Pancasakti Run 2025: Kaki Berlari, Pikiran Melambat

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pelita Harapan. Tulisan bisa dilihat di https://linktr.ee/meicky.shoreamanis
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Meicky Shoreamanis Panggabean tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Minggu pagi, 20 Juli 2025, saya berdiri di garis start Pancasakti Run 2025. Kegiatan ini diselenggarakan dengan sangat baik: suasananya meriah, tertib, doorprize melimpah, race pack (tas berisi kaos dan barang-barang dari sponsor yang diberikan penyelenggara kepada peserta) terisi penuh, dan panitia bekerja dengan sigap.
Saya baru mulai kembali rutin berolahraga di awal Juni 2025 setelah satu tahun libur akibat cedera. Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti 5K. Meski hanya lima kilometer, saya pulang dengan kepala penuh renungan. Ternyata, saat tubuh dipaksa bergerak cepat, justru pikiran saya menemukan ruang untuk melambat, dalam arti yang baik.
Tentang Fotografer dan Dorongan Eksternal
Saya menggunakan aplikasi interval saat di lintasan: 30 detik berlari, 1 menit jalan cepat. Namun, saat saya melihat fotografer berjejer di sisi jalan, walau aplikasi menunjukkan saya seharusnya berjalan, terasa sekali ada spontanitas untuk kembali berlari. Memang tidak selalu, mungkin hanya sekitar 50–60% dari pertemuan dengan mereka yang benar-benar membuat saya mempercepat langkah.
Saya tahu mereka tidak peduli apakah saya berlari atau berjalan, tapi saya merasakan munculnya motivasi untuk berlari hanya karena ‘ada yang melihat’. Dorongan eksternal membantu kita untuk mampu bergerak lebih jauh dari yang kita kira. Tak perlu malu mengakuinya:Kadang kita butuh mata yang melihat, pujian yang memacu, atau bahkan sekadar kamera dari kejauhan.
Tentu saja, hidup tak bisa dijalani hanya dengan motivasi dari luar. Dulu saya tergabung di Step Up, aplikasi yang melacak jumlah langkah dan menampilkan peringkat harian dalam grup. Oleh tempat saya bekerja, aplikasi ini wajib digunakan sekitar 2 bulan. Saya berkali-kali berada di urutan pertama di unit saya dan teman-teman kerap memuji.
Akhirnya, setelah durasi kewajiban usai, saya keluar dari grup karena tak mau bergantung pada pengakuan eksternal. Saya ingin berolahraga karena saya merasa perlu, bukan karena ingin nama saya terus bercokol di atas lalu disanjung.
Posisi dan pujian adalah efek, bukan tujuan.
Pelajaran dari Pacer
Di acara ini, saya juga belajar dari pacer yaitu pelari yang bertugas menjaga tempo. Misalnya, jika saya ingin menyelesaikan 5 km dalam waktu 40 menit, saya cukup mengikuti pacer yang memang berlari di kecepatan tersebut. Jika mengikutinya, dijamin target akan tercapai.
Keberadaan pacer menyadarkan saya bahwa dalam hidup kita sering butuh patokan ritme. Kita juga perlu ‘pacer’ yang membantu kita untuk stabil entah itu dalam aspek nilai, iman, kebiasaan baik, atau orang-orang bijak yang memberi teladan.
Namun, ada satu hal penting yang harus dicermati: Pacer hanya bisa membantu jika kita memilih untuk mengikutinya. Ia tidak akan memaksa. Kita yang harus menyesuaikan langkah. Dalam hidup, panutan hanya bermakna jika kita memilih untuk menngikuti atau meneladani jejaknya, bukan sekadar mengaguminya.
Tentang Stres
Saya mulai rutin berolahraga sejak mengalami stres di awal Juni. Sebagai ibu, saya punya tanggung jawab moral untuk menunjukkan kepada anak saya bahwa ada cara yang sehat untuk menghadapi tekanan hidup. Dulu, saya menjalani stres dengan rebahan berminggu-minggu dan menjadikan makanan sebagai pelarian. Bertambahnya usia membuat saya sadar bahwa kalau saya sakit, keluarga ikut terdampak: merawat diri adalah bagian dari tanggung jawab sosial.
Lewat keikutsertaan saya dalam acara ini, saya ingin menunjukkan kepada anak saya bahwa ibunya bukan hanya bisa mengatasi stres namun bahkan bisa berkembang di masa sulit.
Ketika Cara Bernapas Harus Dipelajari
Ikut 5K kembali menunjukkan kepada saya bahwa hidup memang tak bisa diprediksi. Saya tidak menyangka bahwa saya akan ada pada titik membuka YouTube dan mencari video tentang cara bernapas. Saat mulai berpikir untuk ikut 5K, saya sungguh-sungguh mengetik: how to breathe while running.
Dalam hidup, bahkan cara bernapas pun bisa dipelajari ulang. Kadang kita mengabaikan hal dasar. Akan tetapi, saat kita mulai melangkah keluar dari zona nyaman, kita menyadari bahwa hal-hal yang selama ini tampak sepele justru bisa menjadi penentu keberhasilan. Bernapas, yang sehari-hari dilakukan secara otomatis, ternyata bisa menjadi tantangan saat tubuh diajak bergerak lebih dari biasanya.
Terakhir…
Saya berlari, tepatnya jalan cepat, hampir setiap hari. Aktivitas yang mewajibkan tubuh bergerak ternyata membuka ruang kontemplatif yang jarang kita miliki dalam kehidupan yang serba tergesa.
Mau coba?
