Tidak Semua Rasa Harus Terbalas

Tulisan dari Mega Suharti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kisah remaja tidak luput dari suka menyukai seseorang. Entah itu kakak kelas, teman sekelas, dan lain sebagainya. Namun, memang terkadang rasa tidak harus berbalas, membuat kita hanya bisa memelas.
Satrio Kurniawan, teman sekelasku yang pernah aku kagumi dulu. Orangnya pendiam, baik, namun kadang menyebalkan. Aku lupa bagaimana awal mula rasa suka itu ada, tiba-tiba aku selalu bahagia bila dekat dia.
Awalnya semua biasa saja. Aku dapat dengan leluasa berbincang dengannya, duduk bersamanya, bahkan berbagi ceritaku kepadanya. Jangankan berbagi cerita, aku bahkan bisa dengan mudah mengoloknya.
Namun, ketika sadar perasaan itu ada, aku tidak berani dekat-dekat dengannya. Selalu takut jika dia tahu perasaanku yang sebenarnya. Perasaan yang sudah melampaui dari sekadar teman. Aku tidak lagi melihatnya sebagai teman biasa, namun melihatnya sebagai seorang laki-laki yang aku kagumi.
Satrio bukan hanya dikagumi oleh satu atau dua perempuan. Beberapa teman kelasku pun menyukai dia, bahkan tak jarang menggodanya.
Melihat banyaknya perempuan yang menyukai Satrio membuatku sadar, mungkin aku hanya seperti bayangan, yang terlihat namun tak bisa dirasakan kehadirannya. Wajahku pun tidak sebanding dengan mereka yang juga mengaguminya.
Lama perasaan itu ada dan kupendam tanpa berani mengungkapkan. Bahkan aku hanya berani memandanginya dari kejauhan, ketika ia asik bersenda gurau dengan teman perempuan, sambil aku berkhayal jika aku yang ada di sana.
Tetapi, terkadang aku mencoba mencuri perhatiannya. Menghampirinya dengan berlaga minta diajarkan mata pelajaran matematika. Ya, Satrio sangat handal di pelajaran yang menurut kebanyakan orang menyebalkan. Itu juga menjadi nilai tambah mengapa banyak teman perempuan menyukainya.
Sungguh menyukai dalam diam sangat melelahkan. Aku tak bisa marah ketika cemburu menyerang. Karena, kita hanya teman. Jika kuungkapkan, sama saja aku memutus ikatan pertemanan. Karena, Satrio akan menjauhiku kemungkinan.
Namun, entah setan apa yang menyerang. Jari-jariku menari dengan handal. Menuangkan semua perasaan yang selama ini kupendam. Aku bahkan masih ingat hari dan tanggal itu, yang sebenarnya sangat memalukan.
Kemudian, dengan sangat kurang ajar, jariku mengirim pesan tersebut. Pesan yang berisi pengungkapan, mengenai perasaanku yang tak pernah selama ini berani aku utarakan. Untung saja aku hanya mengungkapkan, agar aku tahu bagaimana tanggapannya kepadaku. Karena, setelah pesan itu dikirim, ia tak pernah membalasnya, bahkan ia menjaga jarak denganku untuk beberapa pekan, sampai akhirnya kami mulai biasa saja dengan keadaan.
Bohong jika tidak merasa terbuang. Aku masih sama dengan semua perempuan diluaran. Sakit hati ketika perasaan tak terbalaskan. Butuh waktu untuk aku menerima kenyataan, bahwa orang yang aku sukai tidak menyukaiku.
Kata temanku, “Kodrat wanita itu dikejar bukan mengejar!” ya, kata yang cukup menohok untukku. Menggambarkan rendahnya aku sebagai perempuan, karena menyukai dan mengungkapkan duluan. Padahal, menyukai sesuatu itu adalah hak orang. Lagi pula, karena hal itu, aku jadi tahu sampai mana aku harus berjuang.
Berhenti mengharapkan dan fokus pada kehidupan. Karena aku selalu yakin, ketika kita dibuang, pasti ada orang lain yang mengistimewakan.
(Mega Suharti Rahayu)
