Salah Kaprah Gambar AI untuk Komunikasi

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Meganusa Ludvianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pergilah keluar untuk mengisi waktu luang dan kita akan melihat banyak kios dan toko yang telah memperbarui alat promosi mereka, seperti penanda, poster dan sebagainya. Produk-produk visual ini biasanya menampilkan gambar yang hiper-realistis dengan warna-warna yang tajam, mencoba untuk menarik perhatian khalayak yang berlalu lalang. Fenomena serupa juga akan Anda temukan di media sosial, di mana konten, baik bersifat statis seperti gambar, poster, dan infografis muncul secara mencolok. Tetapi setelah diperhatikan dengan cermat, kita akan kemudian menyadari bahwa gambar yang ditampilkan bukanlah foto produknya secara langsung, tetapi hasil ilustrasi yang dibuat oleh kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence; AI) generatif (Generative Artificial Intelligence). Alih-alih merancang konsep visual dari awal dan menggambar secara langsung, pengguna hanya perlu memberikan perintah (prompt) secara tekstual dengan parameter tertentu untuk kemudian memperoleh gambar yang diinginkan (To dkk, 2025).
Hingga tulisan ini dibuat, gambar hasil AI sesungguhnya mudah untuk diidentifikasi. Menurut Döring, Le, & Shevtsova (2026), terdapat beberapa karakteristik khas dari gambar AI. Mereka cenderung memiliki resolusi rendah sehingga gambarnya kurang tajam, minim akurasi dari segi rincian serta unsur gambar, dan menampilkan bias visual tertentu. Misalnya, ekspresi muka yang tidak alami dan kosong, nuansa warna dan tata letak yang seragam, penggunaan jenis huruf (type font) tidak bervariasi, tata letak yang penuh hingga detail yang aneh dan konteks gambar yang tidak tepat. Ketika banyak bentuk komunikasi visual seperti poster dan banner menggunakan pola yang serupa, masyarakat perlahan-lahan mulai menyadari maraknya penggunaan AI untuk komunikasi visual.
Mengapa penggunaan gambar AI dinormalisasi oleh khalayak awam? Fenomena ini bisa dipahami secara sederhana menggunakan Model Penerimaan Teknologi (Technology Acceptance Model; TAM), sebuah teori klasik yang menjelaskan bagaimana masyarakat merespons hadirnya teknologi baru untuk kebutuhan hidup sehari-hari (Davis, 1989). Ketika berinteraksi dengan teknologi baru, manusia akan mempertimbangkan dua hal: Perceived Usefulness (PU) dan Perceived Ease of Use (PEOU). PU merujuk pada bagaimana sebuah teknologi baru menopang kinerja seseorang dan menyelesaikan permasalahan yang ia alami, sementara PEOU berbicara soal seberapa mudah teknologi tersebut digunakan. Menurut Davis (1989), ketika kedua faktor ini terpenuhi, orang cenderung akan mengadopsi sebuah teknologi baru untuk kehidupan sehari-hari. AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, dan Grok AI dipromosikan sebagai alat yang serba bisa dan sangat canggih, serta dapat diakses secara gratis untuk kebutuhan mendasar, sehingga memenuhi unsur PU. Di sisi lain, interaksi pengguna dengan AI generatif dilakukan melalui teks yang intuitif, seolah sedang berbicara secara langsung, sehingga dipersepsikan mudah untuk digunakan. Dari situasi ini, kedua prasyarat adopsi teknologi yang disebutkan TAM sudah dipenuhi oleh AI Generatif.
Sebagai contoh, saat berdiskusi dengan beberapa staf perangkat desa di Yogyakarta, penulis menemukan bahwa mereka sering menggunakan AI untuk memproduksi komunikasi visual. Produk yang paling sering dibuat adalah infografis data keuangan desa, promosi kegiatan, pengumuman dan lain-lainnya. Menurut mereka, AI generatif mudah digunakan, efisien dan menghasilkan karya yang sesuai keinginan mereka. Manfaat-manfaat ini dipersepsikan mendukung kebutuhan kinerja mereka yang harus memproduksi banyak komunikasi visual dalam waktu yang singkat. Terlebih lagi, AI generatif dianggap mudah digunakan karena tidak memerlukan pengetahuan dasar dan kemampuan khusus di bidang desain grafis. Dari anekdot ini, kita bisa menyimpulkan bahwa terdapat pemahaman kemudahan penggunaan (Perceived Ease of Use) dan asas manfaat (Perceived Usefulness) pada AI generatif.
Sayangnya, normalisasi maraknya penggunaan gambar hasil AI justru menunjukkan adanya sebuah permasalahan dalam proses komunikasi yang tidak disadari. Mereka yang menggunakan gambar hasil AI mungkin merasa kebutuhan komunikasinya terpenuhi: ada visual sebagai wadah pesan yang akan dikomunikasikan, kemudian berasumsi bahwa pesan diterima publik dengan mudah, publik tertarik untuk memahami pesan tersebut. Menariknya, sebuah studi yang dilakukan oleh To dkk (2025) menemukan bahwa konsumen cenderung memberikan respons negatif terhadap komunikasi yang dianggap dibuat menggunakan AI. Ketika penggunaan gambar AI semakin awam ditemui dan konsumen bisa mengidentifikasinya, mereka akan memberikan evaluasi negatif sebelum bisa berinteraksi dengan pesan yang akan disampaikan. Adanya keseragaman dan ciri khas dari gambar hasil AI menunjukkan kurangnya pemahaman komunikator atas proses komunikasi visual. Komunikasi adalah proses untuk mencapai kesamaan pemaknaan dan pemahaman antara komunikator dan komunikan. Menurut Charleston (2018), proses komunikasi idealnya dirancang secara bertahap. Komunikator terlebih dahulu menetapkan pesan yang ingin disampaikan, kemudian memahami karakter dan kebutuhan penerima pesan. Langkah terakhir, komunikator akan merancang strategi diseminasi pesan yang sesuai dengan preferensi komunikan, dengan harapan kesamaan pemaknaan dapat tercapai.
Komunikasi adalah usaha untuk menyamakan persepsi antara pengirim dan penerima pesan. Jika menggunakan komunikasi visual, maka komunikator perlu punya pengetahuan dan kemampuan dasar di bidang desain grafis. Ia harus mengerti soal tata letak, komposisi, teori warna, hirarki informasi dan lain-lain sebelum memulai proses produksi ilustrasi. Komunikator juga perlu ingat bahwa komunikasi dilakukan dengan memprioritaskan kepentingan penerima pesan terlebih dahulu (“pesan apa yang mau saya sampaikan? Kepada siapa?”) sebelum mulai merancang dan mendistribusikan pesan. Maka butuh pembelajaran, latihan dan tentu saja jam terbang. Sebaliknya, langsung menggunakan AI untuk menghasilkan produk komunikasi, berarti mengabaikan seluruh proses ini dan dapat berdampak negatif pada persepsi audiens atas pengirim pesan (To dkk, 2025).
Penggunaan AI pada berbagai lini kehidupan memang sedang sangat marak dan dinormalisasikan. Adopsi AI di kehidupan sehari-hari, khususnya ketika bersentuhan dengan teknologi, sudah tidak terhindarkan. Ia seolah menyelesaikan banyak hal dengan cepat. Akan tetapi, penting untuk meletakkan, mengingat kembali dan menekankan pentingnya peran manusia pada berbagai proses. Segala kesulitan, kompleksitas dan ‘kerepotan’, yang seolah diselesaikan dengan AI, sesungguhnya merupakan bagian penting dari penyelesaian masalah yang manusiawi. Kita perlu untuk mulai berani untuk kemudian menolak narasi arusutama yang memposisikan AI sebagai tren semata, yang perlu diikuti karena seolah semua orang juga melakukan hal yang sama.
