Diet Vegan vs Intermittent Fasting: Mana yang Lebih Baik untuk Jantung Wanita?

Seorang mahasiswa Digital Business Management Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Stefanus Amadeo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Vegan Diet vs. Intermittent Fasting: Which is Better for Women's Hearts?

Kalau kamu seorang penganut gaya hidup sehat, pasti selalu tertarik dengan tren-tren diet yang menjanjikan, apalagi kalau tujuannya untuk kesehatan jangka panjang. Belakangan ini, "Intermittent Fasting" dan "Diet Vegan" menjadi dua nama yang paling sering disebut.
Banyak teman dan kenalan saya yang mempraktikkannya, dan mereka kerap berdebat mana yang lebih baik. Namun, debat ini akhirnya menemukan jawaban yang lebih ilmiah berkat sebuah studi menarik berjudul “Effect of Plant Based Diet Versus Intermittent Fasting Diet on Lipid Profile in Obese Premenopausal Women".
Studi tersebut berasal dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yehia Mahmoud Mohamed Sadek, et al. dari Physical Therapy department for Woman's Health, Faculty of Physical Therapy, MTI University, Cairo, Egypt. Physical Therapy department for Woman's Health, Faculty of Physical Therapy, Cairo University, Egypt. Department of Obstetrics and Gynecology, National Research Center, Egypt. Department of clinical nutrition, National Nutrition Institute, Cairo, Egypt.
Penelitian ini melibatkan sekelompok wanita pra-menopause yang mengalami obesitas. Mereka dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diminta untuk mengikuti diet berbasis nabati, yang berarti hanya mengonsumsi makanan dari tumbuh-tumbuhan dan menghindari semua produk hewani.
Kelompok lainnya menjalankan Intermittent fasting dengan batasan waktu makan yang ketat, misalnya hanya makan dalam rentang waktu delapan jam setiap hari. Selama periode studi, para peneliti memantau dengan cermat perubahan pada profil lipid mereka, termasuk kadar kolesterol total, kolesterol LDL (yang sering disebut 'kolesterol jahat'), kolesterol HDL ('kolesterol baik'), dan trigliserida. Pemantauan ini penting untuk melihat dampak nyata dari masing-masing diet pada kesehatan kardiovaskular.
Hasil studi ini cukup mencengangkan. Meskipun kedua diet menunjukkan hasil positif, diet berbasis nabati atau diet vegan ternyata jauh lebih unggul dalam memperbaiki profil lipid. Para wanita yang menjalani diet vegan mengalami penurunan yang signifikan pada kolesterol total dan kolesterol LDL.
Penurunan ini tidak hanya sekadar angka, melainkan sebuah sinyal bahwa risiko penyakit jantung mereka telah menurun secara drastis. Efektivitas ini menunjukkan bahwa kandungan serat yang tinggi dan rendahnya lemak jenuh dalam pola makan nabati benar-benar bekerja secara sinergis untuk membersihkan pembuluh darah dari plak-plak lemak yang berbahaya.
Lalu bagaimana dengan Intermittent fasting? Diet ini memang efektif, tetapi hasilnya tidak sekuat diet vegan. Para peneliti mencatat bahwa meskipun intermittent fasting dapat membantu dalam penurunan berat badan, dampaknya pada profil lipid tidak sebesar diet berbasis nabati.
Ini memberikan kita sebuah pandangan penting: diet bukan hanya soal kalori yang masuk dan keluar, melainkan juga tentang komposisi nutrisi.
Tanpa mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dari produk hewani, efek perbaikan pada profil lipid tidak bisa maksimal. Seolah-olah, intermittent fasting hanya membersihkan "sampah" kalori, sementara diet vegan membersihkan "racun" lemaknya dari sumber utama.
Penting untuk dicatat bahwa penelitian ini secara spesifik berfokus pada wanita pra-menopause yang obesitas. Ini berarti hasilnya tidak bisa digeneralisasi untuk semua populasi. Namun, bagi para wanita di rentang usia tersebut yang ingin memperbaiki kesehatan jantung, jurnal ini memberikan petunjuk yang sangat berharga.
Selain itu, temuan ini juga menggarisbawahi bahwa efektivitas diet sangat bergantung pada tujuan spesifik yang ingin dicapai. Jika tujuannya hanya penurunan berat badan, intermittent fasting mungkin bisa menjadi pilihan. Namun, jika tujuannya adalah perbaikan kesehatan jantung secara fundamental, maka diet berbasis nabati menawarkan solusi yang lebih kuat.
Jadi, dari sudut pandang ini, kita bisa menyimpulkan bahwa perdebatan tentang mana yang lebih baik antara intermittent fasting dan diet vegan tidak sesederhana itu. Keduanya memiliki manfaat, tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa untuk kesehatan kardiovaskular, pola makan vegan memegang kendali.
Temuan ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak hanya fokus pada angka di timbangan, tetapi juga pada apa yang terjadi di dalam tubuh kita. Pilihan makanan yang kita konsumsi setiap hari adalah investasi berharga untuk masa depan kesehatan kita.
Akhirnya, dalam studi tersebut memberikan pencerahan yang sangat berguna, terutama bagi mereka yang sedang bingung memilih jalur diet mana yang harus diambil. Jika Anda berhadapan dengan masalah kadar lemak darah yang tinggi, mungkin ini saatnya untuk lebih banyak memasukkan makanan nabati ke dalam menu harian Anda.
Mengubah gaya hidup memang bukan hal yang mudah, tetapi bukti ilmiah dari jurnal ini menunjukkan bahwa setiap piring yang penuh dengan sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian adalah langkah nyata menuju jantung yang lebih sehat dan hidup yang lebih panjang.
