Konten dari Pengguna

Grand Narratives dan Tahap Creation: Melihat Awal yang Baik dalam Cerita Kita

Meicky Shoreamanis Panggabean

Meicky Shoreamanis Panggabeanverified-green

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pelita Harapan. Tulisan bisa dilihat di https://linktr.ee/meicky.shoreamanis

·waktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meicky Shoreamanis Panggabean tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tulisan ini adalah bagian pertama dari lima tulisan.

Ketika kita membahas film, pendidikan, atau isu sosial, perhatian kita sering langsung terfokus pada masalah atau konflik: krisis moral, kekerasan, ketidakadilan, atau kegagalan sistem. Padahal, manusia memiliki kerangka besar untuk memahami dunia secara utuh, bukan hanya dari serpihan konflik.

Dunia dibangun di atas cerita. We are all story tellers. Kerangka besar kisah itu sering disebut Grand Narratives.

Grand Narratives membantu kita menjawab empat pertanyaan dasar:

(1) Tujuan awal sesuatu diciptakan

(2) bagaimana kerusakan muncul

(3) bagaimana pemulihan terjadi

(4) arah pergerakan setelah pemulihan

Grand Narratives adalah lensa untuk bercerita yang dipakai oleh beberapa tradisi pemikiran. Teologi Kristen mengekspresikannya melalui pola Creation–Fall–Redemption–Restoration. Dalam mitologi Yunani, Hesiod menyusun Five Ages of Man: Golden Age (harmoni awal), Silver & Bronze Ages (kemerosotan moral), Heroic Age (pemulihan parsial), hingga Iron Age (kemerosotan final).

Meskipun berbeda fondasi dan isi, keduanya menunjukkan pola serupa: manusia memahami realitas melalui cerita yang memiliki awal, krisis, dan arah tujuan.

Tulisan ini adalah bagian pertama dari lima tulisan. Empat tulisan pertama akan membahas rangkaian Creation, Fall, Redemption, dan Restoration. Adapun tulisan terakhir akan menampilkan contoh aplikatif dari menggunakan Grand Narratives saat memaknai dunia.

Tahap Creation: Awal yang Baik Sebelum Segalanya Retak

Tahap Creation menggambarkan keyakinan bahwa dunia bermula dalam keadaan baik, teratur, dan penuh potensi. Dalam kerangka Kristen, konteks yang mengikat saya saat membuat tulisan ini adalah mengajar di sebuah universitas Kristen, Creation berarti dunia diciptakan dengan tujuan tertentu. Akan tetapi, intuisi tentang “awal yang baik” ini tidak hanya muncul dalam teologi, ia hadir di semua cerita manusia.

Marilah lihat bagaimana film Indonesia memulai narasinya.

Dalam Keluarga Cemara, cerita dimulai dari rumah yang hangat dan relasi keluarga yang stabil. Dunia kecil ini bukan dunia tanpa masalah, tetapi ia tampil sebagai ruang kebaikan tempat kasih, moralitas, dan ketulusan saling menopang.

Justru karena ada kebaikan awal inilah, kebangkrutan keluarga dan tekanan hidup yang muncul kemudian terasa sebagai retakan dari sesuatu yang sejak awal diyakini baik. Penonton peduli terhadap konflik karena mereka sudah diperkenalkan pada harmoni awalnya.

Tahap Creation dalam Dunia Pendidikan

Jika kita menelusuri sejarah sekolah, hampir semua sistem pendidikan lahir dari niat baik. Monastic schools di Eropa pada awal abad pertengahan didirikan dari kerinduan untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika.

Di Indonesia, sekolah-sekolah pasca-kemerdekaan dibangun untuk mencerdaskan bangsa, memulihkan martabat bangsa, dan menanamkan harapan kolektif. Banyak lembaga pendidikan dibangun dari keinginan sederhana untuk membentuk manusia yang utuh.

Dunia pendidikan, seperti halnya film, juga memiliki tahap Creation: sebuah awal yang lahir dari idealisme sebelum realitas sosial dan politik membuat sistemnya menjadi rumit bahkan buruk. Dengan melihat Creation, kita dapat bertanya dengan jernih: apa tujuan awalnya, sebelum kita menilai penyimpangannya?

Mengapa Tahap Creation Penting?

Creation memberi kita gambaran tentang bagaimana sesuatu seharusnya. Kita hanya bisa menyebut sebuah sistem menyimpang atau suatu pelanggaran sedang terjadi jika kita tahu bentuk idealnya.

Analoginya begini, kita hanya dapat menilai sebuah sepatu Adidas itu palsu ketika kita memahami karakteristik Adidas asli yang meliputi detil desain, kualitas bahan, jahitan, dan logonya. Adidas asli adalah analogi dari Creation: kondisi awal yang otentik, bernilai, dan memiliki integritas.

Tahap Fall adalah kondisi sepatu ketika dipalsukan: bahan diganti, kualitas diturunkan, atau logo dimanipulasi. Di tahap ini, kerusakan masuk dan keotentikan hilang.

Tahap Redemption adalah proses mengembalikan sepatu tersebut ke standar aslinya: memperbaiki kualitas, memastikan bahan yang benar, atau membersihkan identitas yang rusak.

Pada tahap akhir yaitu Restoration, kita bertanya: setelah sepatu itu diproduksi ulang dan kembali ke bentuk semula yang original, untuk apa ia dipakai? Agar bisa berlari dengan lebih ringan? Tampil gaya? Menjaga performa? Restoration bicara tentang arah dan tujuan dari sesuatu yang dipulihkan.

Perlu diingat bahwa analogi tidak pernah mampu menjelaskan realitas moral atau spiritual secara sempurna. Ia bukan replika dari kebenaran aslinya. Namun, analogi memberi kita gambaran supaya lebih mudah memahami.

Analogi Adidas ini bekerja sebagai penjelasan bantu, bukan model teologis penuh. Tanpa mengetahui “yang asli”, kita tidak dapat mengenali kerusakan, memulihkan nilai serta membayangkan masa depan yang lebih baik.

Catatan Penutup: Sebuah Perjalanan Pribadi

Tulisan ini dipublikasikan untuk memenuhi keperluan internal yang mencakup kebutuhan beberapa komunitas berskala sangat kecil. Artikel ini bukan hasil riset melainkan karya yang lahir dari personal quest dan academic journey penulis.

Banyak gagasan muncul dari bacaan, perbincangan dengan beberapa pendeta yang berlatar belakang formal teologi, lamunan acak, dan pengalaman sehari-hari. Fungsi tulisan ini bukanlah untuk meluaskan wawasan akademik pembaca melainkan untuk mengajak kita semua melihat dunia melalui struktur cerita yang relatif utuh dan lebih bermakna.