Bisnis Viral Belum Tentu Untung: Pentingnya Studi Kelayakan Sebelum Memulai

Mahasiswa S1 Manajemen Konsentrasi Manajemen Keuangan Universitas Pamulang. Menulis tentang keuangan, bisnis, karier, dan hal-hal yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Mega Rosmalina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Coba ingat-ingat. Pernahkah kita melewati gerai baru dengan antrean mengular sampai ke trotoar, lalu beberapa bulan kemudian lewat lagi dan menemukan papan "disewakan" terpasang di sana? Kejadian seperti ini sudah sangat akrab di kota-kota besar kita.

Sekarang bayangkan seorang kawan, sebut saja Rani. Ia melihat video jajanan baru ditonton jutaan kali, antreannya panjang, kolom komentarnya penuh. "Kalau seramai itu, pasti untung," pikirnya. Tabungan ia keluarkan, tempat ia sewa, peralatan ia beli. Rani hanyalah tokoh rekaan, gambaran dari banyak orang yang mungkin kita kenal.
Masalahnya, ramai dan untung adalah dua hal berbeda. Ramai mengukur perhatian. Untung diukur dari angka: berapa modal yang tertanam, berapa laba tiap porsi, dan berapa lama baru balik modal. Rani tidak sempat menghitung semua itu.
Menurut RRI (10 Juni 2026), popularitas kuliner viral memang sering tidak bertahan lama. Selera konsumen terus berubah, lonjakan pembeli tidak selalu sanggup dilayani, dan usaha yang hanya mengejar viral cenderung lupa membangun identitas merek. Kuncinya, kata laporan itu, ada pada pemahaman yang dalam tentang kebutuhan konsumen.
Polanya bisa kita lihat di dunia nyata. Warunk Upnormal sempat jadi perbincangan karena gerainya sepi dan tutup di berbagai kota, seperti dilaporkan Almadinah Putri Brilian di Detik Finance (8 Februari 2023). Ketua Umum Aprindo Roy N. Mandey menyebut satu penyebab umum tutupnya gerai makanan dan minuman: membuka gerai tanpa menghitung persaingan, demografi, dan jumlah penduduk sekitar. Tentu sebabnya tidak tunggal. Pengelola gerai di Gresik, misalnya, mengaku tutup karena pandemi.
Dari kisah-kisah seperti ini, ada tiga jebakan yang sering datang bersamaan. Pertama, permintaan yang cuma sesaat dipasangkan dengan investasi yang mengikat bertahun-tahun. Sewa dan peralatan jalan terus, sementara pembeli bisa surut dalam hitungan bulan. Kedua, margin yang tidak pernah dihitung. Antrean panjang belum tentu laba, sebab bahan baku, sewa, promosi, dan potongan aplikasi pesan-antar ikut menggerus penjualan. Ketiga, pesaing yang cepat meniru. Produk yang mudah dibuat cepat ditiru, dan harga turun sebelum modal kembali.
Lalu apa yang bisa Rani lakukan? Jawabannya terdengar kaku, tetapi sebenarnya sederhana: studi kelayakan. Intinya hanya menjawab satu pertanyaan sebelum uang keluar, yakni layakkah usaha ini dijalankan? Kajian Miranti Putry dan rekan-rekan dari Universitas Serang Raya tentang UMKM makanan menggambarkannya sebagai cara terstruktur menilai usaha dari berbagai sisi: pasar, teknis, hukum, lingkungan, manajemen, keuangan, sumber daya manusia, hingga sosial dan politik.
Tidak perlu langsung serumit itu. Dalam studi kasus UMKM kue di Kota Serang pada kajian tersebut, sang pemilik bermodal awal sekitar Rp19 juta dengan kas bersih rata-rata Rp4 juta sampai Rp6 juta per bulan. Dari angka-angka itu ia bisa menghitung bahwa modalnya kembali dalam hitungan bulan. Hitungan sesederhana itulah yang membedakan keputusan dari sekadar ikut-ikutan.
Ada satu hal lagi yang tidak boleh terlewat, dan waktunya sudah dekat. BPJPH menegaskan, mulai 18 Oktober 2026 seluruh produk makanan dan minuman pelaku usaha mikro dan kecil wajib bersertifikat halal. Biaya dan waktu mengurusnya perlu masuk hitungan modal sejak awal.
Kalau Rani bisa mengulang dari awal, saya membayangkan ia akan melakukan empat hal. Menjual dulu dalam skala kecil lewat pre-order atau bazar sebelum menyewa tempat. Menghitung margin tiap porsi dengan jujur, lengkap dengan kemasan, tenaga kerja, sewa, promosi, dan potongan platform. Menentukan titik impas, lalu bertanya: kalau penjualan hanya separuh dari harapan, berapa lama usaha ini sanggup bertahan? Dan mengurus izin sejak awal, termasuk sertifikasi halal, sambil mencari pendampingan dari dinas koperasi dan UMKM atau perguruan tinggi.
Viral sebenarnya tidak salah. Ia pintu masuk yang murah untuk mendatangkan pembeli pertama. Tetapi yang membuat sebuah usaha bertahan adalah hal-hal yang tidak muncul di layar: margin yang sehat, modal yang terukur, izin yang lengkap, dan pelanggan yang mau kembali. Antrean selalu bubar pada akhirnya. Angka-angka dalam studi kelayakanlah yang menemani pemilik usaha setelah keramaian berlalu. Jadi sebelum ikut arus, hitung dulu, baru mulai.
