Merasa Baru Scroll Sebentar, Ternyata Sudah Satu Jam? Kenali Doomscrolling
Tulisan dari Meilie Tampubolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah berniat membuka media sosial hanya untuk membalas pesan atau melihat satu video, tetapi saat melihat jam ternyata sudah hampir satu jam berlalu? Rasanya seperti baru beberapa menit, padahal waktu sudah habis begitu saja. Pengalaman seperti ini mungkin terdengar biasa, tetapi ternyata ada istilah yang menggambarkan kebiasaan tersebut, yaitu doomscrolling.

Doomscrolling adalah kebiasaan terus menggulir media sosial atau membaca berbagai informasi di internet tanpa sadar telah menghabiskan banyak waktu. Yang menarik, kita sering kali tidak benar-benar membutuhkan semua informasi yang kita lihat. Namun, rasa penasaran membuat kita terus membuka video berikutnya, membaca komentar, atau melihat unggahan lain yang terus bermunculan di layar.
Menurut saya, kebiasaan ini semakin sering terjadi di kalangan generasi muda. Media sosial sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, baik untuk mencari informasi, hiburan, maupun berinteraksi dengan orang lain. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Masalahnya muncul ketika waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, bekerja, atau beristirahat justru habis karena terus menggulir media sosial tanpa tujuan yang jelas. Salah satu penyebabnya adalah cara kerja media sosial yang memang dirancang agar pengguna betah berlama-lama. Fitur seperti infinite scroll, video yang diputar otomatis, hingga rekomendasi konten berdasarkan kebiasaan pengguna membuat kita terus terdorong untuk melihat unggahan berikutnya. Akibatnya, muncul perasaan "sebentar lagi berhenti", tetapi kenyataannya kita justru semakin lama berada di dalam aplikasi.
Dampaknya mungkin tidak langsung terasa, tetapi perlahan mulai memengaruhi aktivitas sehari-hari. Saya sendiri pernah merasa sulit kembali fokus mengerjakan tugas setelah terlalu lama membuka media sosial. Pikiran menjadi mudah terdistraksi dan pekerjaan yang seharusnya selesai dalam waktu singkat justru tertunda. Kemungkinan besar banyak mahasiswa atau pekerja muda juga pernah mengalami hal yang sama. Selain mengurangi produktivitas, doomscrolling juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Terlalu banyak menerima informasi dalam waktu singkat, terutama berita yang negatif atau konten yang memicu kecemasan, dapat membuat pikiran terasa lelah. Belum lagi jika kita terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di media sosial. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut bisa membuat seseorang merasa tidak cukup baik atau terus merasa tertinggal.
Meski begitu, bukan berarti media sosial harus dijauhi. Platform digital tetap memberikan banyak manfaat jika digunakan dengan bijak. Kita masih bisa belajar hal baru, mengikuti perkembangan informasi, bahkan membangun relasi melalui media sosial. Yang perlu diubah bukanlah medianya, melainkan cara kita menggunakannya. Langkah sederhana seperti membatasi waktu penggunaan media sosial, mematikan notifikasi yang tidak penting, atau menghindari membuka media sosial saat sedang belajar bisa menjadi awal yang baik. Sesekali kita juga perlu memberi jeda dari layar untuk melakukan aktivitas lain, seperti membaca buku, berolahraga, atau sekadar berbincang dengan keluarga dan teman. Cara-cara sederhana ini dapat membantu kita kembali mengendalikan waktu, bukan justru dikendalikan oleh kebiasaan scrolling.
Pada akhirnya, media sosial diciptakan untuk memudahkan kehidupan, bukan mengambil sebagian besar waktu kita. Di era digital, tantangan terbesar bukan lagi sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan cara kita menggunakannya. Karena itu, sebelum kembali menggulir layar tanpa tujuan, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya benar-benar sedang mencari informasi, atau hanya sedang terbawa arus tanpa sadar?

