Tekno & Sains
·
13 Januari 2021 21:00

Menelisik Kata Semongko Lebih Jauh

Konten ini diproduksi oleh MEDIA DIDAKTIK
Menelisik Kata Semongko Lebih Jauh (435293)
Warga Indonesia layak untuk berbangga diri dengan perkembangan bahasa nasionalnya, bahasa Indonesia. Perlu diakui bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang cukup produktif. Hal ini lazim dengan jumlah penutur ratusan juta jiwa menjadikan bahasa Indonesia cukup produktif dengan istilah-istilah populer baru.
ADVERTISEMENT
Istilah populer tersebut sering kali berangkat dari generasi milenial atau generasi yang lahir sekitar tahun 1980-an hingga 2000-an yang cukup melek teknologi. Kepo, gabut, mager, baper, caper, santuy, anjir merupakan beberapa contoh yang membuktikan produktivitas bahasa oleh generasi muda.
Selain produktivitas bahasa yang memunculkan makna baru seperti contoh di atas, produktivitas lain juga tampak dalam perubahan makna. Pergeseran makna kata tersebut meliputi perluasan, penyempitan, penghalusan, pengasaran, dan perubahan makna.
Fenomena perubahan atau pergeseran makna yang terjadi pada sebuah kata atau istilah merupakan salah satu fenomena kebahasaan yang lumrah terjadi pada masa kini. Dilihat dari sisi sinkronis, sebuah kata atau leksem tidak akan mengalami perubahan pada maknanya.
Namun, hal sebaliknya akan terjadi apabila dilihat dari sisi diakronis. Dalam kurun waktu yang singkat, makna sebuah kata tidak akan mengalami perubahan, tetapi sebuah kata atau leksem berkemungkinan untuk mengalami perubahan makna dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal tersebut tidak sepenuhnya terjadi di tiap kosakata dalam suatu bahasa, hanya kosakata tertentu saja yang mengalaminya.
ADVERTISEMENT

Terdapat empat faktor yang memengaruhi terjadinya perubahan kata.

[1] sosial budaya, [2] pemakaian kata, [3] pertukaran tanggapan indra, [4] adanya asosiasi. Dalam buku “Linguistik Umum” yang ditulis Abdul Chaer.

Trending Jargon Tarik Sis, Semongko!

Beberapa waktu terakhir berbagai media sosial Indonesia ramai dengan jargon Tarik Sis, Semongko!. Bahkan, beberapa artikel menyebutkan bahwa jargon tersebut viral hingga ke mancanegara.
Mengulas dari faktualnews.co, jargon ‘Tarik Sis, Semongko!’ sebenarnya sudah ada sejak tahun 2005-2006 lalu, diperkenalkan oleh orkes dangdut Om Sera. Namun, jargon ini kembali muncul hingga viral ketika dibawakan oleh Ridho Soleh asal Banyuwangi, Jawa Timur. Ridho Soleh sendiri berharap semongko oleh masyarakat dimaknai sebagai semangato sampe tua (semangatlah sampai tua).
ADVERTISEMENT
Semongko sebenarnya dalam bahasa Jawa berarti buah semangka. Kata semongko tersebut kemudian mengalami pergeseran makna setelah viral beberapa waktu lalu.

Mengukur Pandangan Masyarakat Terkait Istilah 'Semongko'

Semantik secara sederhana adalah salah satu cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna kata. Dalam artikel ini penulis akan membahas mengenai makna kata semongko dalam jargon Tarik Sis, Semongko!.
ADVERTISEMENT
Saya melakukan penelitian ini secara kuesioner, beberapa waktu lalu. Dari 46 responden yang berpartisipasi dalam kuesioner ini 78.3% menyatakan sering mendengar atau melihat di media sosial istilah semongko sejak viral hingga saat ini.
Selain itu, dari 46 partisipan 65,2% responden mengaku bahwa mereka sesekali juga menggunakan kata semongko ini dalam kesehariannya. Meski menggunakan istilah tersebut dalam kesehariannya 39,1% responden tidak mengetahui makna semongko yang sebenarnya. Mereka hanya mengetahui bahwa semongko merupakan sebuah ajakan untuk bernyanyi dan berjoget.
Persentase responden yang menjawab semongko berarti semangato sampek bongko atau semangatlah sampai tua sebesar 41,3%. Lalu jumlah persentase responden yang menjawab semongko sama dengan kata sumangga atau kata plesetan untuk mempersilakan hanya sekitar 19,6%.
ADVERTISEMENT

Dalam Teori Semantik

“Dalam ilmu semantik istilah semongko ini mengalami perkembangan bahasa berupa perubahan (makna) total. Faktor yang memengaruhi perubahan makna tersebut adalah adanya proses asosiasi. Proses asosiasi adalah adanya hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran itu.”
Secara sederhana dapat dikatakan apa yang diucapkan atau diujarkan berlainan makna dengan apa yang tergambarkan atau terdefinisikan oleh pikiran seseorang.
Sama halnya dengan istilah semongko pada saat ini. Istilah semongko sendiri berbeda maknanya dengan istilah semangka atau semongko (bahasa Jawa) pada umumnya, tergantung pada konteks kalimatnya.

Contoh Makna dari Kata Semongko

Pertama, secara denotasi dalam KBBI semangka diartikan sebagai tumbuhan menjalar, buahnya bulat dan besar, berwarna hijau dan halus, daging buahnya berwarna kuning, atau merah banyak mengandung air dan manis, ada yang berbiji dan ada pula yang tidak berbiji; (ke)mendikai; tembikai.
ADVERTISEMENT
Kedua, makna kata semongko akan berbeda dalam konteks kalimat yang cenderung memiliki makna konotasi berupa ‘pemberian semangat’. Kedua contoh kalimat tersebut sama-sama tidak akan berterima apabila semangka dan semongko saling bertukar posisi. Hal inilah yang disebut sebagai asosiasi dalam ilmu semantik.
*
(MRIFKIKURNIAWAN/13/1/2020/PBI/UMM)
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white