Konten dari Pengguna

Grand Narratives :Cara Melihat Dunia Secara Utuh

Meicky Shoreamanis Panggabean

Meicky Shoreamanis Panggabeanverified-green

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pelita Harapan. Tulisan bisa dilihat di https://linktr.ee/meicky.shoreamanis

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meicky Shoreamanis Panggabean tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tulisan terakhir dari lima tulisan.

Grand Narratives adalah lensa untuk melihat dunia dalam empat tahap. Setelah menelusuri Creation, Fall, Redemption, dan Restoration, tulisan ini menata semuanya menjadi satu pandangan utuh.

Dalam teologi Kristen, empat tahap ini membentuk cerita besar tentang dunia yang dimulai dengan kebaikan, disusul dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa, diikuti dengan pemulihan yang dilakukan Yesus Kristus, dan diakhiri dengan diperbaruinya ciptaan yang tadi rusak.

Alkitab memberikan Grand Narratives yang sempurna. Namun, di luar kisah utama itu, dalam realitas dunia, di setiap bidang kehidupan, dan pada cerita-cerita kecil yang ada di dalamya, tahap-tahap setelah Creation tidak selalu berjalan mulus. Ada ketidakteraturan, ketegangan dan penyimpangan.

Ada bagian yang lama sekali berada di tahap Creation, ada yang betah terjebak dalam Fall, dan ada yang gagal di fase Redemption. Ada yang berhasil masuk ke dalam proses Restoration namun ada juga yang berhenti di tahap Fall.

Grand Narratives dan Dunia Pendidikan: Pendidikan Inklusif

Contoh yang jelas dari dunia pendidikan dapat dilihat dalam gerakan inklusi. Pada masa Creation, tokoh pendidikan seperti Itard dan Séguin menegaskan bahwa setiap anak dapat belajar.

Fall terjadi ketika banyak negara mulai membangun sistem segregasi; Inggris bahkan mengategorikan sebagian anak sebagai kaum yang tak bisa dididik. Di Amerika Serikat, ratusan ribu anak difabel ditempatkan dalam asrama yang mirip penampungan pengungsi: minim fasilitas, lokasinya jauh dari mata masyarakat, dan kebutuhan murid diabaikan dalam semua aspek.

Arah Redemption mulai tampak saat Deklarasi Salamanca dikeluarkan tahun 1994. AdapunIndonesia dalam hal pendidikan inklusif 'mencanangkan' tonggak Redemption melalui UU 20/2003 dan Permendiknas 70/2009. Upaya menuju Restoration juga terasa lewat lahirnya Universal Design for Learning dan Individualized Education Program.

Pemulihan jauh dari sempurna. Masih sangat banyak institusi pendidikan yang mengabaikan inklusi. Namun, jika menggunakan helicopter view, kita akan lihat bahwa cerita sedang berjalan ke arah yang tepat.

Grand Narratives dan Dunia Film: Sejarah Sinema Indonesia

Perfilman Indonesia juga menunjukkan pola serupa. Di awal 1950-an, film nasional lahir dari idealisme kebangsaan, dimulai dengan film Usmar Ismail. Memasuki 1970-an, industri sinema mengalami Fall saat eksploitasi tubuh perempuan mendominasi layar.

Arah Redemption terlihat ketika Masyarakat Film Indonesia menggugat kemenangan film Ekskul pada FFI 2006 karena dugaan plagiat. Gerakan moral ini membuka jalan menuju Restoration. Kebangkitan film nasional terjadi menjelang tahun 2010 melalui karya seperti Petualangan Sherina dan Denias.

Tahap Restoration belum tuntas tetapi perjalannya menuju ke jalan yang menjanjikan.

Dua Catatan Penting bagi Komunitas Kristen

Pertama, bagi Kristiani empat tahap Grand Narratives dalam berbagai bidang bisa kita pahami dengan lebih baik jika kita menempatkannya dalam bingkai iman. Creation berdiri di atas keyakinan bahwa dunia dimulai dalam kebaikan, “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kejadian 1:31).

Fall mengingatkan bahwa struktur sosial dapat menyimpang, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).

Redemption menunjukkan arah pemulihan, “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10).

Restoration menegaskan bahwa dunia sedang diarahkan pada pembaruan, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Wahyu 21:5).

Hal lain, mungkin kelak kita dihadapkan pada kesempatan untuk menguraikan Grand Narratives, entah dalam format tulisan, forum diskusi atau arena debat. Area pembahasan beragam, bisa tentang olahraga, ekonomi, atau apapun.

Di sini kita sampai pada catatan kedua:hindari penggunaan ayat secara serampangan. Banyak yang terjebak pada metode cocoklogi saat memaknai iman. Godaan untuk menempelkan ayat sering muncul.

Di koloseum Roma tak terhitung banyaknya kristiani yang dulu dimakan singa karena mempertahankan substansi Kitab Suci. Alkitab berdiri di atas darah para martir. Jadi, perlakukanlah ayat Kitab Suci dengan hormat.

Ayat bukan dekorasi rohani untuk membuat orang terkesan. Iman menuntut kejernihan, bukan pencitraan. Jika pembahasan Grand Narratives dilakukan dalam bingkai iman kristen, ayat Alkitab memang wajib ada namun penggunaanya harus kontekstual dan relevan.

Ayat adalah teks. Penjabaran teks hanya bisa disebut tepat jika disertai konteks entah itu konteks budaya, pendidikan, ekonomi, sosiologis, dan sebagainya.

Hindari penggunaan teks Kitab Suci tanpa konteks. Mengutip ayat di luar kerangka makna yang semestinya tidak menunjukkan bahwa kita religius. Itu menunjukkan bahwa kita tidak tahu.

Ngomong-ngomong, apakah penggunaan banyak ayat Alkitab menjadikan seseorang 'sangat Kristen'? Kesalehan yang dipentaskan layak dicurigai. Pengalaman saya menunjukkan kerap mereka yang tampil kudus adalah orang yang banyak menyembunyikan sesuatu.

Ada gaya beriman yang mirip pertunjukan, bukan perjalanan rohani. Orang yang gemar mengutip jargon rohani atau berpenampilan suci tidak selalu menghadirkan kasih. Banyak yang justru nir empati dan hatinya sebeku es batu.

Mungkin ini terjadi karena mereka merasa punya moral license. Seseorang yang 'cukup baik' dalam aspek ritual seperti rajin ibadah atau aktif di gereja tanpa sadar bisa merasa memiliki izin moral untuk melanggar.

Mereka dekat dengan praktik keagamaan namun mengabaikan etika:empati, kejujuran, dan tanggung jawab. Kesalehan berubah menjadi tameng untuk menghindari evaluasi dan akuntabilitas.

Percayalah, pengalaman saya bukan kasus tunggal. Banyak yang memiliki pengalaman serupa karena sebagian Kristiani memilih menjadi a lying hypocrite, bukan an honest sinner.

Catatan Penutup: Sebuah Perjalanan Pribadi

Tulisan ini dipublikasikan untuk memenuhi keperluan internal yang mencakup kebutuhan beberapa komunitas berskala sangat kecil. Artikel ini bukan hasil riset melainkan karya yang lahir dari personal quest dan academic journey penulis.

Banyak gagasan muncul dari bacaan, perbincangan dengan beberapa pendeta yang berlatar belakang formal teologi, lamunan acak, dan pengalaman sehari-hari. Fungsi tulisan ini bukanlah untuk meluaskan wawasan akademik pembaca melainkan untuk mengajak kita semua melihat dunia melalui struktur cerita yang relatif utuh dan lebih bermakna.