Dilema Nafkah dan Kasih Sayang: Potret Pahit Pramuria Sekaligus Ibu

Seorang mahasiswa Digital Business Management Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Stefanus Amadeo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang hanya melihat pramuria dari sisi stigma buruk, tetapi sebenarnya pramuria memiliki sisi lain: mereka juga merupakan ibu dan pengasuh. Sebuah penelitian oleh Mokhwelepa Leshata Winter dan Sumbane Gsakani Olivia dari University of Limpopo, Afrika Selatan, menelaah 14 penelitian internasional tentang pengalaman pramuria perempuan yang juga merawat anak atau keluarga. Hasilnya menunjukkan benturan peran antara mencari nafkah melalui pekerjaan terstigma dengan tanggung jawab sebagai orang tua.
Studi ini menemukan lima tema besar: stigma sosial dan diskriminasi kesehatan, tantangan hukum, beban mental, risiko perilaku yang memengaruhi anak, dan dukungan sosial. Stigma muncul di sekolah, layanan kesehatan, hingga komunitas, menyebabkan isolasi sosial, baik bagi ibu maupun anak. Bahkan, anak-anak dari pramuria kerap menghadapi perundungan dan kesulitan akses pendidikan.
Di sisi hukum, pramuria yang menjadi orang tua sering kehilangan hak asuh karena profesi mereka dijadikan alasan “tidak layak” mengasuh. Di Kanada, hampir 40% pramuria perempuan kehilangan anaknya akibat intervensi layanan sosial. Hal ini membuat banyak ibu terpaksa menyembunyikan pekerjaannya, menambah tekanan mental yang sudah berat.
Beban psikologis menjadi tema penting lain. Rasa cemas, depresi, dan ketakutan terus-menerus diceritakan oleh banyak responden. Sebagian memilih menggunakan alkohol atau narkoba untuk bertahan meski hal tersebut justru memperburuk kondisi pengasuhan. Walaupun demikian, banyak yang tetap menekankan identitas mereka sebagai “ibu terlebih dahulu” yang berjuang demi anak.
Risiko lingkungan kerja pun berimbas pada anak. Sebagian anak tumbuh di kawasan rawan kekerasan, narkoba, atau bahkan di dalam lokalisasi. Ada pula kasus di India di mana ibu pramuria lebih sering menerima tawaran berhubungan badan tanpa kondom untuk biaya kesehatan anaknya. Namun, ada juga sisi positif: beberapa pramuria justru memperketat perilaku aman karena ingin tetap sehat untuk keluarga mereka.
Dukungan sosial dari LSM terbukti mampu meringankan beban. Program pelatihan, perumahan aman, sekolah khusus anak dari pramuria, hingga bantuan pangan sangat membantu para ibu ini menjaga identitas mereka sebagai orang tua. Studi ini menegaskan: meski berada dalam tekanan sosial, hukum, dan ekonomi, pramuria perempuan tetap menunjukkan ketahanan luar biasa sebagai ibu.
