Konten dari Pengguna

Infinix Tetap Survive di Indonesia, Ini Strateginya

Meilia Wuryantati

Meilia Wuryantati

Blogger, ibu rumah tangga, freelancer

·waktu baca 2 menit

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meilia Wuryantati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta- Tetap bertahan untuk berinvestasi di Indonesia saat pandemi Covid-19 adalah impian para pemilik perusahaan asing.

Berbagai strategi mereka lakukan untuk tetap survive dan melakukan ekspansi bisnisnya di Indonesia seperti yang di lakukan oleh Infinix.

CEO Infinix Indonesia, Bruno Li, mengungkapkan strategi bertahan di tengah pandemi bagi perusahaan smartphone yang berpusat di Hong Kong ini. "Sama dengan perusahaan lainnya, saat ini kami masih menerapkan kebijakan-kebijakan di perusahaan untuk tetap survive melewati keadaan pandemi ini. Keadaan perekonomian yang menurun secara global, menjadikan perusahaan tidak sengotot sebelumnya. Biasanya bisa ekspansi 20 sampai 30 negara, namun sekarang kita proteksi yang sudah ada saja," jawab Bruno Li.

Dalam menjalankan bisnis seluler secara global, pihaknya juga tetap melakukan kebijakan yang dianjurkan oleh pemerintah di masing-masing negara, yakni menerapkan kegiatan (Work From Home) WFH bagi para karyawan. "Tetap sehat dan terhindar dari Covid-19 merupakan hal yang paling masuk akal dan harus di jalankan untuk saat ini. Kalau pun (Work From Office)WFO, kami tetap menjunjung tinggi prokes dan membatasi personil yang hadir. Berkegiatan di mana pun, tetap harus safety. Kami menyebutnya dengan Working from Safe Place," tandasnya.

Ekspansi Infinix ke Indonesia pada tahun 2015 silam setidaknya sudah menjadi modal bagus untuk memahami karakter pengguna Infinix melalui berbagai seri yang hadir di pasar smartphone. Bahkan, Bruno Li mengaku mulai mengerti pasar Indonesia. Baginya, meski memiliki tantangan tersendiri, Infinix memiliki potensi yang besar untuk tumbuh di Indonesia.

Ia menuturkan bahwa pandemi ini tidak sepenuhnya memberikan dampak buruk. "Karena pandemi ini, orang-orang malah lebih banyak menghabiskan waktunya di smartphone lebih lama daripada sebelumnya," ungkap Bruno.

Ini merupakan keuntungan tersendiri bagi Infinix, karena produk-produk mereka dikenal cukup tangguh dalam hal ketahanan daya baterai.

"Selain berkonsentrasi di harga yang lebih terjangkau dan beberapa fitur lain, kami juga tengah melakukan inovasi dengan menambah kualitas baterai agar lebih andal lagi. Produk sebelumnya memiliki kapasitas baterai yang bisa bertahan selama 3 hari tanpa harus mengisi daya."

Ketertarikannya pada Indonesia juga pernah diterapkan melalui desain produk yang beredar di tanah air. Sebagai contoh, pengakuan Bruno Li saat meluncurkan Infinix Zero 8 yang memiliki motif Batik pada kemasannya. "Kami mencoba untuk masuk lebih dalam kepada unsur lokal, agar produk Infinix dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Tidak hanya berkutat pada desainnya, tapi juga ke unsur experience-nya," pungkas Bruno Li.

Karena hal tersebutlah timnya harus lebih peka terhadap kebutuhan customer di tanah air. "Memenuhi ekspektasi dari customer di Indonesia menjadi hal penting bagi kami,” tutup Bruno Li. (*)