Brain Rot di Era Digital: Ketika Scroll Tanpa Henti Mengubah Cara Kita Berpikir
Tulisan dari Meilie Tampubolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fenomena brain rot mengajak kita melihat kembali bagaimana media sosial mengubah cara kita memproses informasi.

Brain rot menjadi istilah yang belakangan ini sering muncul di media sosial. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan istilah tersebut sampai suatu hari saya berniat mencari referensi tugas kuliah lewat TikTok. Saya mengetik satu kata kunci, lalu muncul video yang menjelaskan materi. Setelah itu saya terus menggulir layar, sampai lama-kelamaan isinya berubah. Ada cuplikan podcast, video lucu, berita viral, rekomendasi makanan, sampai konten yang bahkan tidak saya cari. Saat menutup aplikasi, saya baru sadar hampir satu jam sudah berlalu. Yang membuat saya heran, tujuan awal membuka TikTok justru terlupakan. Pengalaman itu mungkin terdengar sederhana, tetapi saya rasa banyak orang pernah mengalaminya. Kita masuk ke media sosial dengan satu tujuan, lalu keluar dengan puluhan informasi yang sebenarnya tidak sedang kita butuhkan.
Dari situ saya mulai bertanya-tanya. Apakah masalahnya memang karena saya kurang disiplin mengatur waktu, atau ada sesuatu yang berubah pada cara kita mengonsumsi informasi di era digital?
Menurut saya, istilah brain rot menjadi menarik bukan karena terdengar unik, melainkan karena cukup dekat dengan kebiasaan kita sehari-hari. Istilah ini memang bukan diagnosis medis, tetapi sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi konten yang serba cepat hingga kesulitan mempertahankan fokus dalam waktu yang lama.
Saya juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan media sosial. Justru saya sering terbantu oleh TikTok atau Instagram ketika mencari penjelasan materi kuliah, tips desain, sampai informasi terbaru yang sedang ramai dibahas. Dibanding membaca artikel yang panjang, video singkat memang terasa lebih praktis dan mudah dipahami. Mungkin karena alasan itulah saya, dan banyak orang lain, semakin sering memilih media sosial sebagai sumber informasi.
Hal tersebut mengingatkan saya pada Uses and Gratifications Theory yang pernah dipelajari di kelas. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang memilih media tertentu karena ingin memenuhi kebutuhannya, seperti mencari informasi, hiburan, mengisi waktu luang, atau berinteraksi dengan orang lain. Jika dikaitkan dengan kebiasaan saat ini, rasanya teori tersebut masih sangat relevan. Kita membuka TikTok bukan hanya untuk mencari hiburan, tetapi juga karena merasa informasi bisa diperoleh dengan lebih cepat.
Masalahnya, media sosial tidak pernah berhenti pada satu informasi. Setelah satu video selesai, akan muncul video lain yang sama menariknya. Akibatnya, perhatian kita terus berpindah tanpa sempat mencerna apa yang baru saja ditonton. Tanpa disadari, kita menjadi terbiasa menerima informasi dalam potongan-potongan singkat.
Bukan berarti semua konten singkat berdampak buruk. Banyak kreator yang mampu menjelaskan topik rumit menjadi lebih mudah dipahami. Saya sendiri beberapa kali memahami materi kuliah berkat video berdurasi kurang dari satu menit. Namun, saya juga sadar bahwa tidak semua pengetahuan bisa dipahami secara instan. Ada hal-hal yang tetap membutuhkan waktu untuk dibaca, dipikirkan, dan didiskusikan.
Bagi saya, tantangan terbesar di era digital bukan lagi kekurangan informasi. Justru sebaliknya, kita hidup di tengah banjir informasi yang tidak pernah berhenti. Tantangannya adalah bagaimana tetap mampu memilih informasi yang benar-benar penting dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk memahami informasi tersebut secara lebih mendalam.
Karena itu, saya tidak berpikir solusi dari fenomena brain rot adalah berhenti menggunakan media sosial. Teknologi bukan musuh yang harus dihindari. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakannya dengan lebih sadar. Mungkin kita tetap bisa menikmati video hiburan, tetapi di saat yang sama tetap melatih diri untuk membaca buku, menyelesaikan satu artikel tanpa terdistraksi, atau berdiskusi tanpa terus-menerus memeriksa notifikasi.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa media sosial hanyalah alat. Algoritma memang menentukan konten apa yang muncul di layar kita, tetapi kita tetap memiliki kendali atas perhatian kita sendiri. Bagi saya, brain rot bukan sekadar tentang terlalu banyak scrolling. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk fokus, berpikir kritis, dan memahami sesuatu secara mendalam justru menjadi keterampilan yang semakin berharga.

