Teman, Kamu Hebat!

Tulisan dari Mega Suharti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyak manusia memiliki teman. Namun, hanya beberapa yang memiliki teman istimewa. Sebagai penampungan keluh kesah dan gudangnya pendapat. Terkadang setiap kisahnya dapat menjadi pelajaran untuk diri.
Dia sahabatku, Dini Hasanah Mahendra. Gadis kuat dengan sampul yang selalu ceria, menebar senyum seolah ia tak merasa nestapa. Anak sulung dari tiga bersaudara ini mempunyai pundak sekuat baja. Beban hidupnya seolah bukan apa-apa. Walau tak jarang ia menangis juga.
Aku dan Dini berteman lebih kurang 3 tahun. Banyak hal yang telah aku dan ia lakukan. Bahkan setiap keadaan duka cita, kami ada satu sama lain untuk saling menguatkan.
Setiap akhir pekan, kami menyempatkan untuk bermain bersama. Sekadar melepas penat setelah enam hari penuh bergelut dengan aktivitas masing-masing. Dini dengan pekerjaannya, dan aku dengan kuliah serta tugasku yang tetap menghantui setiap akhir pekan.
Masih melekat olehku bagaimana tangisnya tumpah ruah. Ibunya pergi untuk bertemu Tuhan Yang Maha Esa, tidak akan pernah kembali dalam peluknya. Semua teman menangis mendekapnya. Aku seakan merasakan perih hatinya. Siapa yang siap ditinggalkan oleh orang tercinta, bahkan aku pun saat itu tak siap memikirnya.
Saat aku mengunjungi rumahnya sehari setelah hari duka, rumahnya terlihat sepi, semakin menggambarkan suasana duka cita. Tidak ada siapapun selain Dini yang duduk melamun di depan rumahnya, entah apa yang dipikirkannya, namun senyumnya melebar saat aku dan dua teman lain menghampirinya. “Jangan bengong aja! Nanti kesambet!”. Ucapku padanya.
Dini yang selalu nampak tegar dari sampulnya, membuatku dapat mengerti, bahwa kita harus tegar dalam setiap keadaan. Karena, yang hidup pasti ada waktunya berpulang pada Sang Pencipta. Tinggal bagaimana kita menjalani hidup yang tidak biasanya.
Dini selalu menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi keluh kesah. Layaknya anak remaja pada umumnya, sifatnya berubah-ubah. Ia bisa menjadi sangat keibuan, tapi kadang juga kekanak-kanakan. Sifatnya yang keibuan tercermin dari tugasnya yang harus berperan sebagai ibu sekaligus kakak untuk kedua adiknya.
Begitu banyak yang dapat aku pelajari dari dirinya. Bahkan, saat aku pun merasakan kehilangan sepertinya, Dini tak henti mengajarkan bagaimana kuatnya hidup tanpa Ibu. Terus berjalan ke depan, menikmati hidup selanjutnya.
Kekagumanku semakin menjadi-jadi, setelah ayah Dini berpulang menyusul ibu Dini yang dua tahun lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Membuat Dini, si gadis usia 19 tahun harus berjuang demi adik-adiknya. Menambah perannya sebagai kakak, ibu, sekaligus ayah untuk ke dua adiknya. Usia yang cukup belia untuk beperan sebagai orang tua.
Dini menunda keinginannya untuk kuliah. Itu ia lakukan semata demi adiknya bisa menyelesaikan sekolah. Ia selalu berucap, “Ternyata jadi orang tua itu sulit, Me.” ucapan yang membuatku paham bagaimana susahnya memahami dua sifat yang berbeda, membiayai hidup dua anak manusia, dan bagaimana mendidik agar kedua adiknya kelak menjadi hebat sepertinya.
Terima kasih telah menjadi inspirasiku menjadi kuat, penampungan setiap laraku yang membeludak, dan pendengar dengan sejuta solusinya. Tetap bersinar dan jangan redup walau hanya sesaat. Tunjukkan kamu pun sama seperti mereka. Hanya Tuhanlah mempunyai kehendak atas kehidupan kita. Tetaplah menjadi sahabat dengan sejuta kekuatan jiwa.
(Mega Suharti Rahayu)
