Konten dari Pengguna

Anak Muda Menganggur di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meilandry Giovani eflin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh :

Melandri Geovani Eflin Hutagalung, Mahasiswa prodi Manajemen Universitas Pamulang (UNPAM)

Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menyediakan lapangan kerja bagi generasi muda. Di tengah perkembangan ekonomi nasional, kesenjangan keterampilan dan kebutuhan dunia kerja menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu indikator penting untuk melihat perkembangan perekonomian nasional. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti seluruh masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara merata. Salah satu persoalan yang masih perlu diperhatikan adalah kesulitan anak muda dalam mendapatkan pekerjaan.

Bagi banyak anak muda, menyelesaikan pendidikan merupakan langkah awal untuk membangun masa depan yang lebih baik. Akan tetapi, mendapatkan pekerjaan setelah lulus sekolah atau perguruan tinggi tidak selalu mudah. Persaingan yang ketat, keterbatasan pengalaman kerja, serta persyaratan keterampilan yang semakin beragam menjadi tantangan bagi para pencari kerja.

Pengangguran Usia Muda Masih Menjadi Tantangan

Ilustrasi pengangguran akibat terbatasnya lapangan kerja di Indonesia. Sumber: Ilustrasi AI

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 4,85 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka pada kelompok usia 20–24 tahun mencapai 14,35 persen dan kelompok usia 15–19 tahun sebesar 23,34 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengangguran masih menjadi tantangan besar bagi penduduk usia muda yang masuk dalam angkatan kerja.

Tingkat pengangguran terbuka merupakan persentase penganggur dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja, bukan persentase dari seluruh penduduk dalam kelompok umur tersebut. Meskipun tingkat pengangguran nasional berada di bawah angka kelompok usia muda, perbedaan ini menunjukkan bahwa proses memasuki dunia kerja masih menjadi tantangan bagi generasi muda. (Badan Pusat Statistik, 2026).

Mengapa Anak Muda Sulit Mendapatkan Pekerjaan?

Salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara keterampilan pencari kerja dan kebutuhan perusahaan. Perkembangan teknologi membuat banyak pekerjaan membutuhkan kemampuan digital, komunikasi, pemecahan masalah, dan keterampilan teknis tertentu. Anak muda yang belum memiliki keterampilan tersebut dapat menghadapi kesulitan ketika bersaing dengan pelamar lain.

Selain itu, sebagian perusahaan mencari calon pekerja yang sudah memiliki pengalaman. Kondisi ini dapat menjadi hambatan bagi lulusan baru yang belum pernah bekerja secara profesional. Mereka membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan pengalaman, tetapi pada saat yang sama sering kali diminta memiliki pengalaman sebelum diterima bekerja.

Terbatasnya kesempatan kerja di bidang tertentu juga dapat memperbesar persaingan. Ketika jumlah pencari kerja lebih besar daripada lowongan yang tersedia, tidak semua pelamar dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan pendidikan dan kemampuan mereka.

Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia

Pengangguran anak muda tidak hanya berdampak pada kehidupan individu, tetapi juga berkaitan dengan kondisi ekonomi makro. Ketika seseorang belum mendapatkan pekerjaan, pendapatannya menjadi terbatas. Hal tersebut dapat memengaruhi kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, dan membeli barang maupun jasa.

Dalam ekonomi makro, konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen utama dalam perhitungan produk domestik bruto (PDB) melalui pendekatan pengeluaran. Jika banyak rumah tangga mengalami keterbatasan pendapatan, kemampuan konsumsi mereka dapat ikut tertekan. Apabila kondisi tersebut berlangsung luas, dampaknya dapat memengaruhi aktivitas usaha dan permintaan barang maupun jasa.

Pengangguran juga berpotensi menyebabkan keterampilan lulusan baru tidak berkembang secara optimal karena mereka belum mendapatkan kesempatan untuk menerapkannya di dunia kerja. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat pemanfaatan sumber daya manusia yang seharusnya menjadi salah satu kekuatan ekonomi Indonesia.

Namun, pengaruh pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi tidak berdiri sendiri. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan produktivitas, investasi, perkembangan dunia usaha, dan kebijakan pemerintah.

Langkah yang Dapat Dilakukan

Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah perlu mendorong terciptanya lapangan kerja yang produktif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dukungan terhadap sektor usaha yang mampu menyerap banyak tenaga kerja, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dapat menjadi salah satu langkah yang perlu diperkuat.

Lembaga pendidikan juga perlu memperhatikan kesesuaian materi pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja. Program magang, pelatihan keterampilan, sertifikasi kompetensi, dan kerja sama dengan perusahaan dapat membantu mahasiswa serta lulusan baru mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja.

Di sisi lain, generasi muda perlu meningkatkan kemampuan yang relevan dengan perkembangan industri. Keterampilan digital, komunikasi, kemampuan bekerja sama, dan pemecahan masalah dapat menjadi nilai tambah ketika melamar pekerjaan. Kewirausahaan juga dapat menjadi alternatif untuk menciptakan sumber penghasilan sekaligus membuka peluang kerja bagi orang lain.

Upaya tersebut perlu didukung oleh informasi lowongan kerja yang mudah diakses serta proses perekrutan yang transparan agar kesempatan kerja dapat dijangkau oleh lebih banyak pencari kerja.

Pertumbuhan Ekonomi Perlu Diikuti Kesempatan Kerja

Pengangguran anak muda merupakan persoalan yang perlu dilihat sebagai bagian dari tantangan pembangunan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang baik tidak hanya diukur melalui peningkatan PDB, tetapi juga perlu diperhatikan dari kemampuannya menciptakan pekerjaan yang layak dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu, pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan perlu bekerja sama untuk memperkecil kesenjangan antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan industri. Dengan kesempatan kerja yang lebih luas dan kualitas sumber daya manusia yang semakin baik, generasi muda dapat berperan lebih besar dalam mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan ekonomi bukan hanya tentang seberapa besar ekonomi tumbuh, tetapi juga tentang seberapa banyak masyarakat memperoleh kesempatan untuk berkembang dan meningkatkan taraf hidupnya.