Konten dari Pengguna

Gaji Sudah Naik, Karyawan Tetap Resign: Kebutuhan Apa yang Terlewat?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mega Rosmalina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ruang kerja. Foto: Pexels/Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ruang kerja. Foto: Pexels/Pixabay

Manajemen sudah menaikkan gaji. Tunjangan diperbaiki. Tetapi surat pengunduran diri tetap masuk ke meja HRD. Di sisi lain, ada karyawan yang bertahan, tetapi diam-diam terbebani. Kedua fenomena ini sering dibaca sama "kurang bersyukur" atau "kutu loncat". Padahal keduanya bisa jadi sinyal bahwa ada kebutuhan karyawan yang tidak tersentuh oleh angka di slip gaji.

Hierarki kebutuhan Maslow dalam data pekerja Indonesia

Sejak 1943, psikolog Abraham Maslow menjelaskan bahwa manusia digerakkan oleh lima kebutuhan yaitu fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri. Teori ini diajarkan di hampir setiap kelas manajemen dan komunikasi bisnis, biasanya digambarkan sebagai piramida yang dinaiki satu tingkat demi satu tingkat. Gaji dianggap menjawab kebutuhan dasar, sedangkan kebutuhan di atasnya dijawab oleh hal lain.

Data pekerja Indonesia tidak dirancang untuk menguji teori ini, tetapi bisa dibaca dengan kerangkanya. Hasilnya menarik, kelima kebutuhan itu tampak bersuara bersamaan, bukan bergiliran.

Gaji penting, tetapi tidak sendirian

Gaji jelas berpengaruh. Laporan Salary Pulse Jobstreet by SEEK, yang disurvei pada Februari 2026 terhadap 1.010 pekerja Indonesia berusia 18-64 tahun, menemukan bahwa karyawan yang merasa kompensasinya tidak memadai memiliki kemungkinan 2,2 kali lebih besar untuk mempertimbangkan resign. Namun 81% responden menilai gajinya adil, dan hanya 66% yang benar-benar puas. Antara "adil" dan "puas" ada ruang yang tidak bisa diisi angka.

Gambaran senada muncul dalam Workplace Happiness Index Indonesia 2025-2026, survei Jobstreet by SEEK terhadap sekitar 1.000 pekerja berusia 18-64 tahun pada Oktober-November 2025 yang dirilis Februari 2026. Sebanyak 54% pekerja masih menginginkan gaji lebih tinggi. Tetapi yang paling membuat mereka bahagia adalah rekan kerja atau tim (77%), lokasi kerja (76%), dan tujuan kerja yang bermakna (75%).

Dua survei lain memberi gambaran yang beragam. Survei Michael Page pada akhir 2022 hingga awal 2023 terhadap 2.203 responden di Indonesia menemukan kemajuan karier sebagai alasan utama resign (25%), disusul keseimbangan kerja dan work life balance, atau budaya perusahaan (19%), sementara ketidakpuasan gaji hanya 10%. Survei Jakpat pada November 2022 terhadap 832 responden Gen Z menemukan alasan terbanyak adalah gaji yang tidak sesuai. dengan beban kerja (64,9%), disusul jam kerja berlebihan (56,9%). Perhatikan bunyinya, yang dikeluhkan adalah gaji yang tidak sepadan dengan pekerjaan, bukan semata nominalnya.

Keempat survei ini tidak bisa dibandingkan langsung karena waktu, responden, dan pertanyaannya berbeda. Yang bisa disimpulkan hanyalah pola umumnya. Gaji penting, tetapi bukan satu-satunya alasan.

Membaca data dengan peta Maslow

Rasa aman. Di samping 54% yang mengincar gaji lebih tinggi, Workplace Happiness Index mencatat tuntutan beban kerja (56%) dan tingkat stres (44%) sebagai hal yang membebani pekerja.

Sosial. Rekan kerja menjadi sumber kebahagiaan terbesar, dipilih 77% responden.

Penghargaan. Gen Z yang baru memulai karier melaporkan tingkat kebahagiaan terendah, 76%, dan sering merasa kurang dihargai. Selisih 81% dan 66% dalam Salary Pulse, serta keluhan gaji yang tidak sepadan dalam survei Jakpat, bisa dibaca sebagai jarak antara dibayar dan merasa dihargai.

Aktualisasi diri. Tujuan kerja yang bermakna dipilih 75% pekerja sebagai sumber kebahagiaan, dan kemajuan karier menjadi alasan resign teratas dalam survei Michael Page.

Bahagia, tetapi tetap terbebani

Ada satu paradoks yang layak dicatat. Dalam Workplace Happiness Index, 82% responden menyatakan cukup atau sangat bahagia di tempat kerja, tetapi 56% responden juga menyebut tuntutan beban kerja masih membebani mereka. Kepemimpinan senior tercatat sebagai faktor ketiga yang paling berpengaruh terhadap kebahagiaan, namun kepuasan terhadapnya baru 64%, yang oleh laporan tersebut dibaca sebagai sinyal perlunya transparansi dan komunikasi dua arah antara manajemen dan staf. Artinya, karyawan bisa terpenuhi kebutuhannya di satu titik dan bocor di titik lain. Tidak resign belum tentu berarti tidak terbebani.

Membaca "kebutuhan yang bocor"

Menurut saya, alih-alih bertanya "berapa kenaikan yang cukup?", HR bisa memulai dari lima pertanyaan sederhana untuk setiap tim. Apakah penghasilan dan status kerja terasa aman? Apakah beban dan jam kerja masuk akal? Apakah ada rasa memiliki? Apakah kontribusi diakui? Apakah ada jalur untuk berkembang? Kebutuhan yang paling "bocor" akan berbeda antarindividu, dan itu perlu digali lewat percakapan, bukan ditebak dari usia atau jabatan.

Menaikkan gaji tetap penting, tetapi tidak cukup menjawab mengapa orang bertahan atau pergi. Data pekerja Indonesia menunjukkan bahwa rasa aman, hubungan dengan rekan, penghargaan, dan makna kerja dicari bersamaan. Maslow masih berguna, dengan catatan kita berhenti memperlakukannya sebagai tangga yang harus dilalui satu per satu. Bagi perusahaan, pelajarannya sederhana, jangan hanya menghitung siapa yang resign, tetapi dengarkan juga siapa yang diam-diam bertahan dengan beban berat. Sebab dalam komunikasi bisnis, pertanyaan yang paling menentukan sering kali bukan "berapa yang kamu mau?", melainkan "apa yang sebenarnya kamu butuhkan dari pekerjaan ini?"

Mega Rosmalina, Mahasiswa Sarjana Manajamen Keuangan Universitas Pamulang

Rosita, Mahasiswa Sarjana Manajamen Keuangan Universitas Pamulang