SUGA BTS Dipanggil Mas Agus, Kenapa? Cerita Unik ARMY Indonesia

Karyawan swasta yang suka traveling, sedang menempuh pendidikan Magister Ilmu Komunikasi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari megauniki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa SUGA BTS dipanggil "Mas Agus"? Fenomena ini menunjukkan kreativitas ARMY Indonesia dalam memaknai budaya Korea.
Pukul sebelas malam, notifikasi di Weverse tiba-tiba muncul di layar ponsel: “SUGA BTS started a LIVE”.
Hanya dalam hitungan detik, ribuan ARMY dari berbagai negara memenuhi kolom komentar, di antara banyaknya sapaan berbahasa Korea, Inggris, Jepang hingga Spanyol, terselip komentar dengan kalimat-kalimat yang sangat khas Indonesia, “Mas Agus, jangan lupa makan ya”, “Mas Agus, Indonesia kangen”, atau “Akhirnya suamiku live!”. Julukan "Mas Agus" untuk SUGA BTS kemudian menjadi salah satu bentuk kreativitas ARMY Indonesia dalam memadukan budaya Korea dengan budaya lokal.
Bagi orang di luar fandom, sapaan itu mungkin terdengar membingungkan karena Agus atau Mas Agus bukan nama panggung Suga. Namun bagi ARMY Indonesia, panggilan itu sudah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari yang akrab di telinga.
Seperti “Hobi”, “Taetae”, atau “Kookie”, bahkan “Pak Presiden” untuk RM, lucu ya! Julukan-julukan tersebut lahir bukan dari agency mereka, HYBE atau BTS itu sendiri, melainkan lahir dari kreativitas para penggemarnya di Indonesia. Selain julukan bagi idolnya, fandom BTS di Indonesia juga menyebut diri mereka sebagai IndoMy, atau Indonesian ARMY.
Fenomena ini tentu tidak muncul begitu saja, tetapi menunjukkan bahwa hubungan antara BTS dengan ARMY telah berkembang melampaui relasi antara idol dan penggemar.
Musik BTS mungkin memang menjadi titik awal, tapi interaksi yang berlangsung setiap hari di ruang digital melahirkan bahasa, kebiasaan, dan identitas baru yang hanya dipahami oleh fandom. Di tangan penggemar Indonesia, budaya Korea tidak diterima begitu saja, tetapi diolah menjadi sesuatu yang terasa lebih dekat dengan budaya dan kehidupan sehari-hari.
Besarnya pengaruh budaya Korea di Indonesia juga terlihat dari minat masyarakat Indonesia yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena tersebut juga terlihat dari hasil Global Hallyu Survey 2024 yang diterbitkan oleh Korea Foundation for International Cultural Exchange (KOFICE) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan.
Sebanyak 86,3% dari responden di Indonesia menyatakan memiliki persepsi positif terhadap budaya Korea, angka ini tertinggi di antara negara-negara yang disurvei. K-Pop menjadi citra pertama yang paling diingat ketika responden memikirkan Korea Selatan.
Yang menarik bukan lagi tentang popularitas BTS, tetapi cara penggemar memaknai budaya Korea. Mereka tidak lagi sekadar menikmati lagu atau menunggu konser BTS, tetapi mampu mengolah budaya yang datang dari Korea menjadi sesuatu yang terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia.
Cara fandom berkomunikasi juga mencerminkan kebiasaan masyarakat Indonesia yang menggunakan sapaan “Mas” sebagai bentuk penghormatan dan keakraban. Julukan “Mas Agus” atau “Mas Jin” juga lahir karena terasa akrab di telinga masyarakat Indonesia.
Menurut Liu, Volcic, dan Gallois (2023), identitas budaya selalu berkembang melalui interaksi dengan budaya lain. Apa yang dilakukan oleh ARMY Indonesia menunjukkan bahwa menikmati budaya global tidak harus membuat seseorang kehilangan identitas lokalnya, justru keduanya bisa berdampingan dan saling memperkaya khasanah budaya.
Media sosial seperti Weverse akhirnya menjadi lebih besar dari sekadar ruang komunikasi digital antara Idol dan penggemar. Dalam komunitas ARMY, jutaan orang memang dipersatukan oleh BTS, tapi masing-masing penggemar tetap membawa bahasa dan budaya masing-masing.
Kalau membahas pengaruh BTS memang tidak pernah ada habisnya, ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari para penggemarnya. Tidak berlebihan jika media menyebut BTS sebagai salah satu wajah soft power Korea Selatan. Banyak yang mulai mengenal ramyeon karena melihat Jungkook memakannya saat melakukan live di media sosialnya, tidak sedikit juga ARMY yang belajar membaca Hangul setelah mengikuti konten-konten BTS.
Uniknya, budaya tersebut tidak hadir dalam bentuk yang sama dengan negara asalnya. Di Indonesia, ramyeon dinikmati bersama cabai rawit, kimchi dijadikan pelengkap menu ayam geprek, bahkan banyak menu-menu Korea berdampingan dengan kopi susu di berbagai kafe Indonesia. Kreativitas masyarakat Indonesia memang tidak perlu diragukan, karena mampu membuat budaya Korea berbaur dengan kebiasaan masyarakat Indonesia.
ARMY Indonesia dapat menjadi contoh bagi fandom-fandom lain karena kedekatan ARMY Indonesia dengan BTS tidak hanya berhenti di ruang digital. Terutama setiap perayaan ulang tahun anggota BTS, misalnya, komunitas ARMY di berbagai kota sering mengadakan kegiatan sosial seperti penggalangan dana, donor darah, berbagi makanan hingga membantu korban bencana menggunakan nama anggota BTS.
ARMY Indonesia jelas memperlihatkan bahwa budaya populer Korea tidak menggantikan identitas lokal, tapi justru memberi ruang kreativitas bagi anak muda Indonesia untuk tetap mampu mengekspresikan dirinya dan membawa semangat gotong royong khas budaya masyarakat Indonesia.
Pada akhirnya, yang membuat BTS begitu dekat dengan jutaan penggemarnya di Indonesia bukan hanya musik mereka, tetapi kepribadian dan contoh yang diberikan ke para ARMY di seluruh dunia.
Yang BTS tumbuhkan bukan hanya budaya Korea, tapi ruang budaya baru, tempat bertemunya budaya Korea dengan bahasa, kebiasaan, dan nilai-nilai lokal Indonesia. ARMY Indonesia tidak sedang mencoba menjadi “orang Korea”. Namun, mereka justru membuktikan tidak harus meninggalkan jati diri sebagai orang Indonesia untuk menjadi bagian dari budaya dunia, tapi mereka menghadirkan budaya Korea dengan cara yang sangat Indonesia.
Daftar Pustaka
Liu, S., Volčič, Z., & Gallois, C. (2023). Introducing Intercultural Communication: Global Cultures and Contexts (4th ed.). Sage.
Korea Foundation for International Cultural Exchange. (2024). Global Hallyu Survey 2024. https://kofice.or.kr
Korea.net – Indonesia Peringkat Tertinggi dalam Persepsi Positif terhadap Hallyu
