Islam Ala Santrivation

Guru Pesantren, Div Riset dan Inovasi IAPPI dan Alumni Connect PPI Dunia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Abdul Aziz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu pertanyaan yang kadang terdengar sederhana, tetapi mungkin diam-diam cukup mengganggu: seperti apa Islam yang kita bawa setelah keluar dari masjid?
Sebab menjadi Muslim di masjid relatif mudah. Kita duduk tenang, mendengar kajian, membaca Al-Qur’an, lalu mengangguk ketika ustaz menjelaskan tentang sabar, ikhlas, tawakal, dan akhlak.
Tantangannya justru muncul ketika kita kembali ke dunia nyata.
Ketika bos mengirim pesan di luar jam kerja. Ketika teman mengajak bergosip. Ketika media sosial membuat kita sibuk membandingkan hidup dengan orang lain. Ketika gagal masuk kampus impian. Ketika cinta kandas. Ketika uang sedang tipis. Ketika cita-cita terasa terlalu jauh.
Di situlah Islam diuji.
Bukan sekadar: “Apakah kita tahu hukumnya?”
Tetapi: “Apakah Islam masih hidup dalam cara kita menjalani hidup?”
Barangkali inilah yang ingin disentuh oleh SANTRIVATION, buku karya Muhammad Abdul Aziz, Lc., M.Pd., Gr.
Islam yang tidak berhenti di kitab
Ada yang menarik dengan istilah Santrivation. Ada kata santri, ada kata motivation.
Kombinasi yang sekilas terdengar seperti permainan kata. Tetapi sebenarnya menyimpan gagasan yang cukup serius: santri tidak harus identik dengan kehidupan yang kaku, dan motivasi tidak harus kehilangan nilai-nilai agama.
Selama ini ada semacam anggapan bahwa dunia pesantren dan dunia modern berada di dua jalur berbeda.
Di satu sisi ada kitab kuning, hafalan, masjid, adab, dan kehidupan yang sederhana.
Di sisi lain ada karier, teknologi, kreativitas, bisnis, media sosial, travelling, dan berbagai hiruk-pikuk kehidupan modern.
Mungkin justru di situlah Islam terasa lebih hidup.
Dari pesantren ke Tokyo-Madinah
Yang membuat gagasan SANTRIVATION semakin menarik adalah latar perjalanan penulisnya.
Muhammad Abdul Aziz tidak sekadar berbicara dari balik meja. Ia pernah melewati perjalanan pendidikan dari lingkungan yang sederhana hingga menuntut ilmu di Universitas Islam Madinah.
Ia pernah berada di negeri orang, bahkan menjalani aktivitas dakwah di Jepang.
Dari kampung kecil di Ciamis, kemudian ke Madinah, lalu sampai ke mihrab masjid di Tokyo.
Sebuah perjalanan yang memperlihatkan bahwa menjadi santri bukan berarti dunia kita harus kecil.
Justru sebaliknya. Pesantren seharusnya menjadi tempat seseorang belajar untuk memiliki dunia yang luas, tetapi tetap memiliki akar yang kuat.
Sebab seseorang yang punya ilmu tanpa akar bisa mudah kehilangan arah. Sebaliknya, seseorang yang punya akar tetapi takut melangkah juga akan kesulitan menghadapi zaman.
Santri harus punya mimpi besar
Ada sebuah stigma yang sesekali masih terasa: kalau sudah menjadi santri, cita-citanya seolah harus dibatasi pada profesi tertentu.
Padahal sejarah Islam justru menunjukkan sebaliknya.
Para ulama memiliki keahlian yang beragam. Ada yang ahli hadis, fikih, kedokteran, matematika, astronomi, bahasa, perdagangan, hingga pemerintahan.
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi generasi yang minder terhadap dunia.
Yang diajarkan adalah: jangan sampai dunia menguasai hati.
Ini berbeda. Memiliki dunia tidak sama dengan di perbudak dunia.
Santri bisa banget menjadi dokter. Bisa menjadi pengusaha. Bisa menjadi akademisi. Bisa menjadi programmer.
Bisa menjadi diplomat. Bisa menjadi konten kreator.
Bisa membangun perusahaan. Bisa pergi ke berbagai negara.
Bahkan bisa punya mimpi yang terdengar terlalu besar bagi orang lain.
Islam ala Santrivation: serius, tapi tidak harus tegang
Mungkin inilah bagian yang paling menarik.
Islam sering kali dipersepsikan terlalu serius.
Sedikit-sedikit takut salah. Sedikit-sedikit merasa berdosa.
Sedikit-sedikit merasa tidak pantas menjadi baik karena masih punya banyak kekurangan.
Padahal menjadi baik bukan berarti harus menunggu menjadi sempurna.
Kita bisa memperbaiki diri sambil tetap menjadi manusia biasa.
Masih pernah malas. Masih pernah salah. Masih pernah jatuh. Masih pernah galau.
Yang penting bukan tidak pernah jatuh. Yang penting tahu ke mana harus kembali.
Dan dalam perspektif Islam, tempat kembali itu jelas: Allah.
Mungkin karena itu Santrivation terasa seperti sebuah ajakan untuk berdamai dengan proses.
Bahwa perjalanan menjadi manusia yang lebih baik tidak selalu berbentuk garis lurus.
Ada naik, ada turun. Ada cepat, ada lambat. Ada hari ketika kita sangat rajin ibadah. Ada hari ketika membuka Al-Qur’an saja terasa berat.
Tetapi jangan berhenti. Karena bisa jadi, yang Allah lihat bukan seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa sering kita memilih untuk kembali.
Dari bilik pesantren menuju masa depan
Pada akhirnya, pesantren bukan terminal akhir. Ia adalah tempat keberangkatan.
Santri tidak dididik untuk selamanya berada di balik pagar pondok. Suatu saat mereka akan keluar membawa ilmu, adab, pengalaman, dan nilai yang telah ditanamkan.
Mereka akan bertemu dunia yang tidak selalu ideal.
Bertemu orang yang berbeda keyakinan. Bertemu lingkungan kerja yang penuh tekanan.
Bertemu godaan. Bertemu kegagalan. Bertemu kesuksesan. Dan di sanalah pendidikan pesantren mendapatkan ujian sesungguhnya.
Itulah mungkin Islam ala Santrivation.
Islam yang punya akar, tetapi tidak takut tumbuh. Islam yang serius dalam prinsip, tetapi tidak kehilangan keceriaan.
Islam yang menjadikan iman sebagai fondasi, ilmu sebagai bekal, mental sebagai kekuatan, dan masa depan sebagai ruang untuk berkarya.
Sebab menjadi santri bukan berarti mengecilkan mimpi.
Justru mungkin, pesantren adalah tempat pertama kita belajar bahwa hidup ini terlalu berharga jika hanya dijalani untuk diri sendiri.
Iman mantap. Mental kuat. Masa depan hebat.
Barangkali, itulah semangat SANTRIVATION.
