Konten dari Pengguna

Personal Branding di Era Digital: Kebutuhan atau Tekanan Sosial?

Di balik pentingnya membangun citra diri, ada tekanan untuk selalu terlihat sukses di media sosial.

Personal branding kini menjadi istilah yang semakin akrab di kalangan mahasiswa dan generasi muda. Belakangan ini, saya sering membuka LinkedIn untuk mencari informasi magang dan melihat lowongan pekerjaan. Namun, yang paling sering muncul justru cerita tentang pencapaian orang lain. Ada yang baru menyelesaikan program bootcamp, menjadi pembicara di sebuah seminar, lolos program pertukaran pelajar, hingga diterima bekerja di perusahaan besar. Semuanya terlihat meyakinkan.

SUMBER : https://lpmpp.unej.ac.id/mengoptimalkan-profil-linkedin-untuk-sukses-karier/

Semakin lama melihat unggahan seperti itu, saya sadar bahwa tanpa sengaja saya mulai membandingkan diri sendiri. Saya rasa banyak mahasiswa pernah berada di posisi yang sama. Kita ikut senang melihat keberhasilan orang lain, tetapi di saat bersamaan muncul pertanyaan kecil dalam kepala, "Kalau saya belum punya pencapaian sebanyak itu, apakah saya sudah cukup layak?"

Mungkin terdengar sepele. Namun, pertanyaan seperti itu terus muncul karena media sosial memang memperlihatkan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Ketika satu orang membagikan sertifikat, yang lain mengunggah portofolio. Belum selesai melihat itu, muncul lagi unggahan tentang pengalaman magang atau pencapaian baru. Lama-kelamaan, standar tentang "mahasiswa yang berhasil" seolah ikut dibentuk oleh apa yang sering kita lihat di layar.

SUMBER : https://www-harveedesigns-com.translate.goog/blog/what-is-personal-branding-and-its-importance-in-the-digital-age/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=imgs

Di tengah kondisi seperti itu, istilah personal branding semakin populer. Dosen sering menyarankan mahasiswa untuk mulai membangun portofolio sejak kuliah. Konten kreator membahas pentingnya memiliki citra profesional. Bahkan, tidak sedikit perusahaan yang melihat jejak digital pelamar sebelum proses rekrutmen. Sulit dimungkiri, personal branding memang menjadi salah satu bekal penting di era digital.

Saya juga tidak menolak anggapan tersebut. Menurut saya, memperkenalkan kemampuan kepada orang lain adalah hal yang wajar. Jika memiliki karya, pengalaman organisasi, atau prestasi tertentu, mengapa tidak dibagikan? Bukankah media sosial memang bisa menjadi ruang untuk menunjukkan kompetensi?

Yang mulai saya pertanyakan justru hal lain. Apakah kita membangun personal branding karena memang ingin memperkenalkan kemampuan, atau karena takut terlihat tertinggal dibanding orang lain? Menurut saya, perbedaannya tipis, tetapi dampaknya cukup besar.

Saya pernah berbincang dengan teman yang enggan mengunggah sertifikat pelatihannya ke LinkedIn. Alasannya sederhana. Ia merasa pencapaiannya "biasa saja" jika dibandingkan dengan unggahan orang lain. Padahal, sertifikat itu diperoleh dari hasil belajar yang tidak mudah. Dari situ saya menyadari bahwa media sosial tidak hanya menjadi tempat berbagi pencapaian, tetapi juga bisa menjadi ruang yang membuat seseorang meragukan pencapaiannya sendiri.

SUMBER : https://www-eleapsoftware-com.translate.goog/impression-management-strategies-for-personal-branding/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=imgs

Pengalaman itu mengingatkan saya pada teori Impression Management dari Erving Goffman yang pernah saya pelajari di kelas. Goffman menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, setiap orang cenderung menampilkan sisi terbaik dirinya agar membentuk kesan tertentu di hadapan orang lain. Ketika membaca teori tersebut, saya menganggapnya cukup sederhana. Namun setelah melihat bagaimana orang menggunakan media sosial hari ini, saya baru memahami bahwa teori itu masih sangat relevan.

LinkedIn, Instagram, bahkan TikTok kini menjadi semacam "panggung". Di sana, kita bebas memilih cerita mana yang ingin ditampilkan dan bagian mana yang ingin disimpan. Tidak ada yang keliru dengan itu. Hampir semua orang tentu ingin dikenal melalui hal-hal baik yang pernah mereka lakukan.

Masalahnya muncul ketika kita lupa bahwa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat sertifikatnya, tetapi tidak melihat berapa kali ia gagal sebelum berhasil. Kita melihat kabar diterima bekerja, tetapi tidak tahu berapa banyak lamaran yang sebelumnya ditolak. Akibatnya, tanpa sadar kita membandingkan proses hidup kita dengan hasil akhir yang ditampilkan orang lain.

Fenomena ini juga bisa dijelaskan melalui Uses and Gratifications Theory. Selama ini saya sering memahami teori tersebut sebagai alasan mengapa seseorang memilih media tertentu untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah melihat fenomena personal branding, saya menyadari bahwa media sosial ternyata tidak hanya digunakan untuk mencari hiburan atau informasi. Banyak orang menggunakannya untuk membangun identitas profesional, memperluas relasi, hingga membuka peluang karier. Artinya, personal branding memang memiliki fungsi yang nyata. Persoalannya bukan pada medianya, melainkan pada cara kita memaknainya.

Menurut saya, personal branding seharusnya menjadi hasil dari proses, bukan tujuan utama. Ketika seseorang benar-benar belajar, mencoba hal baru, dan terus mengembangkan diri, citra yang baik biasanya akan terbentuk dengan sendirinya. Sebaliknya, jika yang dikejar hanya kesan, ada kemungkinan citra tersebut tidak bertahan lama karena tidak ditopang oleh kemampuan yang nyata.

Saya juga menyadari bahwa media sosial tidak akan berhenti berkembang. Dunia kerja pun kemungkinan akan semakin banyak memanfaatkan rekam jejak digital dalam proses rekrutmen. Karena itu, membangun personal branding tetap penting. Namun, saya berharap generasi muda tidak merasa harus terus-menerus membuktikan dirinya hanya demi memenuhi ekspektasi yang dibentuk media sosial.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa personal branding bukan tentang siapa yang paling sering mengunggah pencapaian, melainkan siapa yang mampu menunjukkan bahwa apa yang ditampilkan benar-benar sejalan dengan kemampuan yang dimilikinya. Sebab ketika layar ponsel dimatikan dan kesempatan itu benar-benar datang, yang akan berbicara bukan lagi feed Instagram atau profil LinkedIn, tetapi kualitas diri yang sudah dibangun melalui proses yang nyata.