Gelora dan Asa Sepak Bola dari SSB Gama Yogyakarta

Tulisan dari Mei Salindri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hobi sepak bola tidak surut dimakan oleh waktu. Olahraga ini sangat populer di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Banyak klub dan perkumpulan yang membuka sekolah sepak bola mulai dari tingkat dasar sampai usia remaja untuk menggelorakan asa anak-anak pada sepak bola.
Gelora sepak bola juga membara di Yogyakarta. Menyalakan gelora itu, berdirilah Sekolah Sepak Bola (SSB) yang berfungsi untuk mengembangkan bakat anak dalam sepak bola. Salah satu klub sepak bola yang ada di Yogyakarta adalah SSB Gama yang didirikan oleh Prof. Dr. Ismangoen seorang dokter anak yang gila sepak bola. Sekolah sepak bola Gama berdiri pada tahun 1997, meruapakan salah satu SSB tertua di Yogyakarta. Klub yang didirikan juga memiliki murid yang sangat semangat untuk mencapai kesuksesannya di masa depan. SSB Gama sudah sukses menjadi sepak bola Indonesia khusunya di Yogyakarta.
Dalam membangun Sekolah Sepak Bola (SSB) mempunyai visi dan misi yang di miliki. Visi SSB Gama Yogakarta “Sebagai wadah penampung hobi anak-anak di Yogyakarta”. Misi SSB Gama “Dapat mempersatukan anak-anak dari beberapa suku dan agama yang ada di Yogyakarta, sebagai media bagi mantan prmain SSB Gama atau mantan pemain PSIM Yogyakarta untuk mengajak anak-anak Yogyakarta bermain bola dengan baik dan benar. Sebagai bentuk nyata bahwa pemain SSB Gama dan PSIM itu ada”.
Semangat positif anak-anak SSB Gama Yogyakarta untuk latihan menjadi pemain sepak bola sangat luar biasa. SSB Gama yang sering melakukan latihan sepak bola di Lapangan Kridosono, Yogyakarta pukul 15.00 WIB.
“Latihannya di sini seminggu 3 kali hari Selasa Kamis dan Minggu kalau hari Minggu latihannya pagi hari sedangkan Selasa dan Kamis sore hari, ” tutur Angger Yudistira, pemain SSB Gama, Kamis (16/04/20). Melihat mereka berlatih banyak tantangan yang dihadapi oleh murid SSB Gama namun mereka tak pernah lelah berlatih untuk meraih cita-cita yang diinginkan menjadi pemain sepak bola.
SSB Gama dari tahun ke tahun dalam pembimbingan menghasilkan pemain terbaik dan berkualitas dari usia dini, remaja maupun pemain senior. Kelompok dalam usia 14 tahun SSB Gama memiliki prestasi yang membanggakan dengan bergabung bermain bersama Timnas Indonesia. Sedangkan kelompok usia 19 tahun juga mencapai keberhasilan dalam tingkat nasional. Keberhasilan dalam pembinaan murid ini dilakukan dengan kerjasama para pelatih SSB Gama.
“Mewujudkan murid-murid selalu bergembira menghadapi persaingan atau kopetensi dalam pelatihan sepak bola tanpa beban merupakan langkah utama SSB Gama untuk mewujudkan masa depan yang terbaik,” jelas, Susilo Harso pelatih sepak bola SSB Gama dengan penuh harap.
Kerja sama dengan rasa gembira dan selalu rendah hati berani mengorbankan waktu pikiran tenaga merupakan ciri khas dari SSB Gama, maka dari itu murid-murid dari SSB Gama selalu diberi arahan untuk selalu semangat dalam mewujudkan cita-citanya sebagai pemain sepak bola. Pelatih SSB Gama juga memberikan ajaran menjadi pemain yang hebat. Yakinkan diri selalu percaya diri untuk mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi kenyataan maka dari itu berlatih sepak bola dengan baik dan teratur akan membuat langkah menjadi lebih kuat. Meski pertemuan hanya seminggu tiga kali, para siswa diminta selalu berlatih di rumah sendiri supaya tidak lupa dengan apa yang diberikan di lapangan.
Tugas pelatih profesional diperlukan sebagai keberhasilan proses pembinaan. Atas dasarnya keberhasilan atau kegagalan pembinaan usia dini tergantung dari kemampuan pelatih. Supaya proses pembinaan berjalan lancar selain program latihan, sarana dan prasarana memadai, metode melatih yang tepat, juga dibutuhkan pelatih berkualitas yang dapat mengenal karakteristik anak dari aspek fisik maupun psikologis. Di samping itu harus memberi pemahaman dasar yang kuat tentang bermain sepak bola yang benar termasuk dalam membangun sikap, kepribadian dan perilaku yang baik. Semoga dengan adanya sekolah sepak bola ini bisa menambah semangat dan dapat mengembangkan pendidikan sepak bola lebih baik untuk dunia sepak bola Indonesia.
Mei Salindri, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan.
