Ancaman Literasi dari Fitur Ringkasan Akal Imitasi?

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Meganusa Ludvianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Memasuki pertengahan tahun 2026, persaingan industri Artificial Intelligence (dalam bahasa Indonesia dikenal juga dengan istilah Akal Imitasi atau Kecerdasan Artifisial) tidak menunjukkan adanya perlambatan. Para pemain besar menawarkan produknya secara gratis agar dapat diakses masyarakat seluas-luasnya, terlebih produk yang mereka kelola sudah melekat di masyarakat yang bergantung pada kehidupan digital. Misalnya Meta, yang melekatkan Meta AI di berbagai media sosial seperti Facebook, Instagram, Threads dan WhatsApp. Atau X, yang dulu dikenal juga dengan nama Twitter, membuka akses atas Grok AI untuk pemanfaatan produksi konten secara umum. Tak lupa, raksasa internet Google pun juga mengintegrasikan AI mereka, Gemini pada berbagai fitur yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk mesin pencari dengan pengguna terbanyak di dunia: Google Search. Tahun 2024, Google merancang ulang mesin pencarinya dengan integrasi Gemini AI sehingga pengguna bisa mencari informasi berbasis visual melalui foto, rekonstruksi tampilan hasil, dan rangkuman pencarian yang dikenal dengan nama ‘AI Overview’ atau rangkuman AI. Google menyatakan bahwa fitur peringkas ini bertujuan untuk ‘mengeliminasi kerja keras pengguna dalam mencari informasi sehingga pengguna bisa fokus ke hasil secara lebih cepat’ (The Verge, 2024). Fitur ini merombak cara orang mencari informasi, karena sebelum ini perlu memeriksa tautan satu demi satu, membandingkan informasi sebelum kemudian menarik kesimpulan. Laporan dari Pew Research Center (2025) bahkan menemukan bahwa pengguna yang melihat rangkuman AI cenderung tidak membuka tautan lain di laman pencari.
Perubahan perilaku membaca hasil pencarian ini kemudian menjadi keresahan berbagai pihak. Rangkuman AI dianggap membodohkan masyarakat karena membuat mereka malas membaca dan bertemu dengan informasi yang tidak reliabel. The Guardian, misalnya, melaporkan tingginya resiko misinformasi atas hal-hal penting seperti kesehatan dan keuangan yang dicantumkan oleh ringkasan AI di Google Search (Gregory, 2026). Kritik yang sama juga diajukan oleh harian The New York Times (2026) yang mempertanyakan akurasi hasil rangkuman AI dan konsekuensi etisnya, mengingat masyarakat awam sangat bergantung pada fitur tersebut. Keresahan ini perlu menjadi perhatian, mengingat 18.2 % pengguna internet di Indonesia mengaku sudah pernah menggunakan fitur AI (Faradianti, 2026). Setiawan (2026) kemudian menyayangkan pragmatisme konsumsi informasi ini dan mendorong adanya dialog antara pengalaman serta pengetahuan pribadi dengan berbagai informasi yang ada di luar sana, alih-alih menjebakkan diri pada kemudahan ringkasan AI. Senada dengan kritik tersebut, Center for Digital Society (2026) menekankan pentingnya mencari informasi yang banyak (foraging) untuk menjaga nalar kritis dan analisis pengguna, yang bisa menjadi tumpul ketika bergantung pada hasil instan ringkasan AI.
Akan tetapi, ketergantungan pengguna internet atas kemudahan yang ditawarkan ringkasan AI pada mesin pencari perlu dibaca pada konteks yang lebih luas, tidak semata pada ‘proses yang harusnya tidak mudah’ saja. Proses pencarian informasi di internet lebih kompleks dari sekadar mencari kemudahan semata, dan ini dapat dibaca dengan Cho dan Cheon (2004) terkait prevalensi perilaku penghindaran iklan di internet. Menurut Cho dan Cheon (2004), pengguna internet berorientasi pada hasil (goal oriented) sehingga apapun yang menghambat mereka untuk mencapai hasil tersebut, akan dianggap sebagai gangguan yang perlu dihindari. Terdapat tiga alasan penghindaran gangguan dilakukan, yaitu hambatan atas tujuan (goal impediment), tata informasi yang tidak rapi (clutter) dan pengalaman buruk yang sebelumnya dialami (negative experiences). Ketika seorang pengguna internet menetapkan untuk mencari suatu informasi sebagai tujuan, ia akan mengevaluasi gangguan-gangguan yang dialami serta menghindarinya. Pemikiran Cho & Cheon (2004) sesungguhnya diajukan untuk membaca konteks perilaku penghindaran iklan, akan tetapi mengingat hari ini internet dipenuhi oleh algoritma konten yang memang bertujuan untuk memudahkan pemasangan iklan, maka pembacaan perilaku penghindaran atas gangguan di internet ini tetap relevan.
Dalam hal pencarian informasi melalui Search Engine, kritik atas ringkasan AI cenderung memandang informasi disajikan secara netral dan apa adanya. Karena itu, kritik ini memandang bahwa pengguna idealnya harus menempuh jalan yang pelik untuk mencari informasi yang banyak untuk kemudian memilihnya dengan kritis (information foraging; Pirolli, 2006). Argumen ini abai dengan adanya usaha disrupsi pencapaian tujuan pencarian informasi, yang bahkan sudah beroperasi jauh sebelum adanya ringkasan AI: optimasi mesin pencari, atau yang juga dikenal dengan istilah Search Engine Optimisation (SEO). Sederhananya, SEO akan berusaha untuk mendisrupsi tampilan laman pertama mesin pencari ketika pengguna mengetikkan kata kunci tertentu. Sebagai contoh, jika seseorang memasukkan kata kunci ‘tempat wisata di Yogyakarta’, hasil yang akan muncul adalah berbagai macam situs penyedia jasa pariwisata, jasa pembelian tiket, lokapasar tiket pesawat dan hotel, dan lain sebagainya alih-alih menampilkan informasi ‘tempat wisata di Yogyakarta’ yang netral. Pengguna tidak akan langsung mendapatkan informasi yang dicari, justru bertemu dengan teks-teks disruptif nirmanfaat dari artikel berbasis SEO.
Melihat apa yang dialami pengguna ketika mencari informasi tanpa bantuan ringkasan AI, menurut Cho dan Cheon (2004), mereka mendapatkan pengalaman negatif dalam bentuk hambatan atas tujuan pencarian informasi. Situasi ini tidak sesederhana 'pengguna malas membaca padahal harusnya membuka tautan satu demi satu' karena memang ekosistem pencarian informasi tidak memungkinkan mereka untuk melakukan itu dengan efisien. Disrupsi terjadi laman pencari, dan SEO terkadang memang secara sengaja membingungkan pengguna. Para pemasar di Internet cenderung mencari strategi terbaik agar laman mereka muncul di laman pertama dengan visibilitas tinggi (Dentsu, 2024), bukan untuk menyediakan informasi yang otentik dan dibutuhkan oleh pengguna. Dengan konteks navigasi informasi yang memang tidak efisien untuk pengguna, wajar jika kemudian pengguna mencari jalan pintas yang disodorkan oleh ringkasan AI (Pew Research Center, 2025)
Pada akhirnya kita memang tidak bisa melihat situasi ini secara ekstrim (boleh - tidak bolehnya penggunaan ringkasan AI). Pengguna membutuhkannya, dan sebagaimana logika pasar pada umumnya, Google menyediakan solusi atas kebutuhan pengguna. Di sinilah kritik atas ringkasan AI menjadi relevan: kita tidak boleh kehilangan literasi untuk membaca. Tetep harus kritis atas informasinya, yang sekarang sudah disaring dari hal-hal tidak penting seperti iklan dan artikel SEO. Jadi pengguna bisa fokus pada mengkritisi informasi yang diterima, karena seperti disclaimer yang tertera pada semua produk generatif AI: AI bisa saja salah.
