Konten dari Pengguna

Keseimbangan Hidup melalui Prinsip Islam Wasathiyah

Kedutaan Besar Republik Islam Iran - Jakarta

Kedutaan Besar Republik Islam Iran - Jakarta

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kedutaan Besar Republik Islam Iran - Jakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Analisis Islam Wasathiyah dan Kesesuaiannya dengan Kehidupan Individual, Sosial, dan Internasional yang Seimbang di dunia Kontemporer

Oleh : Mehdi Imanipour - Kedua Organisasai Budaya dan Hubungan Islam Republik Islam Iran

Keseimbangan Hidup melalui Prinsip Islam Wasathiyah
zoom-in-whitePerbesar

Dalam rangka peringatan 1500 tahun kelahiran Nabi Muhammad saw. (Semoga shalawat senantiasa tercurahkan kepada beliau, keluarga dan para sahabatnya yang terpilih)

Pendahuluan

Dalam rangka peringatan 1500 tahun kelahiran Nabi Muhammad saw., berikut disajikan sebuah analisis tentang Islam Wasathiyah.

Islam moderat, atau sering disebut "Wasathiyah", adalah bacaan Nabi Muhammad saw. tentang Islam, yang mengalir di hati rakyat Indonesia dengan kebaikan dan keutamaannya.

Sebagaimana maklum bahwa tidak ada mazhab, sekte, atau pemikir yang menyebut dirinya ekstremis. "Menjunjung tinggi wasathiyah" adalah karakteristik terpuji yang diinginkan semua orang, baik secara implisit maupun eksplisit, dan mencoba mencirikan diri mereka melaluinya dalam tindakan atau opini.

Sayangnya, "jauhnya dari wasathiyah" menjadi sumber dari sebagian besar krisis individual dan sosial. Ini berarti bahwa apa yang tampaknya dipuji justru memiliki manifestasi yang tidak seimbang dalam praktik, dan hasilnya adalah adanya terorisme dan ekstremisme (ifrath) dalam agama, etnis, dan mazhab di satu sisi, serta kelalaian dan kekurangan (tafrith) yang ceroboh di sisi lain. Bahkan di panggung global, kita menyaksikan manifestasi kediktatoran ekstremis dan opresif berhadapan dengan koeksistensi damai berbasis kebenaran. Sumber dari kesatuan teologis dan perpecahan praktis ini adalah munculnya perbedaan fundamental yang akan kita bahas.

Konseptualisasi Islam Wasathiyah

Wasathiyah berarti jalan tengah, moderasi, dan memilih jalan di antara ifrath dan tafrith. Terdapat banyak ayat dalam Al-Qur'an mengenai menjunjung tinggi moderasi ideologis, sosial, dan ekonomi. Salah satu ayat yang paling sering dijadikan sandaran terkait wasathiyah dan moderasi Islam adalah QS. Al-Baqarah: 143. Asbabun nuzulnya adalah bahwa dalam kasus perubahan arah kiblat dari Yerusalem ke Mekah, kaum Yahudi yang fanatik mulai protes dan membuat keributan. Mereka ingin menjadikan hukum baru ini sebagai tanda kesesatan dan penyimpangan umat Islam dari jalan tauhid. Namun, Allah Swt. mengecam kedangkalan berfikir mereka yang hanya melihat sisi lahiriahnya saja, dan menyatakan bahwa dalam ritual keagamaan: "Sentralitas Kebenaran" adalah kriteria kebenaran dan orisinalitas. Yang penting adalah bahwa Allah menentukan kiblat ibadah dan bahwa doa dan ibadah ditujukan dengan menghadap kepada-Nya.

Pendekatan ini melembagakan aturan dasar yang harus dipraktikkan di antara umat Islam dan bersama Nabi-Nya:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat pertengahan (wasath) agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas kamu.”

Wasathiyah Islam bersifat universal dan komprehensif, sehingga mencakup semua persoalan dan urusan duniawi dan ukhrawi. Dengan proposisi penting ini, Islam telah menetapkan keseimbangan komprehensif antara ketuhanan dan kemanusiaan, ruh dan materi, dunia dan akhirat, wahyu dan akal, masa lalu dan masa depan, individu dan masyarakat, realitas dan cita-cita ideal, jabr dan ikhtiar. Sedemikian rupa sehingga tidak satu pun dari hal-hal yang tampaknya bertentangan dan bertolak belakang ini yang mendominasi yang lain, dan masing-masing dibahas berdasarkan kebutuhan dan posisinya.

Kata lain yang digunakan Al-Qur'an dalam konteks konsep wasathiyah adalah "Hanif". Al-Qur'an menyebut Nabi Ibrahim a.s. dan agamanya sebagai "Hanif". Dan Nabi Muhammad saw. diperintahkan untuk mengikuti agama wasathiyah Ibrahim a.s.

Dari ayat-ayat ini, dapat dilihat bahwa sentralitas kebenaran dan "tauhid" merupakan inti sari bersama Islam wasathiyah. Jika seorang Muslim sejati, yang mencari fitrah dan nurani, menghadap keharibaan Allah dalam segala aspek kehidupannya, ia akan terjauhkan dari jerat ifrath dan tafrith.

Ruh Tauhid Menolak Penghambaan kepada Selain Allah

Tauhid bukan sekadar keyakinan dalam hati, melainkan pemahaman bahwa dengan mengikuti persepsi ini, manusia diberikan tugas dan tanggung jawab. Tauhid ibarat ruh dalam tubuh seluruh keseimbangan Islam. Bagaikan udara yang tipis dan halus dalam seluruh bagian struktur dan tubuh yang disebut Islam ini.

Dalam pandangan dunia Islam, tauhid berarti bahwa dunia memiliki pencipta dan seluruh bagian dunia ini, hamba dan makhluk, tunduk pada kekuasaan-Nya. Ketika seorang Muslim memandang dunia ini dari perspektif Islam, ia melihatnya sebagai sebuah maujud yang terhubung dengan kekuatan yang Maha Tinggi, bukan maujud yang berdiri sendiri. Tauhid mengacu pada penolakan terhadap keilahian selain Allah dan merasakan ketidaksempurnaan selain Allah. Apa pun yang terbukti tentang Allah menjadi sangkalan para pengaku Tuhan.

Jika seseorang ingin menyembah Allah semata, yakni menjadi seorang monoteis dan bertauhid, ia juga harus menyerahkan ketaatannya secara eksklusif kepada-Nya, karena Dia adalah Tuhan semesta alam. Semua nabi diutus dengan paradigma tauhid ini. Semua nabi besar diutus untuk menyebarkan tauhid di antara manusia. Yaitu, melepaskan rantai ketaatan kepada selain Allah dari pikiran, tangan, dan leher manusia. Al-Qur'an sendiri menjelaskan makna ini.

Ketika tauhid dipandang dari perspektif ini, kita akan memahami bahwa tauhid adalah sebuah prinsip yang mengatur kualitas hidup masyarakat manusia berkaitan dengan sistem sosial dan orientasi moral, fitrah, nurani, dan sisi keilahian manusia di sepanjang masa dan kondisi.

Moderasi Beragama dan Rasial di Dunia Kontemporer, di Bawah Naungan Tauhid Sejati

Hasil dari pembacaan konsep tauhid semacam itu, yang tidak terbatas pada agama Islam, adalah menyediakan ruang bagi moderasi beragama dan moderasi lainnya di dunia kontemporer. Karena poros gerakan-gerakan ifrath dan tafrith beragama dan rasial, yang tak terelakkan mengarah pada anti-agama dan hilangnya agama, dan mengabaikan ruh tauhid agama.

Para ekstremis agama, mazhab, dan ras, dengan tujuan meraih dominasi dan otoritas yang lebih besar serta mengikuti hasrat egois dan sektarian mereka, secara sadar maupun tidak sadar menjadi pion di tangan kekuatan-kekuatan arogan yang, dengan mengikuti hasrat mereka, tunduk pada penghambaan selain Allah.

Hasrat dan kecenderungan kepada banyak Tuhan ini dari perspektif Islam setara dengan fenomena "politeisme" (syirik) yang disebut Al-Qur'an sebagai kezaliman yang besar.

Di sisi lain, tafrith dalam beragama dan mencabut keyakinan serta praktik beragama dari akar dan cabangnya merupakan bentuk lain dari arena permainan musuh-musuh agama Tuhan yang dekat dengan ambang "ateisme" serta pengingkaran terhadap Tuhan. Berfikir remeh dan tafrith dalam keyakinan beragama, meninggikan dunia di atas akhirat, materi di atas spiritual, jasad di atas ruh, naluri di atas fitrah, mengejar kesenangan di atas kemerdekaan, dan tirani di atas pencarian kebenaran, semuanya sama dengan menerima dan mengakui penghambaan kepada selain Allah.

Oleh karena itu, bersatu dalam ucapan untuk memuji dan mengagungkan wasathiyah, tetapi berpecah dalam perilaku yang mengarah pada politeisme dan ateisme, karena ruh tauhid, yaitu mengingkari penghambaan kepada selain Tuhan, belum dipahami dan bahkan diabaikan. Padahal, gagasan kembali kepada tauhid sejati dan definisinya hanya dalam konteks nilai-nilai sejati masyarakat yang mampu menjaga semangat agama moderat dan Islam wasathiyah, serta melindungi individu, masyarakat, dan hukum internasional dari penyimpangan dan bahaya ifrath dan tafrith.

Masyarakat cerdas dan tokoh-tokoh mulia dari negara sahabat Indonesia merupakan pendukung terbesar Islam wasathiyah, yang senantiasa dipuji dan dikagumi oleh seluruh umat Islam dan umat beragama lainnya.

Pada peringatan 1500 tahun Maulid Nabi Muhammad saw., sekali lagi saya sampaikan salam saya kepada bangsa dan pemerintah Muslim Indonesia.

*******