Ketika Algoritma Lebih Mengenal Kita daripada Diri Sendiri
Tulisan dari Meilie Tampubolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di balik rekomendasi yang terasa personal, ada algoritma yang perlahan membentuk cara kita melihat dunia.
Pernah merasa media sosial seperti bisa membaca pikiran kita? Baru saja mencari rekomendasi skincare, tiba-tiba TikTok dipenuhi video skincare. Setelah beberapa kali menonton konten tentang olahraga, video tentang gym dan pola hidup sehat ikut bermunculan. Bahkan ketika sedang mencari ide liburan, rasanya media sosial langsung tahu tempat-tempat yang sedang kita inginkan.

Awalnya, hal seperti ini tentu terasa menyenangkan. Kita tidak perlu repot mencari karena TikTok, Instagram, YouTube, sampai marketplace seolah sudah tahu apa yang kita suka. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ada sesuatu yang cukup menarik sekaligus sedikit mengganggu: sebenarnya kita yang memilih apa yang ingin kita lihat, atau algoritma yang perlahan mengarahkan apa yang kita sukai?
Pertanyaan ini semakin relevan bagi Generasi Z yang sejak kecil sudah dekat dengan internet dan media sosial. DataReportal dalam Digital 2026: Indonesia mencatat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada Oktober 2025, dengan tingkat penetrasi internet mencapai 80,5 persen. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya ruang digital dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Bagi Gen Z, media sosial bukan lagi sekadar tempat untuk mencari hiburan. Media sosial sudah menjadi tempat mencari informasi, belajar, berkomunikasi, mencari rekomendasi, bahkan menentukan tren. Tidak heran jika algoritma punya peran yang cukup besar dalam menentukan apa yang kita temui setiap hari.
Sebenarnya, cara kerja algoritma tidak sesulit yang dibayangkan. TikTok misalnya, menjelaskan bahwa sistem rekomendasinya mempertimbangkan berbagai hal, seperti video yang kita sukai, bagikan, komentari, tonton sampai selesai, atau justru kita lewati. Durasi kita menonton sebuah video juga menjadi salah satu sinyal yang diperhatikan. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut, sistem kemudian mempelajari konten seperti apa yang kemungkinan besar akan membuat kita tertarik. Dengan kata lain, setiap kali kita menggunakan media sosial, sebenarnya kita sedang "mengajari" algoritma tentang diri kita.
Kita mungkin tidak pernah mengatakan, “Saya suka konten olahraga.” Tapi ketika kita sering menonton video workout, memberi like, atau mengikuti akun fitness, algoritma akan membaca itu sebagai tanda ketertarikan. Setelah itu, konten serupa akan terus bermunculan. Di sinilah batas antara apa yang kita sukai dan apa yang akhirnya kita sukai karena terus melihatnya mulai kabur.
Bukan berarti algoritma sepenuhnya mengendalikan kita. Kita tetap bisa memilih apa yang ingin ditonton atau akun mana yang ingin diikuti. Masalahnya, kita sering lupa bahwa apa yang muncul di linimasa bukanlah gambaran utuh tentang dunia, melainkan hasil dari apa yang sudah disaring oleh algoritma.
Penelitian dalam Jurnal Sarjana Ilmu Komunikasi (2025) terhadap pengguna milenial dan Gen Z di Kota Bengkulu juga menunjukkan bahwa algoritma dapat membentuk filter bubble dan echo chamber, sehingga pengguna lebih sering menerima konten yang sesuai dengan minat atau pandangannya.
Itulah sebabnya dua orang bisa menggunakan aplikasi yang sama, tetapi melihat "dunia" yang berbeda. Satu orang terus melihat konten bisnis, yang lain hiburan, sementara yang lainnya mungkin dipenuhi isu politik. Ketika terus berada di ruang digital yang sama, kita bisa mengira apa yang muncul di layar adalah gambaran kehidupan secara keseluruhan. Padahal, mungkin bukan dunia yang berubah secepat itu. Bisa jadi, hanya layar kita yang semakin dipersonalisasi.
Menurut saya tantangannya bukan bagaimana menghindari algoritma, melainkan bagaimana tetap sadar bahwa kita sedang dipengaruhi olehnya. Algoritma memang membuat internet lebih praktis dimana kita bisa menemukan informasi, hiburan, produk, hingga komunitas yang sesuai dengan minat kita. Tetapi sesekali, kita juga perlu keluar dari apa yang sudah disiapkan untuk kita. Cari sumber lain, ikuti sudut pandang yang berbeda, dan jangan langsung percaya hanya karena informasi yang sama muncul berkali-kali. Sebab, kalau kita terus melihat apa yang dipilihkan untuk kita, lama-lama kita bisa lupa bertanya: “Ini benar-benar pilihan saya, atau hanya sesuatu yang terlalu sering muncul di depan saya?”
Algoritma mungkin semakin mengenal kebiasaan kita. Ia tahu apa yang membuat kita berhenti scrolling dan apa yang membuat kita bertahan di layar. Tetapi mengenal diri sendiri tetap menjadi pekerjaan kita.

