Konten dari Pengguna

Kepribadian Anak Muda: Dibentuk Keluarga atau Media Sosial?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mega Rosmalina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Mega Rosmalina dan Rosita

Coba ingat: apa hal pertama yang kamu buka setelah bangun tidur? Bagi banyak anak muda, jawabannya media sosial. Survei APJII 2025 mencatat 87,8 persen Gen Z Indonesia sudah terhubung ke internet, dan media sosial menjadi alasan utama orang mengakses internet.

Lalu muncul pertanyaan lama dengan wajah baru: siapa sebenarnya yang membentuk kepribadian anak muda hari ini?

Keluarga membentuk dasar kepribadian

Kepribadian adalah pola khas seseorang dalam berpikir, merasa, dan bertindak. Ia tidak jadi dalam semalam, tetapi tumbuh pelan-pelan. Menurut kajian Ayun (2017), kepribadian anak ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan, dengan orang tua sebagai lingkungan pertama yang mereka temui.

Genetik ibarat bahan dasar, sedangkan pola asuh, cara orang tua berkomunikasi, dan kebiasaan di rumah ikut mengolahnya. Bayangkan dua anak: satu terbiasa diajak berdiskusi soal pilihannya, satu lagi selalu diminta menurut. Keduanya bisa tumbuh dengan keberanian bersuara yang berbeda.

Bukan hanya aturan yang diberikan orang tua, tetapi juga kualitas hubungan yang terbangun di dalam keluarga. Anak yang merasa didengar dan mendapatkan kehangatan dari orang tua memiliki pengalaman sosial yang berbeda dengan anak yang tumbuh dalam hubungan yang penuh konflik atau minim komunikasi. Penelitian Kushernanda, Pratitis, dan Arifiana (2023) pada remaja di Indonesia menunjukkan bahwa kelekatan dan kehangatan orang tua berkaitan dengan perilaku prososial remaja, salah satunya karena kedekatan itu ikut menumbuhkan rasa empati pada anak.

Media sosial menjadi lingkungan baru

Ilustrasi anak muda memfoto makanan sebelum menyantapnya untuk diunggah ke media sosial. Foto: Yoav Aziz/Unsplash

Seiring bertambah usia, dunia anak muda meluas ke luar rumah, dan kini ke layar. Di media sosial mereka menonton konten, mengikuti influencer, ikut tren viral, menerima komentar dan like, sampai merasakan FOMO, yaitu takut ketinggalan dari apa yang sedang ramai. Algoritma platform pun ikut berperan menentukan identitas dan gaya mana yang tampak populer.

Namun, media sosial tidak selalu membuat anak muda sekadar mengikuti apa yang sedang populer. Media sosial juga dapat menjadi ruang untuk mencoba berbagai cara menampilkan diri dan menemukan minat yang sesuai dengan dirinya. Kajian Pasenrigading (2025) yang merangkum sejumlah penelitian tentang remaja Indonesia menjelaskan bahwa media sosial dapat berfungsi sebagai ruang eksplorasi identitas, tempat remaja mencoba berbagai peran lewat interaksi dan tanggapan dari pengguna lain, sehingga mereka belajar bagaimana ingin dilihat oleh orang lain sekaligus bagaimana melihat dirinya sendiri.

Media sosial memengaruhi identitas dan perilaku

Kajian tentang budaya tren menunjukkan remaja belajar apa yang dianggap “keren”, “estetik”, atau “relatable” dari narasi visual yang beredar. Ada dorongan untuk tampil sesuai standar tertentu, sehingga identitas yang ditampilkan sering kali sudah dipilih dan dirapikan.

Perbedaan pengaruh itu dapat terlihat dari cara seseorang

menggunakan media sosial. Mengunggah karya, berdiskusi, atau bergabung dalam komunitas membuat seseorang lebih aktif berinteraksi. Sebaliknya, hanya melihat kehidupan orang lain tanpa banyak berinteraksi dapat memberikan pengalaman yang berbeda. Karena itu, membahas pengaruh media sosial hanya berdasarkan durasi penggunaan menjadi kurang lengkap. Penelitian Akbar dan Hakim (2024) pada mahasiswa di Indonesia menemukan bahwa perbandingan sosial menjadi jembatan antara perilaku berjejaring sosial, baik aktif maupun pasif, dengan munculnya kecemasan sosial, dan penggunaan pasif lebih konsisten berkaitan dengan kecemasan itu dibanding penggunaan aktif.

Meski begitu, kita perlu berhati-hati. Media sosial jelas bisa memengaruhi kebiasaan, selera, perilaku, dan cara kita menampilkan diri. Namun itu belum tentu berarti kepribadian inti ikut berubah.

Keluarga vs media sosial: bukan lomba

Karena itu, pertanyaannya bukan siapa yang menang. Keluarga dan media sosial bertemu di dalam diri anak muda. Nilai dan cara berpikir yang dibawa dari rumah bisa menjadi filter saat kita menyerap pengaruh dari layar. Dua orang dengan jam layar yang sama pun bisa merasakan hal yang berbeda.

Dampak positif dan negatif

Sebuah tinjauan literatur menyebut paparan konten yang baik dapat menguatkan sifat prososial seperti empati dan kolaborasi. Sebaliknya, konten buruk seperti cyberbullying dan standar kecantikan yang tak terjangkau dapat memicu kecemasan sosial. Jadi media sosial bukan musuh; yang menentukan adalah apa yang dikonsumsi dan bagaimana kita menyikapinya. Perlu dicatat, tinjauan seperti ini menggambarkan kecenderungan, bukan bukti sebab-akibat.

Ketika dunia online bertemu dunia nyata

Pengaruh keluarga dan media sosial sebenarnya tidak berjalan di dua dunia yang sepenuhnya terpisah. Apa yang dialami anak muda di rumah dapat memengaruhi cara mereka menggunakan media sosial. Sebaliknya, pengalaman yang diperoleh di media sosial dapat terbawa ke kehidupan sehari-hari. Penelitian Alfi, Krisnatuti, dan Defina (2024) terhadap remaja akhir di Indonesia menunjukkan adanya keterkaitan antara interaksi remaja dengan orang tua dan teman sebaya, penggunaan media sosial, serta keterampilan sosial mereka.

Peran keluarga di era digital

Ilustrasi anak bermain ponsel dengan keluarga. Foto: César Couto/Unsplash

Tinjauan yang sama menyebut keluarga yang harmonis dan pola asuh yang efektif mendorong perkembangan moral yang baik. Di era digital, itu bisa berarti mengobrol tentang apa yang dilihat anak, bukan hanya melarang. Orang tua juga bisa menjadi teladan dalam bermedia sosial, dan anak muda bisa terbuka soal tekanan yang mereka rasakan di dunia maya.

Kepribadian anak muda tidak dibentuk oleh satu lingkungan saja. Keluarga meletakkan dasar, sementara media sosial menjadi ruang baru yang ikut memengaruhi cara mereka melihat diri dan bergaul. Mungkin pertanyaan terpentingnya bukan “siapa yang paling berpengaruh?”, melainkan “bagaimana berbagai lingkungan ini membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan melihat diri sendiri?” Coba tanya dirimu: mana nilai yang benar-benar milikku, dan mana yang sekadar ikut arus?

Tentang Penulis

Mega Rosmalina, Mahasiswa S1 Manajemen Konsentrasi Keuangan Universitas Pamulang

Rosita, Mahasiswa S1 Manajemen Konsentrasi Keuangan Universitas Pamulang