Konten dari Pengguna

Up-Reskilling Guru Kejuruan: Bukan Lagi Pilihan, melainkan Kebutuhan

Meiji Angelia Kaparang

Meiji Angelia Kaparang

Guru Perhotelan di SMK Katolik St. Familia Tomohon yang percaya pendidikan harus relevan dengan dunia nyata .

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meiji Angelia Kaparang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan dunia industri yang begitu cepat membawa perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan kejuruan. Dunia kerja kini menuntut lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan dasar, tetapi juga keterampilan yang relevan, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan industri terkini. Di sinilah peran guru kejuruan menjadi sangat krusial. Namun, muncul satu pertanyaan penting: apakah guru sudah cukup siap menghadapi perubahan ini?

Jawabannya terletak pada satu hal penting, yaitu up-re skilling.

Dokumentasi Pribadi Kegiatan Up-Reskilling Tahap 2 yang diselenggarakan oleh BBPPMPV dibawah naungan Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Makassar 2026
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi Kegiatan Up-Reskilling Tahap 2 yang diselenggarakan oleh BBPPMPV dibawah naungan Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Makassar 2026

Up-re skilling adalah proses meningkatkan dan memperbarui keterampilan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Bagi guru kejuruan, ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Guru tidak hanya dituntut untuk mengajar, tetapi juga harus mampu menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia industri.

Dalam praktiknya, banyak guru kejuruan menghadapi tantangan. Kurikulum terus berubah, teknologi berkembang pesat, dan kebutuhan industri semakin spesifik. Jika guru tidak terus belajar, maka akan terjadi kesenjangan antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang dibutuhkan di dunia kerja.

Sebagai contoh, dalam bidang perhotelan, standar pelayanan terus berkembang mengikuti tren global. Penggunaan sistem digital, komunikasi dengan tamu internasional, hingga pelayanan berbasis pengalaman (experience-based service) menjadi hal yang semakin penting. Guru yang tidak melakukan up-re skilling akan kesulitan memberikan gambaran nyata kepada siswa tentang dunia kerja yang sebenarnya.

Dokumentasi pribadi kegiatan Up-Reskilling Tahap 2 Perhotelan (FDA). Makassar 2026

Up-re skilling juga memberikan dampak langsung terhadap kualitas pembelajaran. Guru yang terus belajar cenderung lebih kreatif, inovatif, dan percaya diri dalam mengajar. Mereka mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, menarik, dan relevan. Hal ini tentu akan meningkatkan motivasi belajar siswa.

Tidak hanya itu, guru yang aktif meningkatkan keterampilan juga menjadi contoh nyata bagi siswa. Mereka tidak hanya mengajarkan teori tentang belajar sepanjang hayat, tetapi juga mempraktikkannya. Ini adalah pembelajaran karakter yang sangat kuat.

Sebagai seorang guru kejuruan, saya merasakan langsung bagaimana tuntutan untuk terus beradaptasi menjadi bagian dari keseharian. Dunia tidak menunggu kita siap. Justru kitalah yang harus mengejar ketertinggalan agar tetap relevan.

Akhirnya, up-re skilling bukan hanya tentang meningkatkan kemampuan diri, tetapi juga tentang tanggung jawab moral terhadap siswa. Karena di tangan guru kejuruanlah, masa depan tenaga kerja terampil Indonesia dibentuk. Jika guru berhenti belajar, maka siswa akan tertinggal. Namun jika guru terus berkembang, siswa akan melangkah lebih jauh.