotainment di 'pasar bebas' yang makmur sentosa.
ADVERTISEMENT

Dengan segala kontroversi yang mengelilinginya--khas orang sukses--selalu saya sampaikan kepada kawan kawan di lapangan bahwa Ilham Bintang adalah jurnalis yang bekerja keras. Gigih dan fokus selain visioner. Langkah-langkahnya layak ditiru jurnalis lain. Dia sosok yang obsesif--gelisah dan terobsesi terus menerus.

Dia menikmati kesuksesan sebagai ‘owners’ dan taipan media yang memiliki banyak tayangan infotainment di televisi swasta. Perjalanannya ke luar negeri selalu menempati kelas bisnis dan membawa serta keluarga. Putra-putrinya disekolahkan di luar negeri.
Mobilnya Mercy S-Class 350 sekelas mobil dinas presiden. Kabarnya juga punya apartemen mewah, selain aset gedung perusahaan dan pengembangan bisnis lainnya.
Sekiranya, kini dia makmur sejahtera maka saya tegaskan, dia layak mendapatkannya. Ilham Bintang mendapatkan apa yang diperjuangkannya dengan susah payah. Sudah selayaknya dia sejahtera.
ADVERTISEMENT
KETIKA para ‘dewa’ di PWI dan Dewan Pers cenderung ‘alergi’ mengelompokkan pekerja infortainment sebagai ‘jurnalis’, pekerja pers, Ilham Bintang-lah yang gigih memperjuangkannya. Berhasil meyakinkan publik, infotainment adalah karya jurnalistik, dan pekerjanya adalah wartawan. Tentu saja, sejauh dia mematuhi prinsip kerja jurnalistik secara professional, tegasnya.
PWI adalah organisasi pertama dan satu-satunya yang memberi pengakuan itu. Maka, produksi infotainment segera menjadi primadona di televisi, hampir semua televisi punya, bisa sampai tiga sampai lima program tayang tiap hari, stripping. Kalau ditotal jumlah alokasi waktunya, mengalahkan semua program news di semua televisi.

Kata kuncinya, karena karya jurnalistik, maka program itu bisa melenggang tanpa harus antre di Lembaga Sensor Film.

Ironisnya, Ilham sendiri ‘minoritas’ di antara pembuat program infotainment rumah rumah produksi (production house) yang kebanyakan tidak menerapkan asas jurnalistik yang baik. Dia menjadi jurnalis profesional yang berada di tengah kepungan kaum ‘penggosipamatiran, pewarta yang tidak kompeten, yang seperti di mana pun hanya mengejar koin, dan mengabaikan poin.
ADVERTISEMENT
Saya mengenal Ilham Bintang sejak dia masih bekerja di Harian Angkatan Bersenjata dan kemudian tiwikrama, mengubah bentuk di tabloid dan tayangan C&R. Ilham Bintang wartawan AB lahir kembali dengan tampilan baru dan mewujudkan jurnalisme ‘Cek dan Ricekmemboboti C&R.
Dia guru saya, dia sahabat, dia pelindung saya tempat saya mengadu, sewaktu-waktu bertanya dan meminta pertolongan, bila ada masalah di dunia kewartawanan. Kebetulan, dia juga pernah menjabat Ketua Bidang Pembelaan Wartawan di PWI Pusat, kini Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat.

Tabloid C&R edisi cetak telah berhenti terbit. Akan tetapi, tidak dengan jurnalisme C&R.

Dia hanya berubah bentuk dan media, dari cetak ke media digital. Media yang dia sebutnya akan 'mengejar' pembaca di pelosok bumi mana pun dia berada.
ADVERTISEMENT
Selama 21 tahun terakhir jurnalisme C&R telah identik dengan jurnalisme Ilham Bintang. Dan demikianlah juga seterusnya.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan