Museum Kala Senja

R. Meganda Putra Brotodihardjo, kelahiran Bandung 2009. Siswa SMA Trinitas Bandung. Menulis untuk menginspirasi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari R Meganda Putra Brotodiharjdo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sore itu, cahaya matahari masuk perlahan melalui kaca besar museum, setiap sudut ruangan dipenuhi benda-benda klasik yang berdiri diam, tetapi kehadirannya seperti berbisik menyimpan cerita masa lalu. Ornamen kayu tua, kamera bergagang kulit, sepeda zaman dahulu, hingga mobil VW kuning yang imut, semuanya terasa hidup seperti sedang menatap langkah kami.
Rombongan sekolah memenuhi museum dengan suara langkah dan bisik kagum. Namun entah bagaimana, keramaian itu terasa jauh dariku. Gaby teman sekelasku yang selama ini hanya sebatas teman justru terasa sangat dekat. Senja itu, keberadaannya terasa lain. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Sejak perjalanan di bus, aku sudah merasakannya. AC bus berhembus pelan, membawa aroma daun teh yang entah kenapa terasa menenangkan. Cahaya luar menembus jendela dan memantul lembut setiap kali bus melewati celah pepohonan.
“Kamu sudah baca tugasnya belum?” tanya Gaby sambil menggoyang-goyangkan lembar tugas di tangannya, seperti sedang mengajak kertas itu untuk ikut berbicara.
“Sedikit, tapi nanti kita kerjain bareng ya.” jawabku dengan senyum kecil.
Gaby tersenyum. Senyumnya seperti percikan cahaya kecil yang membuat detakku berdetak kencang. “Lebih gampang kalau bareng” ujar Gaby.
Kalimat yang sangat sederhana itu seperti alunan melodi musik kesukaanku yang jatuh di tengah keheningan hati. Ada sesuatu yang menghangatkanku pelan-pelan, seperti cahaya pagi yang merayap masuk ke jendela kamar.
Di museum, rombongan kami mulai berkeliling. Ada yang memotret tanpa henti, ada yang mencatat dengan terburu-buru, dan ada yang tertawa sambil menunjuk barang-barang unik yang menurut mereka aneh.
Kami memasuki sebuah pesawat tua yang kini hanya menjadi saksi bisu waktu. Bau logam dan ornamen dalam pesawat bercampur menjadi aroma nostalgia yang sulit dijelaskan. Lampu-lampu kecil di dalamnya memantulkan warna tembaga, seakan pesawat itu masih ingin terbang sekali lagi.
“Aku suka tempat kayak gini,” kata Gaby sambil memegang deretan kursi pesawat yang masih tetap empuk.
Suasana pesawat itu terasa magis sejenak, seolah kami sedang berada di antara masa lampau dan masa kini. Namun ketika kami keluar, kami mendapati rombongan besar kami sudah berpindah ke tempat lain. Tersisa kami, guru pendamping, dan teman kelompok yang berjalan agak jauh di depan.
Kami kemudian bergerak menyusuri lorong berikutnya. Langkahku dan Gaby melambat. Teman kelompok kami tetap terlihat, tapi suara mereka semakin mengecil, tenggelam oleh percakapan kecil kami yang entah mengapa terasa lebih penting daripada apapun di museum itu.
Tiba-tiba Gaby menunjuk sesuatu. “Eh, lihat itu,” katanya sembari tersenyum kecil.
Sebuah mobil VW klasik berwarna kuning berada di salah satu sudut ruangan. Bentuknya mungil, seperti mobil mainan yang diperbesar.
“Lucu banget. Kayak mobil buat barbie” ujar Gaby
Aku ikut tertawa. “Iya. Kayak mobil yang kalau disentuh langsung ngomong sendiri.”
“Kamu kenapa ketawa terus?” tanya Gaby.
“Aku cuman lagi senang aja” ujarku.
Gaby tidak bertanya lagi. Ia malah bergerak menuju samping mobil VW itu dan berkata, “Fotoin aku di sini, ya.”
Ia memegang pintu mobil yang kecil itu dan tersenyum. Cahaya senja yang masuk dari jendela jatuh lembut di wajahnya.
Aku mengangkat kamera lalu memotretnya beberapa kali.
“Bagus nggak?” tanyanya sembari berjalan mendekat.
“Bagus, kamu kelihatan beda.” ujarku
“Beda gimana?” ujar Gaby sambil tertawa kecil.
“Pokoknya beda.” ujarku
Ia tersenyum lagi. “Kirimin fotonya nanti ya.”
Kami melanjutkan langkah. Teman-teman kelompok masih terlihat di depan, tapi suaranya memudar seperti ditelan oleh lorong museum yang panjang. Di sekitar kami, benda-benda pameran seolah memperhatikan, seakan tahu ada sesuatu yang sedang tumbuh, perlahan, diam-diam.
Dalam keheningan itu, pikiranku mulai gaduh. Dadaku berdebar tak teratur. “Apa ini perasaan suka?”
Saat kegiatan berakhir, kami kembali ke bus. Pendingin bus berembus lagi, tapi kali ini dinginnya tidak sanggup memadamkan hangat yang menetap di dadaku. Gaby duduk sambil menatapku sebentar.
“Besok kita kerjain laporan, ya?”
“Iya, bareng” jawabku.
Ia tersenyum, senyum yang sejak tadi menari-nari di kepalaku seperti lampu kecil yang tidak mau padam.
Ketika bus mulai berjalan, lampu kota terlihat seperti menari di balik kaca, tapi pikiranku tetap tertinggal di museum, di pesawat tua dengan bau khasnya, di cahaya senja yang hangat, di mobil VW kuning yang terlihat seperti hidup, dan terutama pada senyum Gaby yang entah kenapa terasa sulit untuk aku lupakan.
Kejadian pada senja itu membuatku sadar akan beberapa hal, ada perasaan yang tidak butuh kata-kata untuk dirasakan. Ia tumbuh diam-diam, seperti cahaya senja yang perlahan berubah menjadi malam. Museum ini menyadarkanku bahwa untuk pertama kalinya aku benar-benar merasakannya.
(R. Meganda Putra Brotodihardo, Siswa Kelas XI SMA Trinitas Bandung)
