Konten dari Pengguna

Kuliah Sambil Kerja: Perjuangan Bertahan Hidup atau Pilihan Gaya Hidup?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Septin Nuraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay

Pemandangan mahasiswa yang terburu-buru menutup laptop usai jam kuliah berakhir, lalu bergegas mengenakan seragam kerja atau memacu sepeda motor menuju tempat kerja paruh waktu, kini makin mudah kita temui. Fenomena "mahasiswa bergelar ganda" sebagai pelajar sekaligus pekerja telah menjadi hal yang lumrah di kampus-kampus kita. Namun, jika kita mengamati lebih dekat, alasan di balik keputusan mereka menjalani dua peran ini ternyata sangat beragam dan menyimpan cerita yang bertolak belakang.

Di satu sisi, ada narasi manis tentang mahasiswa produktif: anak muda yang aktif mencari pengalaman, membangun jejaring profesional sejak dini, atau sekadar ingin mandiri secara finansial agar bisa membeli barang impian. Namun di sisi lain, ada realita yang jauh lebih keras. Bagi sebagian mahasiswa, bekerja di sela-sela waktu kuliah bukanlah pilihan modal gaya hidup, melainkan jalan tunggal agar mereka tetap bisa menyambung hidup dan tidak putus kuliah.

Mari kita telusuri perbedaan di antara kedua kelompok ini. Bagi kelompok mahasiswa dari keluarga berada, bekerja saat kuliah sering kali dipandang sebagai nilai tambah. Mereka mengambil pekerjaan paruh waktu di coffee shop kekinian, menjadi content creator, atau magang di perusahaan rintisan untuk mengasah soft skill. Pendapatan yang diperoleh sifatnya tambahan sebagai uang jajan tambahan atau modal untuk nongkrong dan berlibur. Jika pekerjaan tersebut mulai mengganggu jadwal kuliah atau terasa melelahkan, mereka memiliki kemewahan untuk berhenti kapan saja tanpa takut kehilangan tempat tinggal atau kesempatan belajar.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kelompok mahasiswa yang harus menanggung biaya hidup dan uang kuliah (UKT) sendiri. Bagi mereka, bekerja adalah soal bertahan hidup (survival). Tidak ada kata istirahat atau mengundurkan diri hanya karena lelah. Shift malam di toko kelontong, menjadi pengemudi ojek online hingga larut malam, atau mengajar les privat marathon dari satu rumah ke rumah lain adalah rutinitas yang wajib dijalani. Bagi kelompok ini, memilih untuk tidak bekerja berarti merelakan piring nasi yang kosong atau menerima surat drop out dari kampus.

Fenomena ini menegaskan bahwa latar belakang dan kelas sosial memainkan peran kunci dalam menentukan makna "kerja" bagi seorang mahasiswa. Paulo Freire, pernah menekankan bahwa pendidikan seharusnya menjadi alat pembebasan manusia dari penindasan dan ketimpangan sosial. Namun dalam kenyataan hari ini, sistem pendidikan tinggi sering kali belum sepenuhnya berpihak pada mereka yang berasal dari kelas ekonomi bawah.

Ketika biaya pendidikan semakin tinggi dan fasilitas beasiswa belum merata sepenuhnya, pendidikan tinggi seolah berubah menjadi arena kompetisi yang tidak adil. Mahasiswa dari kelas ekonomi atas bisa fokus sepenuhnya menyerap ilmu, berorganisasi, dan berprestasi. Sementara itu, mahasiswa dari kelas pekerja harus membagi energi dan fokusnya antara tugas akademis dan urusan perut.

Kondisi ini menciptakan jurang baru: mereka yang berjuang keras bertahan hidup sering kali dicap memiliki prestasi akademis yang "biasa saja" atau dianggap kurang aktif di organisasi kampus. Padahal, ketertinggalan tersebut bukanlah karena kurangnya kemampuan atau niat, melainkan karena waktu dan energi mereka telah habis terkuras hanya untuk memastikan mereka bisa hadir di ruang kelas pada esok hari. Sistem pendidikan yang ideal seharusnya mampu membebaskan mahasiswa dari himpitan ekonomi, bukan malah melestarikan ketimpangan tersebut.

Kuliah sambil kerja tidak bisa disaratkan secara mentah sebagai tren atau pilihan gaya hidup modern semata. Di balik istilah yang terdengar keren dan mandiri ini, terdapat cerminan riil dari jurang pemisah latar belakang sosial-ekonomi di ruang perguruan tinggi kita.

Melihat rekan mahasiswa yang bekerja, sudah sepatutnya kita tidak terburu-buru menghakimi. Bagi sebagian orang, itu adalah wadah aktualisasi diri dan pencarian jati diri. Namun bagi yang lain, itu adalah pertarungan sunyi untuk merajut masa depan yang lebih baik di tengah keterbatasan. Sudah saatnya perguruan tinggi dan regulator pendidikan melihat kenyataan ini secara lebih empati dengan menciptakan ekosistem kampus yang lebih ramah, terjangkau, dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.